Aku Ingin Dia Berubah | Cerpen Depri Ajopan

Depri Ajopan
by Depri Ajopan — Februari 03, 2024 in Cerpen

Tatkala.co

Vera sayang, kamu mau dibelikan apa? Uang gajiku baru keluar.

Sepotong pesan baru saja aku lempar lewat WA pada perempuan itu. Meskipun dia bukan pacarku, aku sering menggunakan kata-kata sayang  pada cewek tomboi itu, yang menurutku hidupnya tak beraturan.  Baginya tidak ada yang terlarang di dunia ini, semua serba boleh. Dia juga  gadis   peminum,   hampir   setiap   malam   teler.   Kalau   merokok   soal   kecil, dua bungkus perhari.

Dia gadis pezina, terlalu kasar kalau aku sebut wanita pelacur, apalagi   menggunakan   bahasa   lonte,  ngeri   aku   mendengarnya.  Setiap   malam   dia   selalu   keluyuran meskipun  ketika  hujan  deras  bertaburan  turun  dari   langit menyomprot tumbuh-tumbuhan di bumi. Pagi-pagi setiba di kampus ia sering tertidur pulas. 

Dia  benar-benar wanita yang hidup di dunia kegelapan. Dan aku sebagai lulusan pondok pesantren, yang sering dipanggil dengan sebutan ustaz, ingin sekali perempuan yang berpipi halus dan bermata cantik itu  berubah secepat ombak bergulung-gulung saling kejar-kejaran menghiasai tepian pantai. Dia jadi bahan pikiranku, dan bisa   mengganggu   konsentrasiku, dan melumpuhkan imajinasiku, terutama   ketika   aku   mengarang novel. 

Aku   pun   tak   tahu   apa sebenarnya  yang   terjadi pada diriku ini. Aku coba meraba-raba dadaku, perut telapak tanganku yang menempel berhenti tepat di bagian hati, aku merasa dia duduk dan berpangku tangan di sana seorang diri, dan entah kenapa, aku menemukan kesejukan.

Mungkinkah antara   aku   dan   dia     ada   rasa   cinta? Sungguhkah   aku mencintai perempuan setan itu. Astagfirullah, aku telah melakukan kesalahan besar, sebesar dunia hina ini, merasa diri lebih suci dari pada orang lain. Bukankah setitik kesombongan bisa merusak ibadah yang sudah dilakukan bertahun-tahun? Aku mengucap istigfar berkali-kali, minta ampun pada Tuhan, suaraku yang parau menyerupai bisikan.

Jika kau mencintai seseorang karena perubahan, itu bukan  cinta, tapi perjanjian,   sayang   di   dalam   cinta   tidak   ada     perjanjian.  Kata-kata itu berdentum dalam benakku. Berlakukah   ucapan Sahrukhan  yang menyihir dalam film  Mahabbatain  itu  pada diriku? Aku menggaruk-garuk kepala dalam kamar yang bernyanyi sendirian seperti pendekar gila.

 “Tidak, aku tidak mencintainya!” Aku meludah pada lantai, seolah aku meludahi wajahnya. Tapi kenapa setelah aku dapat gaji pertama, aku berlari-lari kecil menuju kosan, langsung mengirim sepotong pesan untuknya, keringatku saja yang bercucuran dari tubuhku yang ringkih ini belum kering. Gila, benar-benar dia perempuan gila, dan aku tergila-gila. 

Benarkah aku mencintainya? Siap menerima dia apa adanya, walaupun maksiatnya terus menjadi-jadi, bodoh sekali. Aku hanya ingin dia berubah tak lebih, titik. Tapi kenapa wajahnya terus menyerangku, apakah ini tidak terlalu agresif bagiku. Kenapa aku tidak bisa membuang jauh-jauh pikiranku tentang dia.

Ya Tuhan tolonglah aku, jangan hanyutkan aku pada jalan ketololan. Bolehkah perasaan cinta itu tumbuh di hati seorang pria yang gersang, pada seorang gadis yang cantik rupawan, tapi kehormatannya paling kehormatan yang  wajib dia  jaga  sudah dipetik beberapa pemuda  yang  tidak  bertanggung jawab dan berhati   bangsat? Jika perasaan cinta ini tidak salah di matamu ya Tuhan, aku pun tak tahu apa yang aku minta setelah ini padaMu.

***

Dua   minggu   yang   lalu,  malam   itu,   aku   sengaja   lewat   dari  kosan Vera. Waktu itu hujan barangsur-angsur mulai turun. Aku dengar ia mendesah. Setelah   aku   periksa  mengintip   dari   lubang   kecil, ia sudah menanggalkan pakaiannya sampai bugil, menyandarkan tubuh yang bahenol ke tembok, sedang dipanen seorang pemuda, dan aku tak mengenal pemuda itu, sementara aku tak ingin mengenalnya, tapi siap kalau diperintah membunuhnya. Mereka sama-sama merasakan kenikmatan yang luar biasa tiada tara.

