Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
Jenis manusia yang paling terbuka adalah para seniman. Penyair termasuk di dalamnya, selain pelukis, dramawan, aktor/aktris, penulis/pengarang, atau yang terkini: kreator digital. Mereka, orang yang dengan mudah mengekpresikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Terbuka, apa adanya, begitu jujur, hingga bahkan ada yang menganggap mereka terlalu polos juga naïf. Sikap yang anehnya kini dianggap sebagai sebuah kelemahan. “Drama”, istilah anak muda kekinian.
Dalam dunia kerja, bersikap terbuka bisa menjadi “baik” juga sebaliknya “buruk”. Jika punya atasan yang terdidik dalam budaya Barat, keterbukaan sangat dihargai. Mereka justru tidak suka dengan kebiasaan suka menutup-nutupi sesuatu, “bicara di belakang”, atau kebiasaan bergunjing/bergosip, menyia-nyiakan waktu dengan mengobrol atau juga, bekerja sambil menggerutu.
Terbuka, dalam hubungan personal dengan rekan kerja, sekarang justru bisa dipakai “senjata” untuk menyerang balik. Bicara lepas dan apa adanya menjadi ibarat dua sisi pisau yang membuat prestasi juga caci maki. Kita terlalu biasa menilai seseorang hanya dari “apa kata orang lain” tentangnya. Objektivitas menjadi luntur. Ada istilah di negeri kita: ‘termakan omongan orang lain’.
Sejak dulu, saya memilih terbuka terutama soal skizofrenia. Dengan sadar dan yakin bahwa itu membuat saya lebih bebas dan nyaman. Tentu pada situasi tertentu, membuat saya menjadi bahan omongan—dari sana saya belajar untuk (hanya) bicara pada orang yang punya pengetahuan kesehatan mental, atau minimal tidak gampang menghakimi orang lain, terlebih soal kekurangan diri. Kekurangan yang dalam kacamata tertentu sesuatu yang biasa saja.
Terbuka itu berbahaya. Terutama bagi mereka yang hati dan jiwanya tertutup. Mereka yang biasa bilang suka jika suka dan tidak suka jika tidak suka, membuat kebiasaan yang diajarkan sejak kanak-kanak, misalnya “jangan marah-marah”, “jangan menangis” menjadi sesuatu yang “tabu”.
Kita sudah sejak lama biasa menekan emosi, represi yang suatu waktu bisa “meledak” menjadi histeria, kesurupan, bahkan budaya amuk—menjadi ngamuk dan mengamuk, menghancurkan barang-barang, memukul, juga membakar. Pada titik ekstrim, tawuran atau kerusahan massal.
Andaikata sejak kecil kita diajarkan mengekspresikan emosi dan diapresi/didengarkan/diajak berdiskusi, pribadi yang terbuka dan menghargai orang lain secara alami akan tumbuh. Tidak ada lagi prasangka, apa pun jenisnya. Saat berbeda pendapat pun, orang tidak mudah tersulut amarah, karena semenjak dini diajarkan untuk berdialog. Bahkan ketika pendapat kita disanggah, menjadi hal yang biasa. Ruang keluarga menjadi tempat berbagi tentang apa yang dirasakan anak.
“Ibu bilang begini, tapi Ayah bilang begitu” lalu anak menjadi bingung memilih yang mana adalah awal dari “keterpecahan” pada jiwa anak. Pribadi terbelah bahkan skizofrenia pun sejatinya disebabkan salah satunya karena pola asuh. Dalam konteks lebih luas, budaya yang melahirkan dan menganggap biasa sikap hipokrit atau munafik punya peran atas itu.
Saat rating televisi atau konten media sosial angka tertinggi diraih oleh tayangan gosip atau juga konflik maka kita mesti berhati-hati. Bisa jadi ada yang tidak beres pada budaya di mana kita dibesarkan. Akhirnya, menjadi terbuka akan tetap dianggap “berbahaya”, karena kita telah lama sekali terbiasa dengan “ketertutupan”. Pada fase ini, puisi/cerita pendek/novel/teater/drama/film/wayang menjadi disukai karena “berani” mengungkapkan sesuatu dengan jujur; sesuatu yang dirindukan pada masa sekarang. [T]
Denpasar, 30 Desember 2023, 14:11 WITA
BACA artikel dan karya-karya lain dari penulis ANGGA WIJAYA
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...