Catatan Kecil Putu Wijaya: Dokumentasi, Bagasi Pikiran...
DI samping kritik, dokumentasi juga rawan dalam kehidupan teater kita. Saya beruntung pernah dibonceng masuk Lincoln Center di New York oleh Mas Sal Murgiyanto yang saat itu (1987)...
MALAM itu, sebelum memasuki gedung pertunjukan, penonton diminta untuk membentuk dua barisan. Masing-masing barisan berisi sepuluh orang. Mereka mengantre, menunggu panitia mempersilakan. Pada waktu yang telah ditentukan, panita mulai menggiring dua puluh orang---yang mengantre itu---untuk memasuki pintu kecil berbentuk pintu lemari yang ditempel di pintu masuk gedung pertunjukan. Saking kecilnya pintu tersebut, penonton harus rela merunduk untuk bisa memasukinya. Dalam pertunjukan ini dibagi menjadi tiga sesi dengan jumlah maksimal 20 orang per sesi.
Saat memasuki gedung pertunjukan, penonton langsung disambut seorang perempuan muda yang sedang membacakan sebuah catatan, semacam esai personal atau catatan dalam buku diary. Perempuan itu membaca secara perlahan, juga penuh kehati-hatian. Suaranya lembut, seperti seorang ibu yang membacakan dongeng untuk anaknya yang manja---yang malam itu menolak untuk tidur lebih awal.

Benda-benda dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Tepat di tengah lantai pertunjukan, terdapat benda-benda dengan kesan masa lalu. Di situ ada keris, tusuk konde, kacamata, arloji, kain yang terlipat, dan benda-benda lain yang tampak tak kalah tuanya. Semua benda yang dipamerkan seolah memiliki kisahnya masing-masing.
Itulah sedikit gambaran tentang pertunjukan Lemari Neneks karya Enji Sekar yang digelar di IMXR (Studio 1/Black Box) Perum Produksi Film Negara, Jakarta, dalam program Laku Cipta Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 pada Sabtu (28/10/2023) malam.

Adegan dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Dalam pertunjukan Lemari Neneks Enji---begitu ia akrab dipanggil---tidak sendiri. Ia mengajak Alan Ilvnd, Arif Pam, Byakta BaBAM, dan Eti Purnama Sari sebagai performer; MAHAMBORO sebagai sound artist; Edo Doe sebagai creative assistant; Gilang Satmata sebagai videographer; dan Fidel Roselyne Savitri dipercaya sebagai production assistant.
Lemari Neneks dikemas seperti sebuah museum performatif yang hidup. Masing-masing performer menampilkan ingatan, kenangan---yang dalam bahasanya Enji disebut “pengetahuan diri”---mengenai leluhur perempuan mereka. Ingatan tersebut divisualisasikan dalam bentuk gerakan-gerakan teatrikal. Alan, Arif, Byakta, dan Eti melakukan tugasnya dengan baik. Eti, misalnya, ia mempertunjukkan banyak sekali kain kebaya tua, yang ia kenakan secara bergantian.
Eksplorasi Kenangan yang Tercecer
Lemari Neneks memang berangkat dari sumber daya “pengetahuan diri” yang berkaitan dengan kenangan dan trauma. Karya ini mencoba menelusuri pengetahuan tubuh dan memori kolektif yang tersimpan di dalamnya melalui eksplorasi tubuh dan pembongkaran isi lemari warisan leluhur perempuan mereka.
Bagi mereka, lemari dianggap sebagai benda yang dapat menyimpan ingatan, trauma, kenangan. Dan benar. Setidaknya begitulah fungsi utama lemari. Sebagai sebuah penemuan, lemari memang berfungsi sebagai tempat menyimpan; entah benda berharga-tak berharga, barang aib atau rahasia. Dan seorang nenek, hampir selalu memiliki benda-benda tersebut dalam lemarinya.