Aku mengubah posisi, menjadikan diriku lelaki itu dalam bayangan. Melumat lekat-lekat bibir Vera. Desah napas sama-sama   tersengal,   bisikan   hati kami   bergerak   dengan   sinkron,   siap   melakukan   sesuatu. Begitu aku sadar, aku mengucapkan sumpah serapah.

“Kurangajar   sekali   mereka, semoga jadi monyet yang terkutuk!”

Apakah aku cemburu, tentu saja. Apakah kalau Vera mengelus-elus leherku, menggigit telingaku dan berkata-kata romantis, mengajakku melakukan persetubuhan sebelum waktunya, aku menuruti jejaknya yang menjerumuskan, biar aku puas, meskipun setelah itu aku dan dia sama-sama rusak, terlebih-lebih dia sebagai seorang perempuan. Walaupun ia sudah rusak, jika masih melakukan persetubuhan sebelum menikah, ia pasti bertambah rusak. Apa aku harus melakukan cara untuk melucuti gadis itu?

Nauzubillah, jangan sampai   terjadi.  Jangan   bilang   aku   impoten,   atau   lemah   sahwat, atau kata-kata lain yang menyudutkan, seperti kau tuduh aku tidak memiliki kejantanan. Aku   yakin   seribu   persen kemampuanku di bidang seksual lebih menggigit setelah aku menikah nanti. Aku yakin asmaraku lebih hangat daripada kau yang sudah membolongi dan yang sudah bolong.

Abangku sayang, aku ingin dibelikan celana pendek, seharga tujuh ratus ribu itu, warna hijau. Aku ingin menampakkan lutut dan pahaku yang halus pada semua orang.

Duapuluh menit sudah berlalu, Vera baru membalas WA-ku yang tidak sampai berukuran sejengkal itu, keterlaluan sekali dia, bunyi WA  itu seolah menghinaku. Padahal dalam pertemuan kami yang ke 21 malam itu di dekat rumah Pak Manan, ia bilang dia berencana memakai jilbab. Seharusnya dia mikir dong, seandainya dia memakai celana pendek keluar rumah mempertontonkan auratnya yang montok itu di hadapan lelaki, pasti mereka memandang dengan mata tak berkedip diiringi sahwat yang bergejolak, kemudian mereka berkata,

Seandainya gadis itu menjadi miliku malam ini saja, terpuaskanlah nafsuku. Sebaliknya pula, kalau dia memakai jilbab biru, begitu ia lewat di depan mereka, ekor jilbabnya   menari-nari   diterjang angin,  pasti lelaki yang jadi penonton itu berkata, Cantiknya, andaikata bidadari itu jadi istriku. Tapi malah dia minta dibelikan celana pendek, sepertinya ia menghinaku dan menginjak nuraniku.  

 “Kurangajar   sekali   kau   Vera,”  gerutuku dalam hati yang bergelora, kemudian sekonyong-konyong aku   mendesah,   menghempaskan   badan   di atas   kasur   kumuh   membenamkan   kepala   ke dalam bantal.

Aku kesal karena dia belum juga berubah. Dia masih termasuk golongan perempuan yang belum bisa menjaga kemaluannya erat-erat. Tapi aku tidak menyerah, aku harus merubah dia ke arah yang lebih baik. Dan harus kuakui, sungguh aku mencintainya, dan siap hidup satu atap dengan perempuan itu, jika ia mau berubah sikap. Entah kapan ia bisa berubah, aku pun tak tahu. Tugasku hanyalah berusaha, yang menentukah pasti yang maha kuasa. [T]

BACA cerpen-cerpen tatkala.co yang lain

https://tatkala.co/2024/01/28/tukang-sulap-dan-bocah-pemain-biola-cerpen-hasan-aspahani/
https://tatkala.co/2024/01/13/tukang-sulih-suara-dan-presiden-yang-kehilangan-suaranya-cerpen-hasan-aspahani/embed/#?secret=TJ8HB5Hr8z#?secret=3DhBjLxYff
https://tatkala.co/2024/01/20/pesan-cinta-untuk-seorang-teman-cerpen-wahyudi-prasancika/embed/#?secret=1WbB7YcguO#?secret=vq86Yrkkwe
https://tatkala.co/2024/01/07/sedihku-berakhir-di-verona-cerpen-putu-arya-nugraha/embed/#?secret=qtinNA5mre#?secret=nmuUuJoFfs
https://tatkala.co/2024/01/27/maksan-dan-moncong-senapan-belanda-cerpen-helmy-khan/embed/#?secret=kHBaopSF3a#?secret=QRJyaU7epM
Avatar

Depri Ajopan

Related Posts