MASA peralihan kekuasaan adalah situasi yang rawan. Pesan itu paling tidak dititipkan oleh dua karya sastra itihasa terbesar negeri Barata Warsa yaitu Ramayana dan Mahabharata. Dalam Kakawin Ramayana, ketika Dasarata berencana menyerahkan tampuk kekuasaan kepada putra mahkota Rama, pada saat yang bersamaan Dewi Kekayi menagih janji dari sang raja untuk menyerahkan singhasana kepada Bharata, putranya.
Dari sanalah muasal konflik batin Raja Dasarata yang berujung pada kematian sang raja serta pengasingan Rama ke hutan selama 12 tahun. Hal yang sama juga dinarasikan dalam Kakawin Bharata Yudha. Ketika Drestarata memberikan kekuasaan atas kerajaan Hastina kepada Dharma Wangsa, saat itu pula ada usaha kudeta yang dilakukan oleh pihak Korawa.
Bercermin dari dua karya sastra itu, masa transisi kekuasaan adalah keadaan yang perlu diwaspadai. Pihak yang sedang berkuasa dan yang ingin meraih kekuasaan akan menempuh berbagai cara agar kekuasaan itu bisa didapatkan. Intrik-intrik politik untuk meraih kekuasaan dalam tradisi sastra Bali diyakini termuat dalam fragmen perang bharata yuddha.
Salah satu strategi politik yang dimainkan oleh aktor-aktor dalam perebutan kekuasaan yang relevan untuk kita renungi saat ini adalah konsep penyebarluasaan berita bohong atau hoax. Menariknya, hoax dalam Kakawin Bharata Yuddha tersebut tidak dilakukan oleh pihak Korawa yang diidentikkan sebagai tokoh antagonis, melainkan Pandawa yang selalu sarat dengan kebaikan, kebenaran, kesucian, dan images baik lainnya.
Berita bohong itu disebarluaskan atas perintah Krisna karena Drona yang diangkat oleh Korawa menjadi Panglima Perang tidak mampu dikalahkan. Setelah Guru Drona diangkat menjadi Panglima Perang, pihak Pandawa banyak mengalami kekalahan.
Oleh sebab itulah, Krisna mencari titik kelemahan Drona yang justru terletak pada kasih sayangnya kepada Aswatama, putranya. Tidak ada jalan lain, kecuali mengatakan kepada Drona bahwa Aswatama telah gugur dalam perang. Saran Krisna tersebut ditolak oleh Yudhistira dan Arjuna. Dengan cukup emosional, mereka menyatakan lebih memilih mati daripada berbohong kepada gurunya.
Berbeda dengan pendapat adik dan kakaknya, Bima justru setuju dengan nasihat Krisna. Di tengah riuh perang yang terjadi di Kuru Ksetra, Ia kemudian melompat dari keretanya untuk memberi tahu kepada semua pasukan yang terlibat dalam perang bahwa Aswatama telah gugur. Kebetulan saat itu ada seekor gajah milik raja Malawa yang juga bernama Aswatama. Gajah tersebut dipukul oleh Bima menggunakan gadanya sampai mati.
Setelah itu, Bima menuju Drona untuk menyampaikan bahwa Aswatama telah meninggal dunia. Guru Drona tidak serta merta mempercayai ucapan Bima. Drona mengkonfirmasi kebenaran berita yang disampaikan oleh Bima tersebut kepada Yudhistira. Yudhistira akhirnya membenarkan berita yang dituturkan oleh adiknya Bima, bahwa Aswatama telah mati meskipun dalam hatinya Ia merujuk pada gajah milik raja Malawa.
Mendengar berita itu Drona lemas, tubuhnya berdiri tapi bagaikan tanpa jiwa. Seketika ia roboh dan bersimpuh di kereta perangnya. Memanfaatkan momentum langka itu, Drestadyumna kemudian memenggal kepala Drona. Sang Mahagurupun akhirnya gugur dalam peperangan.
Informasi yang disampaikan oleh Bima kepada seluruh pasukan perang dalam Bharata Yuddha itu secara konseptual jelas sejajar dengan berita bohong atau hoax. Hoax konon berasal dari bahasa Inggris yang bermakna kabar atau berita palsu yang disebar dengan tujuan tertentu sehingga informasi palsu tersebut seolah tampak benar dan nyata, padahal tidak jelas asal-usul sumber dan kebenarannya.
Dalam karya sastra Kakawin Bharata Yuddha, berita bohong yang disebarluaskan oleh Bima jelas bertujuan untuk mengalahkan pihak Korawa dalam perebutan kekuasaan. Bima menyebarluaskan berita tersebut secara massif di tengah riuh perang sehingga dengan cepat sampai pada Drona sebagai target yang ingin dikalahkan. Mskipun Drona sempat meminta konfirmasi dari Yudistira yang diyakininya sebagai representasi kebenaran, tetapi Drona tidak menindaklanjutinya dengan memeriksa jazad Aswatama sebagai bukti atas kematian putra kesayangannya.
Secara konseptual berita bohong yang dimainkan oleh aktor politik dalam karya sastra dan yang terjadi di dunia nyata tidak jauh berbeda. Berita bohong sama-sama berkelindan dengan tujuan khusus yaitu meraih kekuasaan. Yang berbeda hanya di tingkat sarana dan teknik memainkannya. Yang tercermin dari sastra klasik, berita bohong disebarkan secara lisan melalui kerumunan masa sehingga bisa dengan cepat sampai pada sasaran. Saat ini, berita bohong dengan relatif lebih mudah diviralkan melalui media sosial. Pemegang gawai yang tidak kritis membaca berita tersebut akan menjadi korban dari berita bohong.
Lalu apa konsekuensi dari penyebar berita bohong? Dalam sastra klasik, meskipun Yudhistira berhasil memenangkan perang melawan Korawa, pustaka Prastanika Parwa menyebutkan bahwa satu-satunya kesalahan yang menyebabkan Yudhistira merasakan penderitaan di neraka adalah pembohongan yang dilakukannya kepada Drona. Saat ini kita tentu bertanya, bagaimana proses hukum memberi sangsi kepada para pelaku penyebar berita bohong di negeri yang tengah memasuki masa peralihan kekuasaan ini? [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...