SEJAK MERDEKA, Indonesia sudah 11 kali mengganti Kurikulum. Rerata Kurikulum di negeri ini berganti setiap 7 tahun. Ketika Kurikulum 2013 sedang suntuk diberlakukan,tiba-tiba Pandemi menghantam pada 2020 lalu muncul Kurikulum Prototife dan dikukuhkan menjadi Kurikum Merdeka pada 2021. Nyaris tiada kemantapan dinamis di kalangan guru dalam melaksanakan Kurikulum. Kegelisahan demi kegelisahan muncul sejak Pandemi Covid-19 di tengah wacana menghilangnya TPG dalam RUU Sisdiknas tahun lalu yang kontroversial itu. Beritanya, kini nyaris tak terdengar.
Kegelisahan lain adalah lambannya pemenuhan 1 juta guru P3K yang dijanjikan Mas Nadiem sejak menjabat sebagai Mendikbud Ristek. Kebijakan P3K diinisiasi untuk mengatasi kekurangan guru yang banyak pensiun. Kegelisahan berikutnya adalah berlikunya jalan guru menjelang pensiun untuk meraih tiket jabatan fungsional Guru Utama dengan golongan ruang IV/d melalui Penetapan Angka Kredit (PAK) walaupun semua persyaratan telah dipenuhi. Untuk sampai lulus PAK Guru Utama, guru wajib meneliti dan presentasi di hadapan dewan juri untuk mendapatkan predikat kelulusan (setara orasi ilmiah bagi jabatan guru besar di Perguruan Tinggi). Sebelum itu, guru wajib menulis buku dan mempublikasikan karya ilmiahnya di Jurnal terakreditasi dengan mengumpulkan angka kredit minimal 14 dari unsur publikasi ilmiah dan karya inovatif.
Setelah itu, guru wajib mengikuti Uji Kompetensi Jabatan Fungsional (UKJF) untuk mendapatkan sertifikat kelulusan. Sampai 2023, tidak banyak guru yang berhasil lulus UKJF (kurang dari 100 orang guru di seluruh Indonesia). Mereka adalah guru Jenderal yang berjuang dengan semangat literasi di atas rata-rata setara dengan pencapaian jabatan Guru Besar (Profesor). Namun, di antara yang sedikit itu pun, jalan berliku menghadangnya. Tidak dengan sendirinya bisa naik ke jafung Guru Utama dengan Golongan Ruang IV/d. Akar masalahnya bermula dari regulasi yang ‘’kurang ramah’’ guru. Inilah dilema guru di tengah semangat Merdeka Belajar dengan Kurikulum Merdeka.
Dalam suasana demikianlah Kurikulum Merdeka dijalankan dengan aneka tuntutan administrasi yang merepotkan guru. Namun, setiap kali Kurikulum baru diluncurkan, testimoni dari para guru yang beruntung mengikuti diklat selalu mengatakan Kurikulum terbaik pada zamannya. Oleh karena itu, Kurikulum di Indonesia cocok menggunakan pendekatan Desa, Kala, Patra, sebagaimana kearifan lokal Bali diinternalisasikan sejak dahulu hingga kini.
Kurikulum Merdeka adalah Kurikulum yang disesuaikan dengan desa (tempat), kala (waktu), patra (cara) zaman. Kurikulum apa pun namanya selalu mendapat tempat (desa) di hati pendidik sebagai pelaksana utama di akar rumput. Desa diartikulasikan sebagai semua tempat (rumah, sekolah, alam semesta dengan segala isinya) adalah sekolah kehidupan dengan menjadikan setiap orang adalah guru.
Dalam pembelajaran di sekolah, guru dapat berkolaborasi dengan para pakar dan praktisi untuk menguatkan alur pencapaian tujuan pembelajaran agar peserta didik tidak tersesat di belantara informasi tanpa filter. Selain meneladani guru di sekolah, peserta didik juga diinspirasi oleh pakar dan praktisi sehingga pembelajaran berlangsung secara kontekstual.