Adegan dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Apa saja ingatan kita tentang nenek? Itulah yang mencoba dijawab oleh pertunjukan Lemari Neneks. Melalui narasi yang dibacakan, penonton diajak untuk menyelami kembali kenangan-kenangan, atau barangkali trauma, di masa lalu, yang pernah kita alami.
Penonton diminta untuk tenang sejenak, duduk---“rebahan juga boleh,” kata Enji---untuk mengeksplorasi kenangan yang tercecer. Dengan musik yang melankoli, penonton mulai memasuki lorong masa lalu yang barangkali sudah lama tak mereka kunjungi.
Lemari Neneks mencoba memainkan psikologi penonton dengan mengajak mereka kembali memutar memori lama di kepala masing-masing. Menurut Enji, ini adalah usaha pertemuan sekaligus perjalanan temporal, spasial, dan historis, yang implikasi dan pemaknaannya diarahkan mampu mewakili lanskap yang lebih luas.

Adegan dalam pertunjukan "Lemari Neneks" / Foto: Jaswan
Setiap kenangan bisa dianggap berharga juga problematik jika itu menjelma menjadi trauma. Tetapi, bagaimanapun, seandainya memang yang kita punya sekarang tinggal kenangan, itu sudah sangat berharga. Seperti kata Mumu Aloha, itulah sebabnya manusia era digital sekarang keranjingan berfoto, bahkan sampai muncul istilah selfie---memfoto diri sendiri.
Kata Mumu, orang tak ingin kehilangan apa yang pernah dialaminya. Kita pernah di sana, hari ini berada di sini, besok pergi ke mana, dan semua itu akan berlalu, tertimbun waktu. Tapi, kita tak ingin melupakannya. Kita akan menjadikannya cerita masa lalu. Kita akan mengenangnya, suatu saat nanti, seperti lemari nenek yang berisi bermacam benda.[T]
Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana
BACA artikel lain terkait PEKAN KEBUDAYAAN NASIONAL 2023 atau artikel lain yang ditulis JASWANTO
DI samping kritik, dokumentasi juga rawan dalam kehidupan teater kita. Saya beruntung pernah dibonceng masuk Lincoln Center di New York oleh Mas Sal Murgiyanto yang saat itu (1987)...
SEJARAH pendidikan nasional dimulai ketika tumbuhnya ide nasionalisme. Sebelumnya telah bertradisi berbagai model persekolahan Nusantara, seperti “sekolah” bela diri, kebatinan ata...
SEHARIAN ini lini masa media sosial dipenuhi dengan eforia siswa SMA/SMK yang sedang merayakan kelulusan. Mulai dari status yang berganti hingga kabar dari portal media online tent...
KAMU lulus? Wow, selamat ya, selamat. Setelah melewati ujian nasional sebulan lalu, tepat di Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017, ini kamu dinyatakan lulus. Selamat, ya, selamat....
SECARA hitungan politik, Pilgub Bali 2018 sudah dekat, namun nama-nama bakal calon yang muncul dalam obrolan (muncul dengan sendirinya atau muncul melalui upaya sendiri-sendiri) ta...
TELAH agak lama kita tidak terlalu peduli pada seni peran. Teater kita (di Indonesia) saat ini dipenuhi dengan gerombolan orang yang diarahkan di atas panggung untuk melakukan adeg...
SIAPAKAH pemuda? Sebagian besar orang pasti berpikir secara sederhana bahwa pemuda adalah anak muda, remaja, arek, jejaka, perjaka, teruna, dan sebagainya. Sebagian lagi akan berpi...
RAMAYANA seperti ditakdirkan lahir untuk ditafsir. Ke mana pun ia menyebar, di sana ia “bermutasi” menjadi versi tersendiri. Tak terhitung pementasan, novel, cerpen, film, dan berb...
Ctrl + A menemui kata-kata yang telah menghitam. seluruh muasal, riwayat, penanda, silsilah adalah petualangan mendebarkan. sejak mula engkau terlahir dan buncah. kini aku yang re...
Cerpen: Ferry Fansuri ADA reaksi aneh jika Sarmin mengendus-dengus bau dari pakaian dalam wanita itu, ia tampak membuncah sumringah mirip anak jalanan saat sakauw kala menghirup ba...