DARI beberapa gedung yang menjadi tempat penyelenggara program Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 di kawasan Produksi Film Negara (PFN), Jakarta Timur, tampaknya Ex-Lab Studio PFN menjadi tempat yang paling sedikit dikunjungi---tentu saja jika dibandingkan dengan IMXR (Black Box Studi 1) atau tempat Dapur Bangsa diselenggarakan. Padahal, di gedung yang terletak tepat di sebelah tenda Dapur Bangsa itu, terdapat beberapa seni instalasi---yang menarik---yang dipamerkan.
Pameran seni instalasi tersebut diselenggarakan dari tanggal 20-29 Oktober 2023.
Saat memasuki ruangan Ex-Lab dari pintu samping, saya hanya mendapati beberapa volunteer yang sedang bertugas di sana. Tak ada satu pun pengunjung yang mampir atau sekadar menengok-nengok. Tetapi, anggapan itu ternyata salah, saat saya masuk ke ruang pameran, meski hanya lebih sedikit dari jumlah jari tangan, ternyata ada juga pengunjung di ruang tersebut. Beberapa dari mereka sedang terpaku mengamati seni instalasi yang dipajang di dekat pintu, lainnya asyik berfoto, dan sedikit yang menonton video di layar yang dipasang di beberapa sudut ruangan.
Saya mengedarkan pandangan, dan ikut terpaku pada seni instalasi yang terbuat dari besi---berbentuk seperti tower air---dan kain dengan berbagai macam gambar: tumbuhan, wayang, manusia, transportasi, dan hewan. Saya mendekat. Membaca narasi yang tertera di sebelahnya, dan mengetahui bahwa seni instalasi tersebut bertajuk "Mata Tenggelam" karya Gegerboyo dari Yogyakarta.
Seni instalasi "Mata Tenggelam" karya Gegerboyo / Foto: Jaswan
Di sebuah kertas panjang, mirip struk belanja, tertulis keterangan bahwa seni instalasi yang menjadi bagian dari kuratorial Sedekah Bumi Project PKN 2023 ini, terdiri dari instalasi dari besi, toren air, umpak temuan dari Rembang, batik, dan video. Karya ini hadir untuk merespon situasi "embung"---suatu cekungan yang berfungsi sebagai tampungan air hujan yang digunakan untuk pengairan, mencegah banjir, dan menjaga kualitas air tanah---yang semakin terpuruk di era modern ini. Dalam kertas keterangan tersebut, keterpurukan yang dimaksud meliputi kekeringan, penyalahgunaan fungsi, sampai terkikisnya kepercayaan lokal dalam merawat embung.
Setidaknya ada tiga hal yang dinilai menyebabkan situasi embung menjadi terpuruk: (1) pemilihan jenis tanaman oleh petani lokal yang menyebabkan cepat surutnya sumber air tanah; (2) hilangnya kepercayaan lokal terhadap mitos dan makhluk gaib penjaga embung; dan (3) program pemerintah yang tidak tepat sasaran, seperti embung-isasi. Ketiga hal tersebut tergambarkan dengan apik di atas kain yang dipasang di samping---kanan, kiri, belakang---tower besi, tempat sebuah toren air ukuran 300-an L diletakkan.
Seni instalasi "Mata Tenggelam" karya Gegerboyo / Foto: Jaswan
Karya Gegerboyo berisi rekaman data yang didapatkan saat ia berkunjung ke Rembang, Jawa Tengah, dan bertemu narasumber sekaligus melihat langsung situasi embung di sana. Data dan hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan menjadi seni instalasi yang terinspirasi dari tower air dan dikombinasikan dengan karya batik dan video. Sampai di sini, sebenarnya, karya instalasi Mata Tenggelam merupakan representasi dari sebuah punden, yang dalam pengertian umum, sering disebut sebagai tempat yang dihormati dan dikeramatkan. Tempat tersebut bisa berupa makam dan tempat pemujaan. Namun, di tengah zaman modern seperti sekarang, di beberapa tempat, punden tak lagi dianggap penting---bahkan, pelan-pelan, semakin dilupakan.
Selain Mata Tenggelam, tepat di sampingnya, instalasi tenda kanvas dan stensil cahaya, berdiri, seolah menarik kaki saya untuk mendekati dan mengamatinya. Instalasi itu bertajuk "Jalan Selamat", karya Hananingsih Widhiasri, seniman dari Semarang, Jawa Tengah.
Jalan Selamat adalah instalasi berbentuk tabung dengan berbagai gambar dan warna yang mencolok. Ada beberapa petani yang sedang memikul hasil bumi sebagai persembahan. Ada anak muda yang sedang bermain bola. Ada pula dua perempuan yang bernyanyi dan menari. Semua itu adalah ekspresi kegembiraan warga desa saat melakukan tradisi sedekah bumi.
Seni instalasi "Jalan Selamat" karya Hananingsih Widhiasri / Foto: Jaswan
Bagi Hananingsih, berdasarkan pada praktik sedekah bumi di Desa Sekararum, Rembang, dan Desa Lalang, Belitung, identifikasi sumber daya kebudayaan bergantung pada kesepakatan warga yang dipengaruhi oleh tradisi turun-temurun dan sesuatu yang sakral.
