ALAM semesta berawal dari asal titik tunggal yang tidak mempunyai eksistensi waktu, ruang, materi maupun energi. Kondisi itu disebut pula sebagai ketiadaan. Awalnya alam semesta lahir dalam ketiadaan, kemudian terjadi ledakan dahsyat untuk menciptakan bentuknya. Kemudian siapakah yang mampu menciptakan, mengatur, dan mengendalikan ledakan titik tunggal itu hingga muncul dimensi ruang, waktu, materi, dan energi pada alam semesta ini? Bila kita berpikir secara jernih tanpa prasangka, maka pasti ada kekuatan Mahaagung yang mengurus semua proses menakjubkan itu. Dialah Tuhan Maha Pencipta alam semesta. Tuhan adalah pemilik ilmu, kekuasaan, dan hikmah yang tiada terbatas.
Sudah banyak ilmuwan yang memperdebatkan kehadiran alam semesta. Kehadiran alam semesta yang dimaksud seperti dari mana alam semesta itu ada, kapan alam semesta ada, atau bagaimana alam semesta tercipta? Para ilmuwan berdebat dengan membawa gagasannya masing-masing. Umumnya mereka yang berdebat dan mendapat atensi adalah yang mengungkapkan penciptaan semesta dalam kacamata ilmu sains. Namun, saya berpikir apakah hanya ilmuwan dari bidang sains saja yang bisa dalam menyampaikan gagasan terkait keterdugaannya dalam kemunculan alam semesta? Apakah bisa seorang sastrawan yang ahli dalam meramu kata berteori tentang kelahiran alam semesta?
Mungkin sangat aneh jika mendengar seorang penyair dapat mengemukakan bagaimana alam semesta ini lahir? Namun, jangan lupa bahwa karya sastra adalah tiruan dunia. Karya sastra memberi kesadaran kepada pembaca tentang kebenaran-kebenaran hidup, walaupun dilukiskan dalam bentuk fiksi. Hal ini menunjukan bahwa sastra mampu pemberi ilmu pengetahuan baru sebagai pengembangan ilmu baru melalui unsur ekstrinsiknya.
Aji Mancongol: Awal Mula Proses Penciptaan Dunia
Manusia terus berupaya untuk menggali pengetahuan yang dapat merepresentasikan alam semesta. Keinginan itulah yang melahirkan sebuah disiplin ilmu yang disebut kosmologi. Kosmologi merupakan disiplin ilmu yang secara spesifik membahas tentang alam semesta. Jika ditelusuri secara seksama dan menyeluruh terdapat banyak ajaran kosmologi salah satunya ksosmologi Hindu yang tertuang ke dalam teks-teks suci baik sruti maupun smrti.
Masyarakat Hindu di Indonesia, khususnya Bali, mempercayai kitab-kitab agama (nibandha) sebagai rujukan kehidupan beragama sehari-hari. Selain itu, pengetahuan tentang penciptaan alam semesta atau kosmologi banyak terdapat dalam karya sastra Jawa Kuna. Teks-teks ini sangat penting dikaji agar masyarakat mengetahui secara mendalam kosmologi dalam karya sastra Jawa Kuna. Salah satu karya sastra Jawa Kuna yang mengandung pengetahuan kosmologi ialah Tutur Aji Mancongol.
Lontar Tutur Aji Mancongol adalah salah satu lontar yang tersimpan di Unit Lontar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Sekilas dari aspek isi, Tutur Aji Mancongol menceritakan tentang asal mula proses penciptaan dunia beserta dewa dan bhatara; tempat berstana para bhatara atau dewa dalam tubuh manusia; tingkah laku manusia selama di dunia; serta akhir dari kehidupan yang berpatok pada ilmu Aji Mancongol atau ajaran yang diberikan oleh Sang Hyang Mancongol.
Munculnya semesta digambarkan mulai dari ketiadaan. Pada saat itu terjadi kilauan emas yang muncul tiba-tiba. Kemudian terciptalah paru-paru yang kemudian mengeluarkan berbagai organ lain seperti hati, batu ginjal, bola mata, jantung, serta Sang Hyang Taya (air). Sang Hyang Taya kemudian mengeluarkan Dewa Nawa Sangha. Setelah itu bumi dan langit terbentuk. Semua unsur di dunia seperti pengetahuan, agama, serta mahluk hidup juga terbentuk.
Hubungan Harmoni Tuhan, Manusia, dan Alam
Tutur Aji Mancongol para prinsipnya berpesan bagaimana manusia hidup dalam harmoni, baik dengan Tuhan, sesama manusia, maupun dengan alam. Manusia merupakan bagian dari alam semesta (kosmos) yang telah diciptakan oleh Tuhna Yang Esa dan sebagai abdi-Nya. Manusia diberikan kuasa oleh Tuhan untuk memanfaatkan, mengolah, dan menjaga potensi alam semesta yang telah diciptakan-Nya.
Manusia sebagai mahluk sosial tidak dapat hidup menyendiri. Mereka memerlukan bantuan dan kerja sama dengan orang lain. Karena itu hubungan antarasesama manusia harus selalu baik dan harmoni. Hubungan antar manusia harus diatur dengan dasar saling asah, saling asih dan saling asuh, yang artinya saling menghargai, saling mengasihi, dan saling membimbing.
Hubungan yang harmonis antara manusia dan alam juga perlu dijaga. Manusia adalah unsur yang paling menentukan upaya pengharmonisan itu. Secara kodrati, alam hanya akan memberikan reaksi terhadap segala perlakuan manusia kepada alam itu sendiri.
Agar terwujud keharmonisan antara manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan manusia dengan alam maka manusia harus memahami dan mengikuti aturan/susila dalam menjaga hubungan itu. Manusia dengan kecerdasan yang dimilikinya dapat menciptakan aturan atau etika untuk menjaga keharmonisan. Manusia di dunia dilarang membuat dosa, sebab kebenaran itu yang utama. Apabila melakukan keburukan, maka akan mendapatkan neraka dalam masa yang akan datang.
Oleh karena itu, manuai perlu melakukan hal-hal baik di dunia ini dengan mengimplementasikan ajaran “Tri Hita Karana”. Tri Hita Karana adalah ajaran untuk membina kerukunan, tidak hanya terhadap sesama manusia, melainkan juga terahadap Tuhan bahkan seluruh ciptaan Tuhan.
Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta yang terdiri dari tiga kata, yaitu: tri, hita, dan karana. Tri artinya tiga, hita artinya bahagia, dan karana artinya penyebab. Maka, Tri Hita Karana memiliki arti tiga penyebab kebahagiaan. Ketiga hubungan yang harmonis itulah yang diyakini akan membawa kebahagiaan, kerukunan, dan keharmonisan dalam kehidupan ini. Esensi ini yang ditekankan dalam Tutur Aji Mancongol.[T]
DERU puluhan sepeda motor bergema dari arah utara Kota Singaraja pada Senin, 29 Juni 2026. Satu per satu kendaraan itu bergerak perlahan melintasi Jalan Ngurah Rai menuju Gedung D...
Bali Kembali Diserang, Kali Ini Tanpa Ledakan
TANGGAL 12 Oktober 2002 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Bali. Ledakan bom merenggut ratusan nyawa dan menggunca...
NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan usaha, hingga berbagai tr...
PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana, sebab keniscayaan yang akan pembaca dapati....
HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Iya, hampir saja. Itu berarti b...
Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi dan tiang-tiang bangunan ikut...
KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses pemulihan roh kebudayaa...
IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah lama berhenti diajukan m...
PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu, Bre Redaktur Kompas Minggu.
Bagi saya, it...