Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
KINI sudah banyak yang tahu, kamera smartphone bisa menghasilkan foto yang bagus, bahkan sulit dibedakan dengan hasil dari kamera canggih. Namun masih banyak yang gagap menggunakan smartphone untuk memptret agar hasilnya memuaskan.
Saat ini, rata-rata kamera smartphone memiliki resolusi yang relatif tinggi, bahkan lebih tinggi dari 4023 x 3024 piksel sehingga peluang untuk menghasilkan foto-foto dengan kualitas yang baik cukup besar.
Namun harus diingat, resolusi tinggi itu tentu tidak akan ada artinya jika Anda tidak melengkapi diri dengan pengetahuan tentang komposisi dan teknik fotografi yang baik.
Jika Anda serius menjadi fotografer dengan “bersenjatakan” smartphone, belajarlah dasar-dasar dalam komposisi foto, seperti golden ratio, golden triangles dan sebagainya.
Pengetahuan tentang kaidah-kaidah komposisi ini akan sangat membantu membuat foto yang lebih “rapi” dan terlihat lebih kuat. Berikut tips praktis untuk memaksimalkan hasil foto dengan kamera smartphone.
Sebelum melakukan pemotretan, pastikan lensa kamera smartphone dalam kondisi bersih. Sebaik apapun kita memotret dan sebagus apapun objek yang difoto, tapi jika lensa kotor maka hasilnya pastilah jelek.

Rejang Dancers karya I Wayan Sumatika
Mengingat handphone kita lama berada di kantong, maka kotoran lama-kelamaan akan menempel di lensa kamera. Oleh karena itu, sempatkanlah membersihkan lensa dari kotoran sebelum memotret. Gunakan kain lembut untuk membersihkannya. Jika terkena minyak, gunakan cairan pembersih LCD atau kacamata.
Tak kalah pentingnya, kenali waktu jeda shutter. Kamera smartphone memiliki waktu jeda antara saat kita memencet dan saat kamera mulai mengambil foto. Dalam ranah fotografi, kondisi ini disebut shutter lag.
Tidak seperti kamera DSLR yang mampu secepat kilat mengambil foto setelah kita memencet shutter, smartphone umumnya lumayan lelet. Kenali waktu jeda ini dengan baik supaya tangan kita tetap tenang sesaat setelah menekan shutter.
Hindari Menggunakan Zoom
Yang harus diingat, jangan sekali-kali menggunakan zoom. Biasanya, lensa di kamera smartphone memilik panjang focal atau focal lenght 25-28 mm yang dalam ranah fotografi dikenal sebagai lensa sudut lebar. Itulah yang menyebabkan objek menjadi terlihat lebih kecil dibandingkan sebenarnya.

Derap Makepung karya I Wayan Sumatika
Melihat kenyataan ini, anda sering tergoda untuk melakukan pinch to zoom agar objek terlihat lebih besar. Hindarilah menggunakan zoom, karena zooming secara digital seperti ini layaknya anda melakukan cropping foto di komputer. Hasilnya, resolusi foto menjadi turun dan terpotong.
Semakin dahsyat kita melakukan zoom, maka makin besar pula degradasi resolusi foto. Jadi, berusahalah untuk memotret dengan jarak sedekat mungkin dengan objek sehingga tidak perlu melakukan zooming.

Kadal Ekor Rumput karya I Wayan Sumatika
Tak kalah pentingnya, selalu gunakan fasilitas resolusi paling tinggi yang ada pada smartphone. Semakin tinggi resolusi, maka semakin tinggi kualitasnya.
Untuk mendapatkan foto yang tajam, saat menekan shutter kamera, tangan tidak boleh bergetar atau terguncang.
Hal ini juga berlaku mutlak saat anda memotret dengan smartphone. Semakin stabil kamera semakin bagus dan tajam foto kita. Jadi, usahakan agar tangan tidak bergetar saat mengambil foto. Jika perlu, manfaatkanlah benda yang lebih stabil di sekitar anda sebagai sandaran.
Misalnya, meja dan tembok untuk membantu kestabilan tangan. Bahkan bila perlu, pergunakan tripod khusus untuk handphone.

Happiness karya I Made Yasa Winangun
Saat melakukan pemotretan, sebisa mungkin manfaatkanlah cahaya alami yang ada di sekitar untuk memastikan cahaya yang menerangi objek foto mencukupi.
Dengan begitu, Anda tetap berpeluang mendapat foto yang tajam dan jelas. Pastikan juga Anda memahami dari mana cahaya berasal untuk menghindar dari masalah-masalah seperti backlight. Selamat berkreativitas dengan kamera smartphone! [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...