“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
PERPUTARAN waktu terasa begitu cepatnya, tidak terasa kita sudah masuk di awal tahun 2024. Banyak perayaan dilakukan untuk tahun baru ini, yang tentu disertai berbagai macam doa dan harapan.
Ada yang berharap pada tahun baru ini bisa lebih sukses dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Ada yang berdoa diberi kemudahan untuk berbagai usaha dan upaya, dan untuk keluarganya yang sakit tentunya ada doa dan harapannya agar mereka diberi kesembuhan.
Dalam menjalani kehidupan, segala hal diawali dengan doa dan harapan. Pastinya doa harapan itu pasti baik semua. Namun yang pasti juga, tidak semua doa harapan terkabulkan.
Sehingga, seperti yang kita jalani dan saksikan bersama dalam kehidupan yang sudah berlalu, kekecewaaan pasti muncul untuk di hati mereka yang tidak mencapai ekspektasi dari harapannya. Ada juga yang gembira dan bahagia karena apa yang menjadi harapan tercapai saat itu.
Tidak cukup berhenti sampai di situ. Tak cukup berhenti pada kecewa atau gembira. Karena kita harus tetap dan terus berjalan.
Kalau kita mau jujur dalam perjalanan hidup ini, dengan profesi sebagai apapun, pastinya kita berharap mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan. Dan tahun 2024 ini menjadi momentum penting dalam perjalanan manusia untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang berkelanjutan dan tidak berkesudahan.
Transformasi sosial dan budaya di berbagai lapisan masyarakat memandu arah perubahan menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang arti sejati kedamaian dan kebahagiaan.
Kita punya keyakinan bahwa kita ini dibentuk oleh 5 unsur alam (panca maha butha) yaitu apah, bayu, teja , akasa dan pertiwi. Apa yang ada di alam itu ada dalam diri, sehingga ada alam besar (buana agung) dan diri kita sebagai alam kecil (buana alit).
Dalam ajaran kita ada sebuah pedoman atau falsafah hidup yang disebut Tri Hita Karana Semua umat Hindu pasti tahu Tri Hita Karana ini, yang merupakan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan, yaitu harmonisasi terhadap Tuhan, manusia, dan alam semesta.
Dan dalam konsep yang lain kita mengenal konsep alam besar (buana agung ) dan (buana alit). Buana agung adalah alam semesta, dan buana alit adalah diri kita yang merupakan bagian dari buana agung. Dan tubuh kita dibentuk oleh unsur-unsur alam, dan diyakini apa yang ada di alam semuanya ada juga dalam diri kita dalam wujud kecil.
Berkaitan dengan cara atau jalan untuk mencapai kedamaian dan kebahagiaan, maka semua dimulai dari dalam diri kita karena sejatinya semuanya ada di dalam. Tapi banyak orang yang mencarinya keluar padahal semuanya ada di dalam.
Di dalam diri kita ada percikan Tuhan yang menjiwai kita yang namanya Jiwatman, dan Manu, Manah, adalah unsur manusianya yang ada dalam diri kita yaitu pikiran. Sedangkan alam semesta itu adalah tubuh kita sendiri yang tersusun dan terbentuk dari unsur-unsur alam. Sehingga untuk mendapatkan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup, semuanya dimulai dari dalam diri kita.
Pertanyaannya sudahkah kita berdamai dengan pikiran (manu/manah) dan hati/Nur/Tuhan yang ada dalam diri kita? Sudahkah kita harmonis dengan pikiran (manu/manah) dan harmonis dengan hati/Nur/Tuhan yang ada dalam diri kita.
Ketika kita bisa berdamai dan harmonis dengan Tuhan, manusia dan alam semesta yang ada dalam diri kita, maka kita akan dapatkan kedamaian dan kebahagiaan di kehidupan yang lebih besar lagi, baik itu kehidupan di keluarga, lingkungan maupun masyarakat yang lebih luas lagi.
Sering kita melihat saudara, teman ataupun orang lain di sekitar kita yang diliputi dengan rasa ketakutan, khawatir, perkelahian dan banyak kita temui dan kita dengar berbagai macam keluhan-keluhan, dan itu salah satu ciri yang paling mudah menilai bahwa orang itu belum berdamai atau belum harmonis dengan yang ada dalam dirinya.
Ada pendapat, bahwa tubuh kita adalah tegalan tempat kita bercocok tanam untuk menabur benih karma yang kelak pahala dan buahnya akan kita nikmati sendiri. Maka taburlah benih-benih yang baik ditegalanmu ini untuk mendapatkan hasil yang baik.
Kehidupan kita ini ibarat rumah yang megah, tempat tinggal dan berlindung dari Sang Jiwa dalam perjalanannya. Namun sayangnya banyak orang memperlakukan rumah kehidupannya ini dengan cara tidak baik, sehingga rumah kehidupan ini menjadi tempat yang tidak nyaman.
Ketika kita menyadari bahwa tubuh ini adalah rumah bagi Sang Atman yang tinggal di dalamnya, dan tubuh ini ibarat semesta kecil bagi Atman selama ada di kehidupan ini, maka semestinya kita akan merawat dan menjaga tubuh ini sebagai rumah bagi Sang Atman, meskipun tubuh ini hanya rumah sementara, tapi sangat penting bagi kita dalam perjalanan dalam kehidupan ini.
Jika kita tidak menghargai, serta merawat dengan baik rumah Sang Jiwa ini, maka rumah Sang Jiwa ini akan tidak memberikan rasa nyaman bagi Sang Jiwa penghuni rumah kita untuk tetap berdiam didalamnya. Itulah sebabnya banyak orang sampai melakukan bunuh diri, karena jiwanya sudah tidak nyaman dan tidak tahan lagi tinggal di dalam tubuh ini.
Namun bilamana tubuh ini menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi jiwa, kehidupan akan bisa dijalani dengan rasa suka cita penuh kedamaian dan kebahagiaan. Dengan damai dan bahagia dimulai dari dalam diri kita sudah pasti ketika kita keluar berinteraksi dengan semesta yang besar maka sudah dipastikan kedamaian dan kebahagiaan akan kita dapatkan. [T]
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...