saat ruang dalam studio terlihat lenggang pintu terbuka lebar kuketuk perlahan lama tak berjawab kemanakah para penghuninya? setiap lorong kujelajahi
di sudut ruang tergeletak begitu rupa rumah purba penyair nuryana asmaudi tak bergerak aku masuki saja! bagai memasuki rumah keong
dengan langkah yang aneh mencoba berjalan sendiri menyusuri setiap lorong merasakan bagaimana menjadi sosok penyair
sesekali mendekati setiap orang yang kutemui tapi tak ada yang bereaksi saat kusapa orang-orang seperti tak percaya aku sang penyair itu
di luar angin berdesir menggoyang pucuk pepohonan beberapa lembar daun berjatuhan aku memungut dan menempelkan di wajah lalu berkata aku sang penyair itu! tapi masih juga orang-orang terdiam aku teriakkan dengan suara lantang aku nuryana asmaudi penyair pungguk merindukan bulan! kau tahu?
satu persatu aku tatap wajah-wajah yang membisu tapi tetap tak ada yang merespon
aku berlari menuju jalanan sambil kuteriakkan nama itu berkali-kali satu-dua orang menatap kudekati kau tahu aku penyair yang bermimpi merengkuh bulan
orang gila! katanya lalu pergi apa kau bilang aku gila? aku penyair!
kesal tak ada yang menggapi dengan langkah lunglai aku menuju sudut ruang snerayuza merunduk sambil menatap hampa lukisan-lukisan di dinding tak ada yang percaya aku penyair nuryana asmaudi keluhku dalam lelah sampai kemudian terlelap
dari balik pintu ada suara ketukan halus siapa di dalam? aku terjaga membuka pintu rumah sang pemilik datang membawa sejumput mimpi dari perjalanan jauh
aku keluar melayang-layang di langit berbatas dinding sampai terdampar di sudut snerayuza yang lain!
2. Rumah Panggung Snerayuza
itu rumah panggung snerayuza dikelilingi penuh pepohon liar tempat semadi sang maestro made budhiana adakah ia di dalam? kupanjat anak tangga dari kayu dengan hati-hati agar tak mengganggu di depan pintu aku berdiri ragu kuketuk perlahan tapi tak ada jawaban aku masuki saja rumah yang ditinggal itu sang maestro sedang terbang menabur warna cahaya jauh di gelap langit memasuki tubuh pelukis itu aku menjadi pelukis sungguh terasa gagah dan membanggakan dengan warna-warna yang berserakan di lantai aku memulai memoles kanvas dengan telapak tangan dengan kaki bahkan kadang dengan jidat tak tahu wujud yang terbentuk warna-warna berhamburan begitu saja memenuhi kanvas aku balurkan tubuhku dengan berbagai warna lalu berguling-guling di kanvas aku telah jadi pelukis itu kepada setiap orang yang datang kutunjukkan diriku penuh belepotan warna sesekali aku mendemontrasikan ketrampilanku melukis dengan tangan kiri mengapa? karena jika tangan kananku tak lagi berfungsi aku masih bisa menggunakan tangan kiri aku ingin sepenuhnya dalam hidup ini mengabdikan diri untuk tetap melukis tapi aneh orang-orang hanya menontonku mengapa kalian tak berkomentar? aku ini pelukis, maestro! kau harus tahu itu! orang-orang masih tetap diam tak berkomentar aku kesal lalu kembali mengguling-gulingkan tubuhku di kanvas seluruh penuh dengan berbagai warna tak beraturan karena orang-orang masih tetap diam aku menggulung diri dengan kanvas penuh warna sampai tak bergerak diam orang-orang hanya tetap menonton
3. Epilog
ah ternyata aku memang bukan penyair nuryana asmaudi atau pelukis made budhiana meski dapat memasuki rumah-rumah kehidupan itu aku tak dapat menjadi dirinya
snerayuza-umah panjer, oktober 2022-november 2023
TERUNYAN PADA SEBUAH LUKISAN
tubuh yang semadi teronggok di atas tanah hitam mata bekumu runcing dan tajam di wajah basah musim kemarau jangan kau tikam aku seperti itu
bilah bambu udara dingin pegunungan berkabut tipis diam pepohonan menebar wewangian menyimpan rahasia kematian semesta
mata bekumu tajam mengapa kau tatap aku seperti itu tersayat sebagian dari sisa waktuku untuk berbenah pulang mengikuti perjalanan senja detak terakhir di denyut nadi
snerayuza- umah panjer, november ‘23
DI ATAS MEJA PELUKIS MADE BUDHIANA
di atas meja ada kepala- kepala berserakan menggelinding ke berbagai arah seperti mencari badannya tak kutahu milik siapa raut wajahnya menakutkan mengejekku sambil berbisik mengapa tak kau lepaskan saja kepalamu seperti kepala-kepala ini? bebas menggelinding bersama kemana kau suka ayolah kau tanggalkan saja kepalamu di sini bertukar kepala dengan kepala-kepala yang kau suka kau boleh memilih
kepala-kepala itu menggelinding lagi ke segala arah seperti bermain petak umpet terlihat betapa riang
aku tercenung bimbang menjawab tantangan tapi entah ada apa tiba-tiba tanganku mulai bergerak gemetar kepala berputar-putar mengikuti arah jarum jam makin lama semakin kencang berontak ingin dilepas aku berteriak sekuat tenaga tapi kepalaku sudah lepas menggelinding di atas meja tersenyum bebas mencari kepala-kepala yang berserakan meninggalkan tubuhku tanpa kepala berdiri kaku
kepala-kepala yang menggelinding di atas meja bersorak gembira menyambut kepalaku yang baru lepas dari badan terasa aneh permainan ini dan aku tak mengerti
dalam kebingungan aku mencoba mencari kepalaku sendiri dengan meraba-raba tapi aku tak tahu yang mana kepalaku kuambil saja satu yang tertangkap dan kupasangkan pada tubuhku aku kembali menjadi manusia berkepala sungguh asing terasa kepala yang kukenakan tertawa sekeras-kerasnya bahkan mengejek sekali waktu menangis sejadi-jadinya sedih
aku tak tahu apakah kepala yang kukenakan itu kepalaku? aku ragu untuk kemudian mencoba mencari-cari lagi dimanakah kepalaku bersembunyi
di atas tumpukan buku ada sebuah kepala menempel di kanvas penuh warna pucat berair mata itukah kepalaku?
pelan -pelan kudekati dan katanya, kaukah kepalaku? air matanya mengalir semakin deras sementara kepala yang kukenakan membrontak tak mau lepas dari tubuhku “aku ingin tetap tinggal di sini!”
permainan ini semakin tak kumengerti aku tanyakan pada setiap orang yang kutemui “apakah kepala yang kukenakan ini kepalaku?” tak ada terdengar yang menjawab menghindar ketakutan sambil bersembunyi dalam warna-warna tebal di kanvas siapakah aku dengan kepala ini?
malam semakin larut aku lelah mencari kepalaku di kursi panjang aku duduk tanganku meraba-raba permukaan meja sampai akhirnya kepalaku terantuk di kanvas basah di atas tumpukan buku melekat keras aku meronta-ronta sampai kepala yang kukenakan terlepas menggelinding berkumpul dengan kepala-kepala yang lain dalam keletihan tanganku meraba-raba permukaan meja menyentuh sesuatu aku berteriak keras kepalaku! ini kepalaku! aku menemukan kepalaku
sungguh aku seperti menemukan kembali bagian dari hidupku yang hilang dalam perjalanan panjang menyusuri waktu
(denpasar, akhir oktober ‘23 sebuah puisi eksperimen).
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...