KOMUNIKASI layaknya iklan minuman di masa lalu, dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Begitulah komunikasi. Tidak ada satu tempat pun yang sepi dari komunikasi. Tidak ada waktu sedikit pun untuk tidak berkomunikasi. Dan, tak ada seorang pun yang tidak berkomunikasi.
Banyak bentuk komunikasi, mulai dari interpersonal, sosial, interkultural, hingga yang transendental. Semua bentuk komunikasi itu menempati dimensi ruang, waktu, dan pelaku. Memahami komunikasi secara efektif memerlukan kesadaran tentang tiga dimensi itu.
Tidak kalah penting adalah unsur konteks saat berkomunikasi. Unsur ini akan menjelaskan apakah orang sudah berkomunikasi sesuai dengan konteks. Berbicara tentang politik, misalnya, akan sesuai konteks jika dilakukan dalam ruang, waktu, dan pelaku yang tepat. Dapat dimaklumi jika ada yang berpendapat, bahwa tempat ibadah selayaknya tidak dijadikan ajang kampanye politik. Karena sesuai konteksnya, tempat ibadah bukanlah ruang politik.
Perspektif budaya kerap mewarnai proses komunikasi, sehingga membutuhkan interpretasi terhadap ruang, waktu, dan pelaku komunikasi. Tidak terlalu sulit sesungguhnya untuk memaknai komunikasi yang berbeda dimensi itu. Setiap orang akan secara sadar memahami perbedaan itu. Meski dalam beberapa kasus, perbedaan dimensi dan perspektif budaya itu dapat menimbulkan keterkejutan.
Di Mana Saja
Komunikasi dapat terjadi di mana saja. Nyaris tak ada ruang kosong bagi komunikasi. Bermula dari rumah, orang akan berkomunikasi dengan sesama anggota keluarga. Dari sini lantas muncul perspektif budaya dalam komunikasi, misalnya yang berkaitan dengan salam ketika hendak memasuki rumah.
Salam adalah adab berkomunikasi ketika akan masuk ke rumah siapa pun. Perspektifnya bisa lintasbudaya. Orang Jawa Tengah akan mengucapkan kulonuwun ketika berkunjung ke satu rumah. Orang Sunda akan berucap punten atau sampurasun. Sedangkan masyarakat Bali biasa mengucapkan Om Swastyastu.
Komunikasi dapat terjadi di jalan. Ini juga yang membedakan budaya berkomunikasi di jalan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Amerika dan Eropa. Pengguna mobil di Indonesia sangat gemar membunyikan klakson ketika di jalanan. Sedangkan di Amerika maupun Eropa klakson mobil dibunyikan hanya dalam keadaan tertentu saja, seperti kondisi emergency.
Pasar tradisional bagi masyarakat Indonesia masih dipandang sebagai tempat belanja yang menarik dibanding pasar modern. Pasalnya, di pasar tradisional akan terjadi proses komunikasi antara pembeli dan penjual. Tawar-menawar di pasar tradisional merupakan ciri khas komunikasi yang secara psikologis tidak diperoleh di pasar modern.
Kapan Saja
Komunikasi terjadi setiap waktu sepanjang masih ada kehidupan. Dimulai saat bangun pagi hingga larut malam terjadi komunikasi. Aktivitas komunikasi tidak mengenal hari libur. Komunikasi tidak memandang kondisi seseorang, saat sehat dan sakit terjadi komunikasi. Bahkan saat orang sudah meninggal pun, melalui berbagai ritual proses komunikasi masih berlangsung.
Pagi buta, umat Islam sudah berkomunikasi dengan Tuhan dalam bentuk sholat Subuh. Komunikasi ini bersifat transendental. Selanjutnya akan terjadi komunikasi interpersonal dengan anggota keluarga dan tetangga. Malam hari pun orang masih berkomunikasi melalui media massa televisi yang menyuguhkan berbagai hiburan.
Komunikasi sosial pada larut malam masih banyak dilakukan orang Indonesia. Masyarakat desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebutnya dengan lek-lekan atau menahan tidur awal dengan berbincang dengan tetangga. Masyarakat kota menyebutnya begadang. Inilah salah satu kebiasaan orang Indonesia yang kadang membuat orang dari negara lain heran. Tidur hingga larut malam hanya untuk mengobrol.
Siapa saja
Komunikasi dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, usia, dan status sosial ekonomi. Sepanjang seseorang menyampaikan pesan, dan orang lain menanggapinya, maka terjadilah komunikasi. Dengan siapa orang berkomunikasi juga banyak diwarnai oleh latar belakang sosial, psikologis, dan budaya.
Adalah komunikasi seorang ibu dengan bayi yang dikandungnya menjadi awal proses komunikasi dengan siapa. Secara psikologis banyak riset yang mengatakan, bahwa sejak bayi di dalam kandungan sesungguhnya sudah dapat berkomunikasi dengan ibunya.
Secara kultural, komunikasi ibu dan bayinya diwarnai dengan berbagai mitos tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang wanita saat mengandung. Makna mitos tentunya bukan sekadar ketakutan akan dampak sosial budaya yang akan diterima seorang wanita. Mitos kehamilan adalah langkah kultural bagi seorang wanita untuk menjaga, merawat, dan berkomunikasi dengan bayi yang dikandungnya.
Berkomunikasi dengan siapa saja akan ditentukan oleh ragam komunikator dan khalayaknya. Artinya, cara berkomunikasi akan dipengaruhi oleh dengan siapa seseorang berhadapan. Setiap subbudaya memiliki cara berkomunikasi yang khas.
Kebiasaan berkomunikasi di lingkungan militer tentu akan berbeda dengan di perkampungan. Apalagi di lembaga kemiliteran terdapat hierarkhi kepangkatan yang akan mempengaruhi bagiamana seseorang harus berkomunikasi.
Begitu pula komunikasi di dalam rumah tangga. Komunikasi dengan anggota keluarga akan berbeda ketika berkomunikasi dengan pembantu, baik secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi antara santri dan kyai atau raja dengan abdi dalem juga akan menggambarakan cara berkomunikasi yang berkaitan dengan siapa.
Apa pun cara dan gaya komunikasinya, setiap orang akan berkomunikasi di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Tak mungkin ada yang dapat menghindar. One cannot not communicate, begitu kata Paul Watzlawick. Tak seorang pun yang tidak berkomunikasi. [T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...