MALAM itu, sebelum memasuki gedung pertunjukan, penonton diminta untuk membentuk dua barisan. Masing-masing barisan berisi sepuluh orang. Mereka mengantre, menunggu panitia mempersilakan. Pada waktu yang telah ditentukan, panita mulai menggiring dua puluh orang---yang mengantre itu---untuk memasuki pintu kecil berbentuk pintu lemari yang ditempel di pintu masuk gedung pertunjukan. Saking kecilnya pintu tersebut, penonton harus rela merunduk untuk bisa memasukinya. Dalam pertunjukan ini dibagi menjadi tiga sesi dengan jumlah maksimal 20 orang per sesi.
Saat memasuki gedung pertunjukan, penonton langsung disambut seorang perempuan muda yang sedang membacakan sebuah catatan, semacam esai personal atau catatan dalam buku diary. Perempuan itu membaca secara perlahan, juga penuh kehati-hatian. Suaranya lembut, seperti seorang ibu yang membacakan dongeng untuk anaknya yang manja---yang malam itu menolak untuk tidur lebih awal.
Benda-benda dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Tepat di tengah lantai pertunjukan, terdapat benda-benda dengan kesan masa lalu. Di situ ada keris, tusuk konde, kacamata, arloji, kain yang terlipat, dan benda-benda lain yang tampak tak kalah tuanya. Semua benda yang dipamerkan seolah memiliki kisahnya masing-masing.
Itulah sedikit gambaran tentang pertunjukan Lemari Neneks karya Enji Sekar yang digelar di IMXR (Studio 1/Black Box) Perum Produksi Film Negara, Jakarta, dalam program Laku Cipta Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 pada Sabtu (28/10/2023) malam.
Adegan dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Dalam pertunjukan Lemari Neneks Enji---begitu ia akrab dipanggil---tidak sendiri. Ia mengajak Alan Ilvnd, Arif Pam, Byakta BaBAM, dan Eti Purnama Sari sebagai performer; MAHAMBORO sebagai sound artist; Edo Doe sebagai creative assistant; Gilang Satmata sebagai videographer; dan Fidel Roselyne Savitri dipercaya sebagai production assistant.
Lemari Neneks dikemas seperti sebuah museum performatif yang hidup. Masing-masing performer menampilkan ingatan, kenangan---yang dalam bahasanya Enji disebut “pengetahuan diri”---mengenai leluhur perempuan mereka. Ingatan tersebut divisualisasikan dalam bentuk gerakan-gerakan teatrikal. Alan, Arif, Byakta, dan Eti melakukan tugasnya dengan baik. Eti, misalnya, ia mempertunjukkan banyak sekali kain kebaya tua, yang ia kenakan secara bergantian.
Eksplorasi Kenangan yang Tercecer
Lemari Neneks memang berangkat dari sumber daya “pengetahuan diri” yang berkaitan dengan kenangan dan trauma. Karya ini mencoba menelusuri pengetahuan tubuh dan memori kolektif yang tersimpan di dalamnya melalui eksplorasi tubuh dan pembongkaran isi lemari warisan leluhur perempuan mereka.
Bagi mereka, lemari dianggap sebagai benda yang dapat menyimpan ingatan, trauma, kenangan. Dan benar. Setidaknya begitulah fungsi utama lemari. Sebagai sebuah penemuan, lemari memang berfungsi sebagai tempat menyimpan; entah benda berharga-tak berharga, barang aib atau rahasia. Dan seorang nenek, hampir selalu memiliki benda-benda tersebut dalam lemarinya.
Adegan dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Apa saja ingatan kita tentang nenek? Itulah yang mencoba dijawab oleh pertunjukan Lemari Neneks. Melalui narasi yang dibacakan, penonton diajak untuk menyelami kembali kenangan-kenangan, atau barangkali trauma, di masa lalu, yang pernah kita alami.
Penonton diminta untuk tenang sejenak, duduk---“rebahan juga boleh,” kata Enji---untuk mengeksplorasi kenangan yang tercecer. Dengan musik yang melankoli, penonton mulai memasuki lorong masa lalu yang barangkali sudah lama tak mereka kunjungi.
Lemari Neneks mencoba memainkan psikologi penonton dengan mengajak mereka kembali memutar memori lama di kepala masing-masing. Menurut Enji, ini adalah usaha pertemuan sekaligus perjalanan temporal, spasial, dan historis, yang implikasi dan pemaknaannya diarahkan mampu mewakili lanskap yang lebih luas.
Adegan dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Setiap kenangan bisa dianggap berharga juga problematik jika itu menjelma menjadi trauma. Tetapi, bagaimanapun, seandainya memang yang kita punya sekarang tinggal kenangan, itu sudah sangat berharga. Seperti kata Mumu Aloha, itulah sebabnya manusia era digital sekarang keranjingan berfoto, bahkan sampai muncul istilah selfie---memfoto diri sendiri.
Kata Mumu, orang tak ingin kehilangan apa yang pernah dialaminya. Kita pernah di sana, hari ini berada di sini, besok pergi ke mana, dan semua itu akan berlalu, tertimbun waktu. Tapi, kita tak ingin melupakannya. Kita akan menjadikannya cerita masa lalu. Kita akan mengenangnya, suatu saat nanti, seperti lemari nenek yang berisi bermacam benda.[T]
Reporter: Jaswanto Penulis: Jaswanto Editor: Made Adnyana
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...