HARTA saat ini telah menjadi faktor utama dalam menilai keberhasilan seseorang. Masyarakat saat ini bisa dikatakan buta karna tidak mempertimbangkan prinsip moral dan spiritual dalam meraih kekayaan yang bersifat duniawi. Ketika dihubungkan dengan kecenderungan manusia untuk menumpuk kekayaan kosong sebagai akibat dari nista terhadap orang tua, fenomena ini menjadi semakin kompleks.
Masalah ini sangat penting karena merusak hubungan pribadi dan mengganggu keseimbangan antara duniawi dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tidak dapat dipungkiri lagi jika banyak yang sampai menghalalkan segala cara untuk mencapai sebuah kesuksesan dengan cepat atau instan.
Tulisan ini bertujuan untuk mengidentifikasi masalah ini karena mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat yang semakin cenderung memprioritaskan materi daripada nilai-nilai inti. Kecenderungan untuk mengejar kekayaan tanpa memberikan perhatian yang cukup pada nilai-nilai keluarga dan kasih sayang terhadap orang tua menciptakan ketidakseimbangan yang merugikan tidak hanya individu tetapi juga jaringan sosial yang lebih luas.
Orang-orang yang percaya bahwa materi dan kekayaan adalah satu-satunya ukuran kesuksesan hidup sering terjebak dalam rantai konsumerisme yang tidak berujung. Konsep ini sering dikaitkan dengan teori psikologi konsumerisme, yang menekankan kecenderungan manusia untuk mencari kepuasan materi sebagai faktor utama yang menentukan keberhasilan hidup. Dampak keluarga dan sosial seringkali diabaikan seiring masyarakat semakin berfokus pada pencapaian materi.
Ada kemungkinan konflik sosial yang berlangsung lama antara orang kaya dan orang miskin. Selain itu, terlalu berfokus pada kekayaan sering mengorbankan nilai-nilai dasar seperti kasih sayang, kebahagiaan keluarga, dan solidaritas. Oleh karena itu, agar masyarakat dapat mencapai kesuksesan yang berkelanjutan dan bermakna, perlu ada keseimbangan yang lebih baik antara pencapaian materi, dampak sosial, dan pencapaian keluarga.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang terlalu tertumpu pada kekayaan material cenderung melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Ketidakpedulian terhadap orang tua dapat dijelaskan dengan teori alienasi sosial. Manusia yang hidup dalam kehidupan materialistis menjadi terasing dari nilai-nilai keluarga, dan nilai moral, melupakan bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga adalah bagian dari kekayaan sejati.
Kondisi ini merugikan bukan hanya individu itu sendiri, tetapi juga keluarga. Dampak yang diterima dalam hak ini juga sampai pada lingkungan masyarakat, dimana Ketika seseorang bertindak tidak baik atau bisa dikatakan durhaka dengan orangtua, maka menimbulkan opini buruk di lingkungan sekitar tempat tinggal bahkan sampai pekerjaan.
Perbaikan budaya memerlukan tindakan konkret. Pendidikan yang menanamkan nilai-nilai kekeluargaan dan kepedulian terhadap orang tua harus ditingkatkan. Paradigma kesuksesan materi harus diubah menjadi kombinasi kesuksesan keuangan dan hubungan keluarga yang baik. Ketika seseorang memiliki hubungan yang baik dengan keluarga maka pastinya memiliki hubungan baik pula dengan masyarakat, bisa dikatakan pendidikan dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga.
Selain itu, efek individualisme yang merajalela di masyarakat modern harus dipertimbangkan. Orang-orang mungkin terjerumus ke dalam individualisme ekstrem, mengabaikan pentingnya dukungan keluarga dalam menghadapi tantangan hidup, karena pemikiran bahwa keberhasilan seseorang diukur dari pencapaian pribadi dan kekayaan mereka sendiri dapat mengganggu nilai-nilai sosial dan solidaritas keluarga. Banyak pribadi yang melupakan jasa dari keluarga terutama orangtua, asumsi Ketika orang tersebut sudah mencapai titik tertinggi maka merasa hebat dan tidak memperdulikan atau memerlukan bantuan pihak lain termasuk keluarga, mereka lupa bahwasanya peran keluarga adalah poin penting dan utama.
