Tuah Wanita Bali - Kebahagiaan saat Memberi
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
KARYA Agung Danu Kerthi hadir dan dihadirkan sebagai ungkapan terima kasih atas limpahan anugerah danau dan sumber daya air. Inti ritual ini adalah mendak tirta (menyambut air) serta meras danu lan gunung (mengupacarai danau dan gunung) yang berperan sebagai sumber kehidupan (amreta). Maka dari itu, subjek paling terlibat dalam ritual ini adalah mereka yang memanfaatkan air. Siapa saja mereka? Secara tradisional kami menyebutnya sebagai krama (masyarakat)Pasihan Bhatari Sakti Batur.
Pasihan—dalam teks Rajapuna Pura Ulun Danu Batur kadang tertulis pasyan atau pasihyan—merujuk pada daerah-daerah yang secara sosial-budaya terhubung dengan Pura Ulun Danu Batur. Menurut Rajapurana, air Danau Batur mengalir ke berbagai pelosok Pulau Bali. Bentang kawasan aliran air Batur membujur dari Tukad Unda (Klungkung) hingga ke Tukad Sungi (Tabanan) serta dari Tianyar (Karangasem) hingga ke Tukad Banyumala (Buleleng). Rajapurana Pura Ulun Danu Batur menyatakan jumlah anggota pasihan sebanyak 45 kawasan. Namun, secara nyata kini jumlahnya telah beranak-pinak menjadi sekitar 300-an kawasan. Pemekaran desa atau subak, serta pembukaan subak baru menjadi faktor meningkatnya jumlah pasihan.
Saya memilih kata “kawasan” untuk menegaskan bahwa objek pasihan tidak hanya subak seperti yang umum diketahui masyarakat. Lingkup pasihan jauh lebih luas. Anggota pasihan di dalam Rajapurana justru dominan merujuk ke desa. Desa pada arti yang paling dasar memang berarti ‘daerah’ atau ‘wilayah’, sehingga tidak harus dimaknai sebagai desa dalam makna yang umum saat ini. Selain desa dan subak, pasihan juga dapat mencakup puri dan pura.
Saya melihat pasihan berasal dari kata dasar sih. Kata ini selanjutnya mengalami afiksasi pa-an, sehingga menjadi pasihan. Sih berarti ‘kasih’, sedangkan konfiks pa-an menggiring maknanya sebagai suatu tempat. Maka, pasihan dapat diartikan sebagai ‘tempat yang terkasih’ atau ‘tempat yang mendapat kasih’. Penulisannya sebagai pasyan atau pahsyan di dalam Rajapurana pun terkait dengan tata penulisan aksara Bali yang terikat hukum sandi suara.
Kasih yang dimaksud dalam konsep ini secara material merujuk pada air dan tanah (lahan). Namun, secara rohani juga dapat dimaknai sebagai air suci (tirtha) bahkan ajaran (tattwa). Makna sih sebagai ajaran dibuktikan dengan adanya pura yang mengikuti tata laku spiritual Batur. Keberadaan pura seperti itu bisa dihubungkan oleh mitos atau adanya permohonan pelaksanaan nyanjan oleh penyungsung pura bersangkutan ke Pura Ulun Danu Batur. Nyanjan adalah ritual sakral yang digunakan untuk memilih seorang pemangku pura. Apabila proses sakral itu dilaksanakan, maka secara etis pura tersebut dapat dikatakan sebagai pasihan Batur.
Konsep Pasihan Bhatari Sakti Batur mengandung pesan konektivitas antarmasyarakat hulu-hilir Bali. Pasihan Bhatari Sakti memberi gambaran bagaimana setiap daerah di pulau ini diamanatkan untuk saling terhubung dan membutuhkan. Masyarakat yang tinggal di pegunungan membutuhkan sokongan masyarakat di tengah maupun pesisir. Hal yang sama berlaku sebaliknya.
