Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
KAJIAN sastra pariwisata dapat dibagi menjadi empat area, yaitu (1) tempat sastra (literary places): rumah sastrawan, kuburan, museum pengarang, dan setting sastra; (2) event sastra (literary events): festival sastra seperti Ubud Writers and Readers Festival; (3) tema terkait pariwisata, misalnya “Sajak Pulau Bali” (1974), Rendra, novel Eat Pray Love (2006) Elizabeth Gilbert, cerita rakyat “Putri Mandalika”; (4) alih wahana, misalnya film Laskar Pelangi, Eat Pray Love’dari novel masing-masing berjudul sama.
Area-area itu tentu saja bisa dikombinasikan, dengan menggunakan pendekatan kajian relevan termasuk kajian estetik, romantik, kritis, resepsi pembaca, post-kolonial, relasi kuasa, hegemoni, host and guests, dan representasi.
Penjelasan di atas itu disampaikan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., Korprodi Doktor Kajian Budaya FIB Universitas Udayana, Bali), dalam program Sekolah Sastra dengan tema “Sastra Pariwisata”. Sekolah sastra itu diselenggarakan Himpunan Sarjana Kesusastraan (HISKI) Pusat dalam dua pecan beruntun di bulan Februari 2024 melalui zoom meeting. Program kedua diselenggarakan 10 Februari 2024.

Prof. Darma Putra (kiri atas)
Pada program itu, Prof. Darma Putra menjelaskan, Sastra Pariwisata menyediakan objek dan wilayah penyelidikan baru bagi studi sastra dan studi pariwisata serasi dan selaras dengan fenomena global dan inisiatif Gerakan Nasional Literasi.
Selain itu, kata dia, sastra pariwisata juga mendukung pendekatan kreatif bagi penulis untuk mendorong penulisan karya sastra pariwisata dan bentuk tulisan lain yang sejak lama dilabel dengan travel writing, travelogue.
Selain kontribusi teoritik, multidisiplin, kajian kritis, dan creative writing, Sastra Pariwisata juga berkontribusi dalam penciptaan branding dan strategi pemasaran wisata destinasi. “Tak akan ada kontribusi tanpa inovasi, tanpa aksi,” kata Prof. Darma Putra.
Sekolah Sastra
Sekolah Sastra merupakan program inovatif HISKI Pusat sejak kepemimpinan Prof. Novi. Selama tahun 2024 dirancang pembahasan 12 topik aktual tentang kajian sastra, dibawakan oleh narasumber ahli yang berbeda setiap bulan. Setiap topik dibahas dua kali, dipilih hari Sabtu, berarti setiap narasumber tampil dua kali.
Sekolah Sastra dimaksudkan sebagai forum bagi anggota HISKI dan kalangan guru serta umum untuk memperdalam pengetahuan tentang kajian sastra yang terus berkembang. Sejauh ini, peserta puas dengan penyajian materi dan tanya-jawab, seperti dapat dirasakan dari banyaknya yang hadir, dan salah satu komen jenaka berikut:

Bulan Januari misalnya tampil Prof. Djoko Saryono membahas “Etnopuitika” (dua kali) dan bulan Februari tampil Prof. Darma Putra membahas “Sastra Pariwisata”. Sampai 4 kali digelar, pesertanya di atas 350 orang dari seluruh Indonesia. Tiap acara berjalan dua jam, penuh dengan tanya-jawab yang dinamis dan kritis.
Di minggu pertama, bulan Februari, kelas Sastra Pariwisata dihadiri oleh 350 peserta di Zoom meeting dan sekitar 600-an di YouTube Cannel. Selain menjawab sejumlah pertanyaan seputar pengertian sastra pariwisata dan contoh kajian sastra pariwisata,
Sejumlah Referensi
Prof. Darma juga memberikan sejumlah referensi yang memonitavi para peserta untuk lebih mendalami sastra pariwisata, misalnya buku Jenkins, I., & Lund, K. A. (Eds.). (2019). Literary tourism: Theories, practice and case studies; Watson, N. (Ed.). (2009). Literary tourism and nineteenth-century culture; Quinteiro, S., & Baleiro, R. (2018). Key concepts in literature and tourism studies; sejumlah artikel kajian sastra pariwisata dan disertasi sastra pariwisata, misalnya Toba dalam Sastra: Peran Tiga Novel Indonesia dalam Promosi Destinasi Wisata Toba di Sumatra Utama (Bertova Simanihuruk, FIB Sumatra Utara, 2023) dan Manifestasi Ideologi Gender dalam Legenda Bergenre Romance di Destinasi Wisata (Yostiani Noor Asmi Harini, FIB Universitas Padjajaran, 2024).
Pada pertemuan kedua, 10 Februari 2024, narasumber menjawab sejumlah pertanyaan yang belum sempat mendapatkan respon dan jawaban dari narasumber.