Membutuhkan pendekatan holistik untuk mengatasi masalah yang muncul sebagai akibat dari penekanan berlebihan pada materi dan kekayaan. Pendidikan tidak hanya harus meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga harus mengajarkan siswa bagaimana berinteraksi dengan orang lain, memahami orang lain, dan menemukan keseimbangan dalam hidup mereka. Langkah pertama yang sangat penting adalah memperbaiki hubungan dengan keluarga, terutama orang tua.
Keluarga dengan hubungan yang harmonis tidak hanya memberikan dukungan emosional tetapi juga membangun dasar untuk pertumbuhan individu. Saat seseorang dapat memperbaiki hubungannya dengan keluarganya, mereka dapat merasakan makna di dunia nyata, karena banyak orang yang tidak memiliki kesempatan untuk merasakan kasih sayang keluarga. Kita dapat membentuk masyarakat yang menghargai keseimbangan antara keberhasilan material dan kesejahteraan sosial dan keluarga dengan memasukkan pendidikan yang menyeluruh dan memperbaiki hubungan keluarga.
Agama dan spiritualitas juga dapat menjadi landasan yang kuat untuk mengatasi masalah ini. Banyak agama mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan pentingnya membantu sesama, yang dapat membantu membangun masyarakat yang seimbang antara kekayaan material dan kebahagiaan keluarga.
Agama menjadi poin penting untuk memperbaiki kaidah dan akhlak seorang individu, ketika individu tersebut sudah mengetahui bahwa keluarga adalah rezeki yang tidak dapat diuangkan atau menjadi material, maka individu tersebut tidak akan melakukan kesalahan yang bisa dikatakan nista atau durhaka dengan orangtua atau pihak keluarga lainnya. Lalu bisa juga melakukan kegiatan dengan berbagi dengan sesama sehingga paham apa itu arti kebahagiaan dan kekayaan yang sesungguhnya.
Solusi holistik dan berkelanjutan sangat penting untuk mengatasi fenomena manusia seperti keinginan untuk menyimpan harta tanpa manfaat dan perilaku nista terhadap orang tua. Masyarakat dapat melakukan perubahan budaya yang lebih baik dengan memahami pengaruh media, mengatasi individualisme yang berlebihan, dan menggabungkan pendidikan, psikologi, dan spiritualitas. Untuk membentuk masyarakat yang harmonis dan berdaya, masyarakat harus memiliki kesadaran kolektif akan nilai-nilai keluarga serta kesuksesan yang seimbang antara kekayaan material dan kebahagiaan keluarga.
Hubungan interpersonal dan nilai keluarga telah terpengaruh secara negatif sebagai akibat dari pergeseran nilai masyarakat menuju prioritas materi. Perubahan budaya yang lebih besar diperlukan, dengan pendidikan nilai-nilai kekeluargaan dan penggantian paradigma kesuksesan. Identifikasi masalah ini menunjukkan hal itu. Untuk mengatasi perilaku mengejar kekayaan kosong, pendekatan holistik, termasuk perubahan perilaku individual, peran agama, dan pendekatan kesejahteraan emosional, sangat penting.
Oleh karena itu, kita dapat membangun fondasi yang lebih berkesan melalui upaya kolektif masyarakat. Fondasi ini akan menggabungkan kekayaan material dengan kebajikan dalam hubungan keluarga, yang akan menghasilkan masyarakat yang harmonis dan seimbang. [T]
SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna serta Ketu...
DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari Kabupaten Buleleng tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bal...
SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan di kawasan Gedong Kirtya, Sin...
PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang murung, keduanya kembali bertemu ket...
“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya.
Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru saja pulang kerja mendapat pesan Instagram dari t...
PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita?
Sungguh menarik mengamati bagai...
TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih dalam, bagaimana seorang penuli...
LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan seni karawitan Bali. Ajang ini tidak ha...
BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade) Busana Adat pada Pesta Kesenian Bal...
Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman
TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan hari tersebut sebagai In...