Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Yayasan Mudra Swari Saraswati, penyelenggara Ubud Food Festival dan Ubud Writers & Readers Festival, bekerja sama dengan Dana Indonesiana dan LPDP, dengan bangga mengumumkan acara terbarunya berjudul Festival Bali Berkisah, yang akan diselenggarakan pada hari Sabtu dan Minggu, 9-10 Desember 2023, di berbagai lokasi di Denpasar, Bali, dengan Rumah Tanjung Bungkak sebagai venue utamanya. Beberapa sesi akan diadakan di ISI Denpasar dan TAT Artspace, sementara program sekolah diadakan di SDN 13 Sesetan, SMPN 1 Denpasar dan SMAN 3 Denpasar.
Festival ini hendak menjadi ajang perayaan kekayaan kesusastraan dan kebudayaan Bali, yang ingin mendorong para peserta untuk sekaligus merenungkan konteks sosial dan historis yang melingkupinya, melalui beberapa mata acara. Adapun mata acara yang akan disuguhkan dalam festival ini mengambil bentuk diskusi panel, lokakarya, program sekolah, wisata literasi dan kebudayaan kota, pertunjukan seni, pameran seni dan pasar kreatif.
Festival ini akan menampilkan berbagai sastrawan, seniman, akademisi serta budayawan Bali terkemuka, baik yang masih di awal karir mereka maupun yang sudah mapan, seperti Cok Sawitri, Gde Aryantha Soethama, Made Taro, Mas Ruscitadewi, Ni Nyoman Sani, Nirartha Bas Diwangkara, Oka Rusmini, Pranita Dewi, Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana, Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, Putu Supartika, Rai Pendet, Putu Fajar Arcana, Raka Jana dan Wayan Jengki Sunarta, dan masih banyak lagi.
Adapun tema yang diusung dalam festival ini adalah Nusaning Carita atau Bali Pulau Cerita. Program festival tahun ini dikurasi oleh I Made Sujaya dan Ni Made Purnama Sari.
“Kami memandang tema ini cukup relevan untuk menghadirkan kembali keberagaman kisah yang pernah ada dan menjadi napas kehidupan masyarakat Bali. Kita menemukan begitu banyak karya sastra dari para pengarang Bali yang mengawinkan mitos dan dongeng ke dalam prosa-prosanya, sebagaimana juga karya yang menyoroti kondisi adat budaya dalam realitas masyarakat sekarang,” ujar kurator festival Bali Berkisah Ni Made Purnama Sari.
“Melalui topik-topik diskusinya, Festival ingin menghadirkan lagi linimasa kisah-kisah yang pernah tercipta, yang terinspirasi dari masa lalu, ditautkan dengan situasi kini, dan mudah-mudahan mampu menjadi refleksi ke masa depan,” sambungnya.
Untuk mendukung misi tersebut, maka diskusi panel tentang kesusastraan dan kebudayaan Bali yang dibingkai oleh konteks historis dan tantangan sosial-budaya terkini yang sedang dihadapi pulau tersebut akan menjadi suguhan utama dari festival ini. Sesi-sesi diskusi ini juga akan membahas bagaimana adat dan tradisi Bali ditampilkan dalam berbagai karya sastra dan kajian akademis, baik yang dituliskan oleh para sastrawan dan akademisi lokal maupun asing.
Selain membahas karya sastra dan seni Bali melalui kerangka tersebut, festival ini juga berupaya meletakkan kesusastraan Bali dalam lingkup yang lebih besar – yaitu kedudukannya dalam khazanah sastra Indonesia. Diskusi tentang isu-isu ini diharapkan dapat memicu para peserta festival untuk memikirkan kembali masa lalu dan masa kini kesusastraan Bali, untuk dapat menciptakan sebuah visi tentang kemana kesusastraan Bali akan dibawa nantinya.
Selain tema besar yang telah diangkat di atas, pada umumnya, Festival Bali Berkisah juga bertujuan untuk memantik kreativitas para pengunjungnya, terutama para anak muda.
“Kebudayaan dan kesenian telah menjadi bagian yang sangat penting dalam identitas Bali. Harapannya, acara ini dapat menginspirasi para peserta untuk semakin dalam mengeksplorasi kreativitas merekoa. Selain memantik semangat baru di antara mereka-mereka yang telah lama berkarya, festival ini juga diharapkan dapat menanam benih-benih baru yang akan menjadi masa depan kebudayaan dan kesenian Bali,” ujar Ketua Yayasan Mudra Swari Saraswati, Dwi Ermayanthi. [T]Rls/*]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...