Museum Multatuli di Lebak Banten didirikan sebagai penghormatan terhadap sastrawan yang menulis novel Max Havelaar
Dari sejumlah pernyataan di pertemuan kedua, Prof. Darma menekankan bahwa sastra pariwisata dapat dipahami dari segi kajian sastra dan proses kreatif. Prof. Darma mencontohkan salah satu karya kreatif sastra pariwisata yang telah diterbitkan anggota HISKI adalah Tarian Laut, Antologi 222 Puisi Maritim yang sebagian besar bertema wisata maritim.
Kelas diselenggarakan melalui jaringan zoom meeting dan YouTube Channel HISKI Pusat, TribunJatim Official, TribunMadura Official, Tribun Mataraman, Suryamalang.com, Harian Surya (TribunnewsSurya).
Acara dibuka oleh Ketua Umum HISKI Pusat (Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum.), dilanjutkan sambutan dari Wakil Ketua HISKI Pusat (Prod, Dr. Mohd. Harun, M.Pd.). Kelas dimoderatori oleh Wakil Sekretaris HISKI Pusat Ferry Kurniawan, M.Pd.
Pada pertemuan pertama, Sabtu, 3 Februari 2024, Prof. Darma Putra menjelaskan pengertian sastra pariwisata dan berbagai konsep yang berhubungan dengan kajian sastra pariwisata.
Prof. Darma menjelaskan bahwa sastra dan pariwisata merupakan bidang ilmu yang multidimensi dan multidisiplin, yang kajiannya diperkaya dengan teori ilmu-ilmu humaniora lainnya.
Sastra pariwisata terjadi ketika sastrawan atau karyanya menjadi sangat populer sehingga orang-orang tertarik pada lokasi yang terkait dengan penulis tersebut (misalnya tempat kelahiran, rumah, kuburan) atau yang ditampilkan dalam tulisan mereka.
Pada pertemuan minggu pertama, Prof. Darma juga memperkenalkan buku Sastra Pariwisata yang ditulis oleh anggota HISKI (Anoegrajekti, Saryono, Putra, 2020).
Dengan perkenalan tersebut, paling tidak Prof. Darma sebagai salah satu editor Sastra Pariwisata akan menyatakan bahwa sebelum terselengaranya kelas Sastra Pariwisata ini, sebagian anggota HISKI telah mengawali melakukan kajian sastra pariwisata.
Selain itu, Prof. Darma juga menjelaskan bahwa sastra pariwisata juga mendukung pendekatan kreatif bagi penulis untuk mendorong penulisan karya sastra pariwisata dan bentuk tulisan lain yang sejak lama dilabel dengan travel writing, travelogue.
Kajian Terhadap Tempat lahir dan Kuburan Pengarang
Dari forum tanya jawab dalam program itu ada sejumlah hal yang dapat dicatat dan ditindaklanjuti bagi para peneliti sastra, antara lain kajian terhadap tempat kelahiran dan kuburan para penulis terkenal, yang belum banyak dilakukan oleh para peneliti sastra. Misalnya, kajian tanah kelahiran dan kuburan Pramudya Ananta Toer, Raja Ali haji, I Nyoman Panji Tisna, dan sebagainya.
Hal menarik lainnya adalah menjawab pertanyaan kriteria artikel hasil kajian sastra pariwisata, Prof. Darma menyarankan bahwa artikel yang memiliki peluang lolos ke jurnal scopus lebih baik menonjolkam subtansi masalahnya, bukan teorinya. Kelas Sastra Pariwisata minggu kedua dihadiri sekitar 260 peserta di zoom, berlangsung mulai pukul 10.00–12.10 WIB. [T]
Sumber: dasarbali.com
Editor: Adnyana Ole
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...