Razia Warung? Ah, Saya Selalu Sukses Puasa Dikurung Warung
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
BALI memiliki sejumlah kategori perempuan sebagai ibu (melahirkan). Di antaranya terjadi kontradiksi. Di ujung adalah Men Brayut, ibu dengan 18 anak. Di ujung yang berlawanan ada Men Bekung, perempuan yang menikah dan tidak memiliki keturunan. Di antara kedua kutub tersebut mungkin Men Tuung Kuning, ibu yang terancam oleh suaminya sendiri karena melahirkan anak perempuan.
Memiliki anak dan tidak memiliki anak masih diperjelas dengan konsep anak yang diidealkan, yakni anak laki-laki. Bisa menjadi ibu bagi perempuan Bali, seperti Men Brayut, masih belum cukup jika hanya melahirkan anak perempuan. Perempuan harus bisa melahirkan anak laki-laki.
Kutub Men Bekung adalah siksaan sosial sepanjang hidup perempuan Bali yang tidak beruntung karena tidak subur. Derita Men Bekung adalah narasi patriarki bahwa yang tidak subur itu identik dengan perempuan. Jika pasangan suami istri tidak memiliki keturunan, vonisnya dijatuhkan dengan telak pada istri.
Derita perempuan ini tidak hanya sebatas si tertuduh tidak subur dan karena inilah si suami boleh menikah lagi sebagai pernyataan bahwa dirinya tidak ada masalah soal kesuburan. Laki-laki Bali dibela oleh kuasa purusa bahwa dirinya tidak mandul!
Derita Men Bekung hingga ke alam kematian. Roh-roh mereka yang semasa hidupnya menyandang pungkusan Men Bekung akan menyusui ulat-ulat raksasa (sedagul). Pandangan kuno di Bali dengan terus terang menyalahkan perempuan yang malang tersebut. Mereka dihukum secara sosial semasa hidup dan kelak di alam kematian harus menyusui ulat-ulat raksasa.
Pandangan kuno adat yang antisains sama sekali tidak bisa menjelaskan perkara-perkara reproduksi yang tidak subur. Hal ini juga tampak pada ketimpangan bahwa biang kerok tidak subur itu hanya perempuan. Kelak, ilmu kedokteran mulai mengimbangi pandangan kuno itu. Sains atau kedokteran menjadi pembela perempuan dengan permasalahan kesuburan.
Kutub lain adalah keluarga Brayut. Men Brayut memiliki 18 anak. Memang tidak ada persoalan apa-apa dengan jumlah anak yang banyak. Cerita ini menyampaikan pesan bahwa perempuan Bali harus menyerahkan tubuh dan seluruh hidupnya kepada anak-anak mereka. Kelak, Men Brayut yang menyimpan ideologi kesuburan berhadapan dengan alam medis modern yang diwujudkan dengan program keluarga berencana (KB) untuk menekan jumlah penduduk.
Sebagai program baru, apalagi bergesekan dengan wilayah mitologi atau keyakinan, tentu KB di Bali tidak langsung diterima. Telah terjadi pemaksaan semboyan KB “dua anak cukup, laki perempuan sama saja”. Hal ini bertentangan dengan ideologi purusa di Bali. Nilai anak laki-laki lebih utama ketimbang anak perempuan. Men Tuung Kuning misalnya menerima pesan ”anak perempuan harus kau cincang bersama ari-arinya untuk dijadikan santapan ayam jago”.
KB tidak hanya mengguncang ideologi patriarki tetapi juga menimbulkan konflik batin pada diri orang Bali, yaitu tepatnya pada sistem kepercayaan kelahiran kembali. Program ini dipandang sebagai penutup pintu kelahiran para leluhur kembali.
Men Brayut adalah ”jalan tol” bagi para leluhur untuk lahir kembali karena seorang perempuan akan melahirkan 18 kali. Sejalan dengan Men Brayut, peluang leluhur lahir kembali sangat tinggi. Lantas, KB membatasi secara drastis: hanya dua kelahiran. Seorang penulis asing menyatakan KB telah membunuh Men Brayut.
Dalam masa hampir setengah abad kemudian sejak KB digelontorkan di Bali dan ternyata telah memberi rasa nyaman dengan dua anak, menjadi indikator utama kesuksesan, baru disadari KB menimbulkan persoalan kependudukan.
Politik demografi Gubernur Wayan Koster dengan tegas menolak semboyan KB ”dua anak cukup”. Ini dinilai sebagai ancaman demografi. KB yang sukses di Bali tidak serta-merta mengurangi kepadatan penduduk. Jumlah penduduk tidak terbendung karena pada satu sisi jumlah kelhiran berhasil ditekan dan pada sisi lain pendatang tidak terkendali masuk. Gubernur Wayan Koster mendekonstruksi “dua anak cukup” menjadi empat anak atau lebih.
Terlepas dari kedua kutub demografik: Men Brayut dan Men Bekung dan di antara keduanya terjadi garis mediasi: Men Tuung Kuning; adalah nasib Ni Nyoman Pollok. Ia seorang penari legong dari Desa Kelandis. Nasibnya malang dalam pernikahannya dengan Le Mayeur.