Dalam kelindan hak dan tanggung jawab, Pasihan Bhatari Sakti Batur memiliki hak atas air, baik secara fisik maupun secara rohani yang menjelma dalam bentuk tirtha pangendag (awal menanam), tirtha panangluk mrana (menumpas hama), dan tirtha pangusaban (pascapanen). Ketika akan membangun sistem irigasi baru atau membuka sawah baru, masyarakat agraris di bentang otoritas air Batur biasanya akan menghadap ke Pura Ulun Danu Batur untuk memohon petunjuk.
Hak atas air yang diterima anggota pasihan diikuti dengan tanggung jawab untuk menyokong pelaksanaan upacara di Pura Ulun Danu Batur. Upaya menyokong ritual di Pura Ulun Danu Batur itu dilakukan melalui proses ngaturang sarin tahun (persembahan panen tahunan) pada Ngusaba Kadasa. Bentuk sarin tahun sangat beragam, ada yang berupa hasil hutan, kebun, pertanian, atau peternakan. Barang-barang yang dipersembahkan berupa beras, kelapa, kapas, kacang-kacangan, tuak, ayam, bebek, babi, kambing, kijang, termasuk kerbau.
Rajapurana Pura Ulun Danu Batur merinci jenis barang persembahan berdasarkan wilayah per wilayah. Jadi, wilayah satu dengan yang lain pasti berbeda, meskipun mereka bertetangga. Persembahan dari masing-masing anggota pasihan tampak disesuaikan dengan lanskap masing-masing daerah. Anggota pasihan di bagian selatan Pulau Bali cenderung mempersembahkan beras, kelapa, atau binatang kurban (babi, bebek, ayam), sedangkan pasihan di utara cenderung mempersembahkan kacang-kacangan, kapas, atau binatang kurban (kambing, kijang, bebek, ayam, dan kerbau).
Bagi saya, variasi persembahan setiap pasihan adalah bukti kecerdasan ekologis yang telah dikembangkan oleh leluhur Bali sejak masa silam. Variasi barang persembahan seolah memberi gambaran tata kelola Bali yang ideal. Bukankah semestinya Bali dikelola berdasarkan potensi setiap daerah?
Berbagi Peran, Saling Membutuhkan
Selama persiapan Karya Agung Danu Kerthi, saya menemukan cerita menarik dan sarat makna berkaitan dengan keberagaman potensi krama pasihan. Beberapa hari sebelum puncak upacara, salah satu utusan pasihan dari Bali Utara datang dan mempersembahkan beberapa tandan buah lontar. Pada sela-sela dialog formal penyerahan hasil bumi tersebut pimpinan desa itu bertanya—apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pertanyaannya kira-kira seperti ini, “Mengapa kami hanya diminta untuk mempersembahkan buah lontar, bukan yang lain?”
Jero Gede Batur Duhuran menjawab—jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia jawabannya kira-kira juga seperti ini, “Karena daerah Anda menghasilkan buah itu. Buah lontar itulah yang membuat kita terhubung. Kami tidak punya pohon lontar, sehingga membutuhkan peran Anda untuk melengkapi piranti upacara dengan hasil bumi yang tumbuh di sana. Kami mungkin bisa membeli, tetapi itu akan memutus hubungan kita.”
Jawaban itu membuat saya puas, demikian pula tamu kami. Setidaknya itu yang saya lihat dari respons mereka. Jawaban lugas dari Jero Gede seolah menegaskan bahwa pasihan tidak hanya bermakna spiritual. Hubungan dan interaksi antarmasyarakat menjadi misi penting lain yang dikandung praktik persembahan hasil bumi ini.
Leluhur kita di masa silam mungkin menitipkan nilai kekerabatan pada ritual agama. Dalam hal ini, Ngusaba Kadasa dan Karya Agung Danu Kerthihadir sebagai ruang saling mengenal dan memahami. Mereka yang berasal dari berbagai daerah minimal dapat bertegur sapa setahun sekali secara rutin saat Ngusaba Kadasa atau lima tahun sekali setiap dilaksanakan upacara pakelem.
