Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
Jenis manusia yang paling terbuka adalah para seniman. Penyair termasuk di dalamnya, selain pelukis, dramawan, aktor/aktris, penulis/pengarang, atau yang terkini: kreator digital. Mereka, orang yang dengan mudah mengekpresikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Terbuka, apa adanya, begitu jujur, hingga bahkan ada yang menganggap mereka terlalu polos juga naïf. Sikap yang anehnya kini dianggap sebagai sebuah kelemahan. “Drama”, istilah anak muda kekinian.
Dalam dunia kerja, bersikap terbuka bisa menjadi “baik” juga sebaliknya “buruk”. Jika punya atasan yang terdidik dalam budaya Barat, keterbukaan sangat dihargai. Mereka justru tidak suka dengan kebiasaan suka menutup-nutupi sesuatu, “bicara di belakang”, atau kebiasaan bergunjing/bergosip, menyia-nyiakan waktu dengan mengobrol atau juga, bekerja sambil menggerutu.
Terbuka, dalam hubungan personal dengan rekan kerja, sekarang justru bisa dipakai “senjata” untuk menyerang balik. Bicara lepas dan apa adanya menjadi ibarat dua sisi pisau yang membuat prestasi juga caci maki. Kita terlalu biasa menilai seseorang hanya dari “apa kata orang lain” tentangnya. Objektivitas menjadi luntur. Ada istilah di negeri kita: ‘termakan omongan orang lain’.
Sejak dulu, saya memilih terbuka terutama soal skizofrenia. Dengan sadar dan yakin bahwa itu membuat saya lebih bebas dan nyaman. Tentu pada situasi tertentu, membuat saya menjadi bahan omongan—dari sana saya belajar untuk (hanya) bicara pada orang yang punya pengetahuan kesehatan mental, atau minimal tidak gampang menghakimi orang lain, terlebih soal kekurangan diri. Kekurangan yang dalam kacamata tertentu sesuatu yang biasa saja.
Terbuka itu berbahaya. Terutama bagi mereka yang hati dan jiwanya tertutup. Mereka yang biasa bilang suka jika suka dan tidak suka jika tidak suka, membuat kebiasaan yang diajarkan sejak kanak-kanak, misalnya “jangan marah-marah”, “jangan menangis” menjadi sesuatu yang “tabu”.
Kita sudah sejak lama biasa menekan emosi, represi yang suatu waktu bisa “meledak” menjadi histeria, kesurupan, bahkan budaya amuk—menjadi ngamuk dan mengamuk, menghancurkan barang-barang, memukul, juga membakar. Pada titik ekstrim, tawuran atau kerusahan massal.
Andaikata sejak kecil kita diajarkan mengekspresikan emosi dan diapresi/didengarkan/diajak berdiskusi, pribadi yang terbuka dan menghargai orang lain secara alami akan tumbuh. Tidak ada lagi prasangka, apa pun jenisnya. Saat berbeda pendapat pun, orang tidak mudah tersulut amarah, karena semenjak dini diajarkan untuk berdialog. Bahkan ketika pendapat kita disanggah, menjadi hal yang biasa. Ruang keluarga menjadi tempat berbagi tentang apa yang dirasakan anak.
“Ibu bilang begini, tapi Ayah bilang begitu” lalu anak menjadi bingung memilih yang mana adalah awal dari “keterpecahan” pada jiwa anak. Pribadi terbelah bahkan skizofrenia pun sejatinya disebabkan salah satunya karena pola asuh. Dalam konteks lebih luas, budaya yang melahirkan dan menganggap biasa sikap hipokrit atau munafik punya peran atas itu.
Saat rating televisi atau konten media sosial angka tertinggi diraih oleh tayangan gosip atau juga konflik maka kita mesti berhati-hati. Bisa jadi ada yang tidak beres pada budaya di mana kita dibesarkan. Akhirnya, menjadi terbuka akan tetap dianggap “berbahaya”, karena kita telah lama sekali terbiasa dengan “ketertutupan”. Pada fase ini, puisi/cerita pendek/novel/teater/drama/film/wayang menjadi disukai karena “berani” mengungkapkan sesuatu dengan jujur; sesuatu yang dirindukan pada masa sekarang. [T]
Denpasar, 30 Desember 2023, 14:11 WITA
BACA artikel dan karya-karya lain dari penulis ANGGA WIJAYA
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...