Semua tempat termasuk alam beserta isinya adalah sekolah kehidupan dengan jurusan beragam. Di situ peserta didik bersekolah sesungguhnya, tidak terpisah oleh ruang kelas sebagaimana diformalkan selama bertahun-tahun. Inilah semangat Merdeka Belajar dalam lokus desa (tempat) dengan kearifan Desa Mawacara.
Implikasinya dalam sekolah formal adalah penjabaran visi dan misi sekolah yang berbeda dengan keunikannya masing-masing. Semua warga sekolah mesti memahami visi misinya tanpa membanding-bandingkan dengan sekolah lain yang memang berbeda. Mereka mesti beradaptasi dan tunduk dengan Desa Mawacara pangkalan sekolahnya, yang visi-misinya disusun bersama.
Kala (waktu) dalam konteks Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berbasis kesadaran historis dalam konsep Tri Semaya : atita (dulu), wartamana (kini), dan nagata (nanti). Titik-titik garis waktu kesejarahan tidak boleh putus dan harus linier dipahami, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara oleh seluruh warga negara sebagai peserta didik di sekolah kehidupan. Inilah yang disebut kontinuitas dalam Trikon Ki Hadjar Dewantara. Bung Karno menyebutnya Jas Merah,“Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Sebuah ajakan untuk menghargai waktu dengan menyadari dialektika sejarah.
Patra (cara, metode) dalam Kurikulum Merdeka mengacu pada pembelajaran menggunakan metode eklektik sebagai kombinasi antara cara tradisional, modern, dan digital untuk mewahanai kebutuhan siswa secara optimal. Tidak ada satu pun metode terbaik dalam pembelajaran, karena semua metode tidak berdiri sendiri. Ini sejalan dengan teori aktor jaringan dalam sastra. Semua komponen penting, begitu juga dengan aneka metode, semuanya penting dan berkeunggulan, di samping punya kelemahan.
Tugas guru adalah menggabungkan keunggulan masing-masing metode dari yang tradisional, modern, dan digital untuk mencapai puncak prestasi. Prestasi yang diraih secara bermartabat tidak dengan menjelek-jelekkan metode yang satu dengan yang lain. Begitu pula halnya dengan pembelajaran demokrasi hari ini, kemenangan diraih dengan memuliakan lawan (di-wongke). Kesadaran demikian adalah bagian dari proses transformasi budaya yang cerdas dengan pendekatan teknohumanistik untuk meningkatkan mutu lulusan berkarakter Profil Pelajar Pancasila.
Kurikulum Merdeka dengan pendekatan desa, kala, patra adalah Kurikulum ideal bagi Indonesia yang wilayahnya luas dengan beragam adat, agama, budaya, suku, flora fauna, struktur geogafis, dan keberagaman lainnya. Ketika penulis menjadi guru pamong mendampingi guru peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Papua misalnya, ditemukan sampai hari ini masih ada yang menggunakan KTSP (2006) padahal Kurikulum 2013 sudah diganti dengan Kurikulum Merdeka.
Guru ini mengatakan tidak pernah membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). “Saya hanya fokus belajar membaca, menulis, dan berhitung. Pasalnya, siswa SMA di sekolah saya belum bisa membaca. Mereka mesti merdeka dari buta huruf untuk bisa membaca. Merdeka Belajar model apa yang harus dijalankan?’, katanya retoris melalui zoom metting.
Inilah potret disparitas pendidikan Indonesia kini di tengah pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka mudah diucapkan tetapi jalan berliku menghadang seperti pejuang memerdekakan negeri ini. Diperlukan semangat kerja keras, cerdas, ikhlas menuntaskan hingga merasuk ke rumah batin bangsanya, sebagaimana kerja nyata pahlawan bangsa. Selamat Hari Pahlawan 2023 : Semangat Pahlawan untuk Masa Depan Bangsa dalam Memerangi Kemiskinan dan Kebodohan. Merdeka ! [T]
BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berenc...
DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kel...
sore di gerbang tim.
jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,membiarkan...
SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa,...
Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu, 6 Juni, diikuti oleh 11 peserta.
Secara...
Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri...
Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan
Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai b...
KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah...
DOA UNTUK TETANGGA
Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yangsuka ber...
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific P...