DALAM satu dua tahun terakhir, nama Dewa Mayura kembali muncul ke permukaan. Sejumlah karyanya yang dibawakan penyanyi lain berhasil naik dan banyak digemari. Alhasil, ia pun lebih banyak disibukkan kegiatan guiding rekaman dan menulis lagu. Lalu kapan dong menyanyi lagi?
Jawaban Dewa Mayura, ia merilis lagu “Ngeretek” akhir tahun lalu, dan terbaru “Lelah Mengalah” di Januari ini.
“Entah kenapa saya kepingin saja menyanyi untuk menghibur diri. Astungkara orang lain juga bisa terhibur,” kilah Dewa Mayura kepada mybalimusic.com.
Pria yang selain sebagai solois juga main bersama Ngitz band ini mengaku keinginan untuk menyanyi lagi mungkin karena sedikit jenuh juga selalu berkutat dengan lirik lagu. Baik yang diolah dari ide sendiri atau pesanan dari sejumlah penyanyi lain.
“Jadi untuk mengusir rasa jenuh itu saya ingin memberi penyegaran atau refresh otak saya. Ya siapa tahu bisa mendapatkan inspirasi baru dalam berkarya,” tambahnya.
Lagu “Lelah Mengalah” menceritakan tentang perjuangan sepasang kekasih, suami istri atau mungkin sahabat baik, yang berupaya mempertahankan sebuah hubungan. Lelah mengalah dalam mempertahankan orang yang kita sayangi pasti ada, karena pada dasarnya semua orang memiliki tingkat kesabaran yang berbeda-beda.
“Tapi di sisi lain kita selalu merindukan orang itu. Lelah mengalah boleh diungkapkan tapi kita harus menikmati proses itu untuk menjadi insan yang lebih baik,” tutur Dewa Mayura.
Selain berharap karyanya dapat menghibur semeton pencinta lagu Bali, Dewa Mayura juga berharap semua penyanyi, pencipta lagu, arranger, dan teman-teman seprofesi di kancah musik pop Bali tetap semangat barkarya. [T]
Sumber: mybalimusic.com Penulis: Made Adnyana Editor: Adnyana Ole
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...