Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
Jenis manusia yang paling terbuka adalah para seniman. Penyair termasuk di dalamnya, selain pelukis, dramawan, aktor/aktris, penulis/pengarang, atau yang terkini: kreator digital. Mereka, orang yang dengan mudah mengekpresikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Terbuka, apa adanya, begitu jujur, hingga bahkan ada yang menganggap mereka terlalu polos juga naïf. Sikap yang anehnya kini dianggap sebagai sebuah kelemahan. “Drama”, istilah anak muda kekinian.
Dalam dunia kerja, bersikap terbuka bisa menjadi “baik” juga sebaliknya “buruk”. Jika punya atasan yang terdidik dalam budaya Barat, keterbukaan sangat dihargai. Mereka justru tidak suka dengan kebiasaan suka menutup-nutupi sesuatu, “bicara di belakang”, atau kebiasaan bergunjing/bergosip, menyia-nyiakan waktu dengan mengobrol atau juga, bekerja sambil menggerutu.
Terbuka, dalam hubungan personal dengan rekan kerja, sekarang justru bisa dipakai “senjata” untuk menyerang balik. Bicara lepas dan apa adanya menjadi ibarat dua sisi pisau yang membuat prestasi juga caci maki. Kita terlalu biasa menilai seseorang hanya dari “apa kata orang lain” tentangnya. Objektivitas menjadi luntur. Ada istilah di negeri kita: ‘termakan omongan orang lain’.
Sejak dulu, saya memilih terbuka terutama soal skizofrenia. Dengan sadar dan yakin bahwa itu membuat saya lebih bebas dan nyaman. Tentu pada situasi tertentu, membuat saya menjadi bahan omongan—dari sana saya belajar untuk (hanya) bicara pada orang yang punya pengetahuan kesehatan mental, atau minimal tidak gampang menghakimi orang lain, terlebih soal kekurangan diri. Kekurangan yang dalam kacamata tertentu sesuatu yang biasa saja.
Terbuka itu berbahaya. Terutama bagi mereka yang hati dan jiwanya tertutup. Mereka yang biasa bilang suka jika suka dan tidak suka jika tidak suka, membuat kebiasaan yang diajarkan sejak kanak-kanak, misalnya “jangan marah-marah”, “jangan menangis” menjadi sesuatu yang “tabu”.
Kita sudah sejak lama biasa menekan emosi, represi yang suatu waktu bisa “meledak” menjadi histeria, kesurupan, bahkan budaya amuk—menjadi ngamuk dan mengamuk, menghancurkan barang-barang, memukul, juga membakar. Pada titik ekstrim, tawuran atau kerusahan massal.
Andaikata sejak kecil kita diajarkan mengekspresikan emosi dan diapresi/didengarkan/diajak berdiskusi, pribadi yang terbuka dan menghargai orang lain secara alami akan tumbuh. Tidak ada lagi prasangka, apa pun jenisnya. Saat berbeda pendapat pun, orang tidak mudah tersulut amarah, karena semenjak dini diajarkan untuk berdialog. Bahkan ketika pendapat kita disanggah, menjadi hal yang biasa. Ruang keluarga menjadi tempat berbagi tentang apa yang dirasakan anak.
“Ibu bilang begini, tapi Ayah bilang begitu” lalu anak menjadi bingung memilih yang mana adalah awal dari “keterpecahan” pada jiwa anak. Pribadi terbelah bahkan skizofrenia pun sejatinya disebabkan salah satunya karena pola asuh. Dalam konteks lebih luas, budaya yang melahirkan dan menganggap biasa sikap hipokrit atau munafik punya peran atas itu.
Saat rating televisi atau konten media sosial angka tertinggi diraih oleh tayangan gosip atau juga konflik maka kita mesti berhati-hati. Bisa jadi ada yang tidak beres pada budaya di mana kita dibesarkan. Akhirnya, menjadi terbuka akan tetap dianggap “berbahaya”, karena kita telah lama sekali terbiasa dengan “ketertutupan”. Pada fase ini, puisi/cerita pendek/novel/teater/drama/film/wayang menjadi disukai karena “berani” mengungkapkan sesuatu dengan jujur; sesuatu yang dirindukan pada masa sekarang. [T]
Denpasar, 30 Desember 2023, 14:11 WITA
BACA artikel dan karya-karya lain dari penulis ANGGA WIJAYA
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...