Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
Yayasan Mudra Swari Saraswati, penyelenggara Ubud Food Festival dan Ubud Writers & Readers Festival, bekerja sama dengan Dana Indonesiana dan LPDP, dengan bangga mengumumkan acara terbarunya berjudul Festival Bali Berkisah, yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu dan Minggu, 9-10 Desember 2023, di berbagai lokasi di Denpasar, Bali, dengan Rumah Tanjung Bungkak sebagai venue utamanya. Beberapa sesi akan diadakan di ISI Denpasar dan TAT Artspace, sementara program sekolah diadakan di SDN 13 Sesetan, SMPN 1 Denpasar dan SMAN 3 Denpasar.
Festival ini hendak menjadi ajang perayaan kekayaan kesusastraan dan kebudayaan Bali, yang ingin mendorong para peserta untuk sekaligus merenungkan konteks sosial dan historis yang melingkupinya, melalui beberapa mata acara. Adapun mata acara yang akan disuguhkan dalam festival ini mengambil bentuk diskusi panel, lokakarya, program sekolah, wisata literasi dan kebudayaan kota, pertunjukan seni, pameran seni dan pasar kreatif.
Festival ini akan menampilkan berbagai sastrawan, seniman, akademisi serta budayawan Bali terkemuka, baik yang masih di awal karir mereka maupun yang sudah mapan, seperti Cok Sawitri, Gde Aryantha Soethama, Made Taro, Mas Ruscitadewi, Ni Nyoman Sani, Nirartha Bas Diwangkara, Oka Rusmini, Pranita Dewi, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, Putu Supartika, Rai Pendet, Putu Fajar Arcana, Raka Jana dan Wayan Jengki Sunarta, dan masih banyak lagi.
Adapun tema yang diusung dalam festival ini adalah Nusaning Carita atau Bali Pulau Cerita. Program festival tahun ini dikurasi oleh I Made Sujaya dan Ni Made Purnama Sari.
“Kami memandang tema ini cukup relevan untuk menghadirkan kembali keberagaman kisah yang pernah ada dan menjadi napas kehidupan masyarakat Bali. Kita menemukan begitu banyak karya sastra dari para pengarang Bali yang mengawinkan mitos dan dongeng ke dalam prosa-prosanya, sebagaimana juga karya yang menyoroti kondisi adat budaya dalam realitas masyarakat sekarang,” ujar kurator festival Bali Berkisah Ni Made Purnama Sari.
“Melalui topik-topik diskusinya, Festival ingin menghadirkan lagi linimasa kisah-kisah yang pernah tercipta, yang terinspirasi dari masa lalu, ditautkan dengan situasi kini, dan mudah-mudahan mampu menjadi refleksi ke masa depan,” sambungnya.
Untuk mendukung misi tersebut, maka diskusi panel tentang kesusastraan dan kebudayaan Bali yang dibingkai oleh konteks historis dan tantangan sosial-budaya terkini yang sedang dihadapi pulau tersebut akan menjadi suguhan utama dari festival ini. Sesi-sesi diskusi ini juga akan membahas bagaimana adat dan tradisi Bali ditampilkan dalam berbagai karya sastra dan kajian akademis, baik yang dituliskan oleh para sastrawan dan akademisi lokal maupun asing.
Selain membahas karya sastra dan seni Bali melalui kerangka tersebut, festival ini juga berupaya meletakkan kesusastraan Bali dalam lingkup yang lebih besar – yaitu kedudukannya dalam khazanah sastra Indonesia. Diskusi tentang isu-isu ini diharapkan dapat memicu para peserta festival untuk memikirkan kembali masa lalu dan masa kini kesusastraan Bali, untuk dapat menciptakan sebuah visi tentang kemana kesusastraan Bali akan dibawa nantinya.
Selain tema besar yang telah diangkat di atas, pada umumnya, Festival Bali Berkisah juga bertujuan untuk memantik kreativitas para pengunjungnya, terutama para anak muda.
“Kebudayaan dan kesenian telah menjadi bagian yang sangat penting dalam identitas Bali. Harapannya, acara ini dapat menginspirasi para peserta untuk semakin dalam mengeksplorasi kreativitas merekoa. Selain memantik semangat baru di antara mereka-mereka yang telah lama berkarya, festival ini juga diharapkan dapat menanam benih-benih baru yang akan menjadi masa depan kebudayaan dan kesenian Bali,” ujar Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati, Dwi Ermayanthi. [T]Rls/*]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...