Menurut Hana, sakralitas tersebut kemudian membawa turunan bentuk profan yang lebih fleksibel dan multiplayer, juga memberi dampak baik pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial desa. Secara mengakar, sesuatu yang sakral dan profan dalam tradisi sedekah bumi ini mengarahkan pada jalan keselamatan---selamat dari ancaman rohani, aman dari ancaman duniawi. Jalan Selamat merupakan bagian dari kuratorial Sedekah Bumi Project PKN 2023.
Mata Tenggelam dan Jalan Selamat merupakan tanggapan kritis atas pembacaan ulang fenomena tradisi---khususnya sedekah bumi---di desa hari ini. Hasil pembacaan ulang fenomena sedekah bumi di beberapa daerah itu pada akhirnya diolah menjadi karya artistik yang menggambarkan kemungkinan untuk mengunggah ulang tradisi dalam balut kekinian.
Jika kita membayangkan suatu kebudayaan yang disokong banyak hal, desa, dalam beberapa hal, masih menjadi PR besar yang butuh partisipasi banyak pihak pula. Desa, tak boleh ditinggalkan!
Ekspresi Kota yang Semrawut
Naik ke lantai dua, terdapat beberapa instalasi yang menampilkan ekspresi kota urban. Keramaian ruang pameran memang bersumber dari beberapa karya instalasi di lantai ini. Ada musik disko, ada musik dj. Semua saling bertabrakan, seperti pasar malam---ramai dan penuh cahaya lampu.
Dari sekian banyak seni instalasi yang dipamerkan di lantai dua, entah kenapa, saya memilih karya bertajuk "Input Output" dan "Kabel Kusut". Mungkin karena letaknya di dekat tangga, di satu sisi, mungkin juga karena tampilannya yang mudah dibaca, di sisi lainnya.
Input Output merupakan seni instalasi karya Duta Adipati (Jakarta). Karya ini terdiri dari besi, manekin, layar LED, pengeras suara, kabel, lampu LED, dan seni video. Instalasi ini termasuk bagian dari kuratorial Temujalar PKN 2023 sub program TARKAM. A.K.AP.
Di tangan Duta, manekin itu tampak ganjil. Bagian badan, tangan, dan kaki tak menyatu, terpisah seperti habis dimutilasi. Kabel lampu LED dililitkan di tubuh manekin, sedangkan di kanan kirinya, terdapat pengeras suara. Yang menarik, tepat di dada manekin, diletakkan dua buah telepon genggam yang menyala menampilkan seorang remaja lelaki yang sedang live TikTok. Tubuh manekin tampak ramai dengan kerlap-kerlip lampu LED, seperti warung-warung di pinggiran Jalan Pantura.
Seni instalasi "Input Output" karya Duta Adipati / Foto: Jaswan
Projek ini seolah hendak menyampaikan bahwa interaksi sosial dalam ruang publik, khususnya di kota urban, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh manusia. Ia lekat, menyatu, dan bahkan mempengaruhi. Duta, sebagai seniman, seolah mengajak kita untuk merenungkan dampak teknologi dan isolasi sosial yang diakibatkannya. Dan, saya rasa, ia juga memperlihatkan bagaimana hiburan masyarakat Jakarta yang didominasi oleh teknologi audiovisual.
Selain Input Output, Kabel Kusut juga mencoba merekam bagaimana Jakarta telah dijerat, dililit, diteror oleh kabel-kabel fiber optik yang menjuntai kusut dan tiang listrik yang miring ke jalananan. Kedua hal yang semrawut itu, ditampilkan secara artistik, apa adanya, oleh Reinaldy Firza dan Rama Hilal S (Jakarta). Sebagai seniman, mereka berdua menggambar sosok manusia tersengat listrik dan seorang lelaki yang berteriak, berekspresi ketakutan. Tak hanya itu, visual kabel-kabel semrawut dan tiang listri berwarna merah juga dihadirkan.
Seni instalasi "Kabel Kusut" karya Reinaldy Firza dan Rama Hilal S / Foto: Jaswan
Kabel Kusut mencoba menampilkan ekspresi visual dari isu-isu tersebut. Kedua seniman menggambarkan secara artistik kondisi yang membahayakan masyarakat di jalanan. Dan sama seperti Input Output, Kabel Kusut juga bagian dari sub program TARKAM A.K.AP kuratorial Temujalar PKN 2023.
Setelah melihat-lihat pameran seni instalasi Sedekah Bumi dan Temujalar, kita menjadi sadar bahwa desa dan kota sama-sama memiliki persoalannya masing-masing. Persoalan itu begitu kompleks, seperti sulit untuk dihindari, ditangani, dan dipecahkan. Solusi seperti ngumpet, terselip, di antara tumpukan persoalan kolektif manusia yang makin hari makin sulit diselesaikan.[T]
Reporter: Jaswanto Penulis: Jaswanto Editor: Made Adnyana
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...