Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
PENGETAHUAN akan selalu berkembang, panca indra manusia akan terus menerima informasi, tetapi pikiran manusia yang menetukan akan ditindaklanjuti seperti apa informasi tersebut. Apabila pikiran dapat kita taklukan maka segala informasi bisa bermanfaat, sebaliknya apabila pikiran yang menaklukan seseorang maka segala kehancuran akan kita alami.
“Rasionalitas manusia seperti meteran. Jika meteran meleset maka akan ada banyak masalah pada bangunannya,” ujar Henry Manampiring, penulis buku Filosofi Teras, pada agenda bedah buku pada ajang Singaraja Literary Festival, 30 September 2023, di kawasan Gedong Kirtya Singaraja.
Manampiring bicara tentang bukunya yang berjudul Filosofi Teras utamanya membahas tentang stoisisme, yaitu kebahagiaan berasal dari dalam diri yang bisa kita kendalikan.
Di hari yang cerah dengan antusias penonton yang menonjol, namun juga tidak menggebu, Henry Manampiring menjabarkan sedikit perihal ilmu yang ia dapat dari berkarir sebagai penulis. Ilmu stoisisme pada khususnya telah ia bahas secara lengkap pada buku Filosofi Teras. Ketika mendengarnya pembahasan secara langsung semakin membuka dan mengulik logika kita.
Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh pendengar workshop tersebut, diantaranya adalah bagaimana cara kita dapat mengendalikan emosi agar mencapai kedamaian dalam diri? Ada 4 hal yang disebutkan oleh Henry Manampiring, yaitu melatih mindfulness, berdialog dengan diri sendiri, menganalogikan rasionalitas manusia seperti meteran, dan orang berilmu stoisisme adalah orang yang non-judgmental.
Jawaban tersebut mengarah pada ilmu Yunani Kuno yang dikenal dengan nama stoic atau stoisisme. Singkatnya, apabila kita mengaplikasikan ilmu tersebut maka kita akan hidup jauh lebih tenang, meskipun kita berada di dunia yang ribut dan padat aktivitas.

.
Sebagai manusia yang hidup dan dibesarkan oleh stigma masyarakat, terkadang kita melupakan jati diri kita, melupakan kekuasaan jiwa kita yang seharusnya mengontrol badan kasar kita. Sehingga, rasa cemas, marah, khawatir, curiga, dan lain sebagainya turut menghampiri pikiran kita dan mengurung diri kita pada lingkup emosi negatif.
Apabila kita mampu mengontrol emosi kita, dimana hal ini dapat dilatih dengan hal-hal yang telah disebutkan oleh Henry Manampiring pada kalimat sebelumnya, maka apapun situasinya kita akan tetap berdiri tegap, tidak melambung ke atas ataupun terjun ke bawah, tetapi berada di tengah- tengah dan seimbang.
Ilmu stoisisme mengajarkan kita untuk bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, tidak berekspetasi, dan tidak mengejar kebahagiaan. Dimana hal ini bertolak belakang dengan kepercayaan yang akhir-akhir ini tengah ramai diperbincangkan masyarakat, yaitu manifesting ataupun law of attraction.
Gagasan utama dari manifestasi dan juga law of attraction atau yang juga disebut LOA, adalah manusia dan alam semesta terhubung melalui hukum tarik-menarik. Apabila frekuensi kita rendah, yaitu cenderung berpikiran negatif maka yang akan datang kepada kita adalah yang yang buruk juga, dan sebaliknya.
Hal ini menumbuhkan kepercayaan dalam kehidupan sosial masyarakat bahwa kita bisa mendapatkan segala hal yang kita inginkan asalkan kita yakin bahwa itu adalah hal yang mudah digapai dan memposisikan diri kita seolah-olah sudah berada dan sedang melaksanakan kehidupan yang kita dambakan.
Misalnya, kita ingin hidup sejahtera, maka kita akan memvisualisasikan diri kita memiliki rumah yang besar dan tidak kekurangan secara finansial, sehingga dalam kehidupan sehari-hari kita akan berusaha untuk tidak merasa bersalah saat mengeluarkan uang untuk membeli barang yang kita inginkan, karena kita sedang menyesuaikan frekuensi diri kita agar dapat menarik frekuensi kehidupan yang kita dambakan.
Namun ternyata, seperti yang dikatakan oleh Henry Manampiring, bahwa sejak dulu beliau tak mengimplementasikan ilmu manifestasi dan LOA ini dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjalani hidup yang tenang, beliau percaya bahwa mengikuti alur takdir yang diberikan Sang Pencipta adalah jalan yang terbaik. Manifestasi mendatangkan ekspetasi, dan ekspetasi apabila tidak dalam ukuran yang tepat juga akan mendatangkan rasa cemas yang bisa menjadi sumber ketidaktenangan dalam kehidupan.
Serta, ia juga menyatakan bahwa manusia itu bukan bos yang bisa meminta kepada alam semesta untuk mengabulkan ini dan itu demi kesenangan manusia itu sendiri. Tuhan tahu apa yang setiap individu butuhkan, dan itu dapat berbeda satu sama lain, oleh karenanya lebih baik kita percaya kepada takdir Tuhan agar tidak membohongi dan mengecewakan diri sendiri.
“Manusia itu adaptif dan rasional,” ujar Henry Manampiring sambil tersenyum hangat menatap para audiensnya kala itu.
Kita pasti saja akan melewati hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, tidak sesuai dengan apa yang telah kita manifestasikan. Tapi kita sebagai manusia diciptakan untuk mampu beradaptasi dan segala hal yang kita lalui dapat masuk ke akal logika kita.
Ilmu stoisisme tidak bisa kita pahami hanya melalui satu buku bacaan saja, melainkan kita perlu mengekspansi pengetahuan kita tentang ilmu tersebut melalui berbagai sumber. Serta ilmu stoisisme apabila tidak dipahami dengan tepat juga bisa mendatangkan kekacauan, sehingga tetaplah menjadi manusia yang teliti, menganalisa, dan rasional dalam menerima setiap informasi. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...