Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
KOMUNIKASI layaknya iklan minuman di masa lalu, dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, oleh siapa saja. Begitulah komunikasi. Tidak ada satu tempat pun yang sepi dari komunikasi. Tidak ada waktu sedikit pun untuk tidak berkomunikasi. Dan, tak ada seorang pun yang tidak berkomunikasi.
Banyak bentuk komunikasi, mulai dari interpersonal, sosial, interkultural, hingga yang transendental. Semua bentuk komunikasi itu menempati dimensi ruang, waktu, dan pelaku. Memahami komunikasi secara efektif memerlukan kesadaran tentang tiga dimensi itu.
Tidak kalah penting adalah unsur konteks saat berkomunikasi. Unsur ini akan menjelaskan apakah orang sudah berkomunikasi sesuai dengan konteks. Berbicara tentang politik, misalnya, akan sesuai konteks jika dilakukan dalam ruang, waktu, dan pelaku yang tepat. Dapat dimaklumi jika ada yang berpendapat, bahwa tempat ibadah selayaknya tidak dijadikan ajang kampanye politik. Karena sesuai konteksnya, tempat ibadah bukanlah ruang politik.
Perspektif budaya kerap mewarnai proses komunikasi, sehingga membutuhkan interpretasi terhadap ruang, waktu, dan pelaku komunikasi. Tidak terlalu sulit sesungguhnya untuk memaknai komunikasi yang berbeda dimensi itu. Setiap orang akan secara sadar memahami perbedaan itu. Meski dalam beberapa kasus, perbedaan dimensi dan perspektif budaya itu dapat menimbulkan keterkejutan.
Di Mana Saja
Komunikasi dapat terjadi di mana saja. Nyaris tak ada ruang kosong bagi komunikasi. Bermula dari rumah, orang akan berkomunikasi dengan sesama anggota keluarga. Dari sini lantas muncul perspektif budaya dalam komunikasi, misalnya yang berkaitan dengan salam ketika hendak memasuki rumah.
Salam adalah adab berkomunikasi ketika akan masuk ke rumah siapa pun. Perspektifnya bisa lintasbudaya. Orang Jawa Tengah akan mengucapkan kulonuwun ketika berkunjung ke satu rumah. Orang Sunda akan berucap punten atau sampurasun. Sedangkan masyarakat Bali biasa mengucapkan Om Swastyastu.
Komunikasi dapat terjadi di jalan. Ini juga yang membedakan budaya berkomunikasi di jalan antara masyarakat Indonesia dengan masyarakat Amerika dan Eropa. Pengguna mobil di Indonesia sangat gemar membunyikan klakson ketika di jalanan. Sedangkan di Amerika maupun Eropa klakson mobil dibunyikan hanya dalam keadaan tertentu saja, seperti kondisi emergency.
Pasar tradisional bagi masyarakat Indonesia masih dipandang sebagai tempat belanja yang menarik dibanding pasar modern. Pasalnya, di pasar tradisional akan terjadi proses komunikasi antara pembeli dan penjual. Tawar-menawar di pasar tradisional merupakan ciri khas komunikasi yang secara psikologis tidak diperoleh di pasar modern.
Kapan Saja
Komunikasi terjadi setiap waktu sepanjang masih ada kehidupan. Dimulai saat bangun pagi hingga larut malam terjadi komunikasi. Aktivitas komunikasi tidak mengenal hari libur. Komunikasi tidak memandang kondisi seseorang, saat sehat dan sakit terjadi komunikasi. Bahkan saat orang sudah meninggal pun, melalui berbagai ritual proses komunikasi masih berlangsung.
Pagi buta, umat Islam sudah berkomunikasi dengan Tuhan dalam bentuk sholat Subuh. Komunikasi ini bersifat transendental. Selanjutnya akan terjadi komunikasi interpersonal dengan anggota keluarga dan tetangga. Malam hari pun orang masih berkomunikasi melalui media massa televisi yang menyuguhkan berbagai hiburan.
Komunikasi sosial pada larut malam masih banyak dilakukan orang Indonesia. Masyarakat desa di Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebutnya dengan lek-lekan atau menahan tidur awal dengan berbincang dengan tetangga. Masyarakat kota menyebutnya begadang. Inilah salah satu kebiasaan orang Indonesia yang kadang membuat orang dari negara lain heran. Tidur hingga larut malam hanya untuk mengobrol.
Siapa saja
Komunikasi dapat dilakukan oleh siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, usia, dan status sosial ekonomi. Sepanjang seseorang menyampaikan pesan, dan orang lain menanggapinya, maka terjadilah komunikasi. Dengan siapa orang berkomunikasi juga banyak diwarnai oleh latar belakang sosial, psikologis, dan budaya.
Adalah komunikasi seorang ibu dengan bayi yang dikandungnya menjadi awal proses komunikasi dengan siapa. Secara psikologis banyak riset yang mengatakan, bahwa sejak bayi di dalam kandungan sesungguhnya sudah dapat berkomunikasi dengan ibunya.
Secara kultural, komunikasi ibu dan bayinya diwarnai dengan berbagai mitos tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang wanita saat mengandung. Makna mitos tentunya bukan sekadar ketakutan akan dampak sosial budaya yang akan diterima seorang wanita. Mitos kehamilan adalah langkah kultural bagi seorang wanita untuk menjaga, merawat, dan berkomunikasi dengan bayi yang dikandungnya.
Berkomunikasi dengan siapa saja akan ditentukan oleh ragam komunikator dan khalayaknya. Artinya, cara berkomunikasi akan dipengaruhi oleh dengan siapa seseorang berhadapan. Setiap subbudaya memiliki cara berkomunikasi yang khas.
Kebiasaan berkomunikasi di lingkungan militer tentu akan berbeda dengan di perkampungan. Apalagi di lembaga kemiliteran terdapat hierarkhi kepangkatan yang akan mempengaruhi bagiamana seseorang harus berkomunikasi.
Begitu pula komunikasi di dalam rumah tangga. Komunikasi dengan anggota keluarga akan berbeda ketika berkomunikasi dengan pembantu, baik secara verbal maupun nonverbal. Komunikasi antara santri dan kyai atau raja dengan abdi dalem juga akan menggambarakan cara berkomunikasi yang berkaitan dengan siapa.
Apa pun cara dan gaya komunikasinya, setiap orang akan berkomunikasi di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Tak mungkin ada yang dapat menghindar. One cannot not communicate, begitu kata Paul Watzlawick. Tak seorang pun yang tidak berkomunikasi. [T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...