Apa yang terjadi jika persembahan sarin tahun tidak pernah ada? Coba pula dibayangkan apabila tanggung jawab setiap pasihan dilakukan sekadar dalam bentuk punia uang. Saya yakin ikatannya tidak akan terlalu dekat. Dalam dunia digital seperti saat ini, bahkan ada peluang mereka menggunakan metode pembayaran punia secara digital via digital transfer. Secara metode tindakan itu jelas lebih efisien dan modern, selayaknya praktik dana punia via QRIS di pura.
Pada sisi yang lain, praktik pasihan juga mewariskan pesan solidaritas.Persembahan sarin tahun menunjukkan setiap komunitas sosial di Bali tidak pernah dan tidak bisa saling meninggalkan. Masyarakat hulu sebagai yang diamanatkan menjaga resapan air tetap disokong oleh masyarakat hilir yang memanfaatkan air. Inilah inti solidaritas Bali dari masa silam yang kearifannya perlu dan penting diambil untuk dimaknai kembali saat ini.
Bagi saya, masyarakat Bali wajib hadir saling melengkapi sebagai satu-kesatuan utuh tanpa tersekat batas administrasi, perbedaan kelompok, trah, wangsa, dan kelas sosial lainnya. Kita semua memegang peran satu sama lain. Maka, bergotong-royong adalah kunci membangun Bali yang lebih baik. Inilah nilai ideal yang dapat dipegang sebagai pelita merawat kemanusiaan. Kesetiakawanan adalah nilai mendasar untuk melahirkan kesetaraan dan kemajuan bersama, sebuah cita-cita yang telah lama dikhayalkan bangsa manusia. [T] [bersambung]
LAKI-LAKI menjadikan wanita sengsara, anak membuatnya bahagia. Sungguh? Betapa menyesakkan kisah ini, tapi ia bisa menjadi ungkapan dari zaman ke zaman: anak lebih dibutuhkan oleh...
BANYAK dari kita geli melihat seorang biker begitu sayang pada sepeda motornya. Setiap pagi dilap, dielus, ditepuk-tepuk. Malam sebelum tidur dilihat lagi, dilap, dielus lagi. Sea...
PAGI-PAGI di awal Juli aku ditelepon dramawan Putu Satria Kusuma. “Ole, Yudane sedang di Singaraja, tolong temani dia. Aku lagi di Denpasar,” kata Putu tentu dengan gaya bicara yan...
KITA bangsa yang pendek ingatan. Apa boleh buat. Sampai tingkat tertentu, dalam berkomunikasi pun tak ketinggalan kita memilih cara-cara ringkas. Bahkan jika itu harus dengan menyi...
KALAU sedang rikuh, kalau sedang tak kuat menahan pusing karena televisi terus saja menayangkan cerita-cerita seram, maka marilah kita mencoba mengingat satu sosok: Ibu. Kita akan...
Cerpen: I Putu Supartika TIDAK ada yang tahu sejak kapan pura kecil di tengah sawah itu berdiri. Yang pasti orang-orang di sekitar pura tahu pura itu sudah ada sejak kelahiran mere...
HIRUK-PIKUK perhelatan akbar sepakbola yang begitu menyedot antusiasme dunia dalam sebulan terakhir usai sudah. Piala Eropa (Euro) dan Copa America Centenario 2016 berakhir dengan...
PERNAH jadi trend sebuah berita bahwa ada sekolah di Kabupaten Gianyar yang hanya punya satu orang siswa kelas VI. Banyak kalangan berpendapat, dan tidak sedikit menyoroti bahwa in...
PESTA Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 berakhir. Banyak pentas seni lewat begitu saja, tapi banyak juga meninggalkan bekas dan kesan di hati sejumlah orang. Para seniman, terut...
WANITA itu terlihat pasrah. Matanya terpejam. Seolah bersiap melepaskan ruh dari raganya yang telah mati. Bagian bawah tubuhnya mengelupas, menjelma serpihan-serpihan tembaga. Itul...