Perkawinan itu hanya menguntungkan Le Mayeur. Ni Pollok digunakan sebagai model. Dari sudut pandang Le Mayeur atau dengan menggunakan perspektif berkesenian modern-barat, perkawinan pelukis dengan modelnya, tentu tidak mengandung persoalan. Mereka bahagia.
Namun bagi Ni Pollok, perkawinannya tidak membahagiakan dirinya. Hal ini disampaikan Ni Pollok kepada penulis biografinya Yati Mariyati Wiharja dalam buku Ni Pollok, Model dari Desa Kelandis (1976). Sumbernya adalah satu hal: Le Mayeur mengkolonialisasi Ni Pollok dengan cara tidak mengizinkannya mengandung. Jika ia sampai mengandung, melahirkan dan menyusui, seperti Men Brayut maka keindahan tubuh Ni Pollok akan hilang sehingga tidak menarik dijadikan model lukisan.
Melalui perspektif patiarki atau kuasa purusa seperti pada cerita Men Tuung Kuning, Ni Nyoman Pollok pun bergeming. Le Mayeur tetap pada prinsipnya dalam mengkolonialisasi dengan menggerus seluruh keindahan alam Bali pada tubuh istrinya (?), modelnya.
Sebagai suami memang ia mencoba ”membayar” Ni Pollok dengan uang, kain batik, kompor, lukisan. Mungkin semua pemberian suaminya diterima walaupun tidak sepenuhnya karena sebagai model profesional ia layak menerima bayaran. Anak tidak pernah digantikan dengan lukisan mahal, uang, dan museum.
Ketika kehidupan modern merayakan peringatan hari ibu, sebagai apresiasi atas perjuangan kaum perempuan Indonesia, yang kala itu ruang yang dijadikan ajang mengkonstruksi kiprah perempuan Indonesia adalah bangsa namun kelak, dan sebagaimana akhir-akhir ini, hari ibu mengalami domestifikasi atau penyempitan makna.
Makna perayaan hari ibu, sebagaimana dapat dibaca di media sosial tanggl 22 Desember 2023, adalah perempuan yang menjadi ibu. Momen perayaan ini menunjukkan hubungan mesra antara ibu dan anak. Pola perayaan hari ibu yang direkam media sosial adalah rasa bakti anak kepada ibunya, ucapan terima kasih atas jasa ibu, atau ucapan membayar janji seorang anak kepada ibunya.
Dalam situasi ini, perayaan hari ibu mengandung rasa tidak adil. Perempuan yang tidak memiliki anak, seperti Ni Nyoman Pollok, tidak bisa mendapat perayaan hari ibu. Karena itu, perayaan hari ibu juga harus direvitalisasi maknanya. Yang dirayakan adalah jasa para perempuan. Dengan revitalisasi makna ini, perayaan hari ibu terasa lebih adil. Di sini, Ni Nyoman Pollok berhak mendapat ucapan hari ibu karena ia rela memilih hidup terkolonialisasi sebagai pilihan perempuan Bali di jalan kuasa purusa.
Ni Pollok memang tidak melahirkan anak-anak; tetapi tubuhnya telah melahirkan hampir seluruh karya Le Mayeur. Lukisan-lukisan itu semua adalah anak-anak Ni Nyoman Pollok.[T]
SAYA geli membaca berita tentang razia warung saat Ramadhan. Razia yang katanya demi “mengamankan” masyarakat saat bulan puasa. Ini dilakukan setiap tahun. Ada apa dengan warung? A...
JUDUL tulisan ini merupakan tema diskusi Kupang Pesta Monolog yang coba menggali daya vital teater dan perannya dalam kehidupan konkret (aktual). Bahwa teater sebagai seni...
DI Bali, lumrah bila di tempat atau kawasan yang disucikan, jika melihat sesuatu, umpamanya benda, hewan atau binatang (langka), orang sering menyebutnya “Due”. (“Due” dibaca seper...
“KINI banyak pengarang muda yang bagus. Banyak sekali,” kata Seno Gumira Ajidarma saat ngobrol singkat pada suatu pagi dengan tatkala.co di Honeymoon Guest House, Ubud, 6 Juni lalu...
SEBUAH analog yang saya anggap pas untuk menggambarkan budaya korupsi di Indonesia adalah tradisi buang sampah sembarangan. Meski lingkungan jadi kotor, menghilangkan rasa nyaman,...
HALO sahabat mahasiswa super di manapun kalian berada, selamat beraktivitas. Semoga semua hidup berbahagia dan dalam lindungan dosen yang maha buasnya. Sangat super sekali kita mas...
Buta paling buruk adalah buta politik. Dia yang buta politik adalah dia yang tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahw...
DUNIA pendidikan, modal utama dalam perkembangan peradaban manusia. Inovasi-inovasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir terlahir di dalamnya. Sejarah perubahan besar-bes...
PAWAI pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 dibuka Presiden Joko Widodo alias Jokowi, di depan Monumen Bajra Sandi, Denpasar, Sabtu (11/6). Dan betapa senang mendengar Presiden...
Menikah itu sulit, tapi bercerai ternyata jauh lebih sulit. Saat mau menikah, yang penting hanya sedikit kemantapan hati, komitmen untuk sama susah sama senang, izin orang tua, sed...