“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
DRESTARASTA sebagai raja kerajaan Hastina sadar betul bahwa dirinya tidak pernah dinobatkan secara langsung menjadi raja. Ia adalah pengganti adiknya yang bernama Pandu. Raja Pandu memutuskan untuk mengasingkan diri ke tengah hutan karena terkena kutukan dari Resi Kindama yang tanpa sengaja dipanahnya ketika sedang bersenggama dalam wujud kijang. Pandu dikutuk akan langsung mati apabila ia bersenggama dengan istrinya. Karena situasi inilah ia mengasingkan diri dan meninggalkan tahta kerajaan.
Meski dalam kondisi fisik yang buta, Drestarasta tetap berusaha memutar roda pemerintahan sebaik-baiknya, seperti pula adiknya dulu. Ia bersikap adil kepada rakyatnya dengan cara memberikan imbalan dan hukuman yang setimpal atas perilaku mereka. Drestarasta memimpin Kerajaan Hastina dengan landasan sastra.
Situasi kerajaan mulai berubah ketika istri Pandu yang bernama Kunti diketahui melahirkan lima orang putra. Putra Kunti tersebut memang tidak langsung berasal dari hasil hubungan suami-istrinya dengan Pandu, tetapi kekuatan memanggil para dewata untuk memberikannya keturunan. Kekuatan ini adalah anugerah dari Resi Durwasa, pendeta pemarah yang berhasil dilayaninya dengan sangat sempurna. Mantra pemanggil para dewata itu bernama Aditya Hredaya. Dengan kekuatan mantra tersebut, Kunti memanggil Bhatara Dharma, Bayu, Indra, dan Aswina. Dari para dewa ini lahirlah Panca Pandawa yaitu Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa.
Kelahiran Putra Pandu membuat hati Drestarasta gusar. Ia ketakutan jika tampuk kekuasaan Negeri Hastina akan segera baralih ke tangan Panca Pandawa, meski itu memang hak anak-anak Pandu seutuhnya. Kegusaran inilah yang mendorong Drestarasta kemudian menyuruh paksa agar istrinya dengan cepat melahirkan. Bantuan dari Bhagawan Byasa menyebabkan kelahiran para putra Drestarasta berhasil.
Haus kekuasaan yang dirasakan oleh Drestarasta ternyata terwaris kepada anaknya, terutama tampak jelas dalam perangai Duryodhana dan Dursasana. Demi meraih kedudukan sebagai pangeran, sejak kecil dua putra laki-laki Drestarasta itu sesungguhnya sudah melakukan berbagai tindakan kriminal.
Dengan hasutan dari Sangkuni, Duryodhana berani mencampurkan racun di makanan Bhima hingga putra kedua Pandu itu terkulai lemas. Dalam situasi seperti itu, Duryodhana menghanyutkan Bhima ke dalam sungai yang dalam dan deras. Meski terbukti bersalah atas kejadian ini, Drestarasta tidak berani memberikan hukuman kepada anaknya. Ia sangat sayang kepada putranya dan ingin agar Duryodanalah yang menjadi raja Hastina.
Tindakan pembiaran yang dilakukan Drestarasta justru semakin membuat Duryodana merasa kebal hukum. Ketika dewasa, ia dengan Sangkuni merencanakan jebakan untuk membakar Panca Pandawa.
Pembakaran ini dilakukannya dengan melibatkan tuan rumah tempat anak-anak Pandu menginap. Walaupun rencananya berjalan lancar, Panca Pandawa berhasil menyelamatkan diri dari amukan api. Sekali lagi, Drestarasta tidak bergeming. Ia dengan kekuasaannya sama sekali tidak menghentikan tindakan brutal anaknya.
Tindakan bengis Duryodhana semakin memuncak ketika dua kerajaan yaitu Hastina dengan Indraprasta telah dibagi. Dalam suatu undangan persahabatan di Negeri Hastina, putra tertua Drestarasta itu mencurangi Pandawa ketika bermain dadu. Karena terlalu konservatif terhadap aturan, Yudhistira akhirnya mempertaruhkan kerajaan, saudara, dan istrinya sendiri.
Hal itulah yang menyebabkan Dewi Drupadi-istri Pandawa hampir saja dipermalukan dan diperkosa di balai persidangan Kerajaan Hastina. Untuk kesekian kalinya, Drestarasta cuci tangan terhadap keadaan. Meskipun seorang perempuan dipermalukan di hadapan balai siding. Ia bungkam.
Keseluruhan tindakan Duryodhana secara tidak langsung mendapatkan dukungan dari Raja Hastina. Drestarasta tidak bisa membedakan kedudukan dirinya, sebagai orang tua bagi Duryodhana atau menjadi orang tua bagi seluruh rakyat di negerinya. Hasrat menjadikan Duryodhana sebagai raja menjadikan Drestarasta mengalami situasi buta total. Ia tak mampu melihat dengan mata fisik sekaligus mata hati. Oleh sebab itulah berbagai tindakan kriminal yang dilakukan putra-putranya seolah mendapat restu darinya.
Tujuan utama nepotisme yang dilakukan Drestarasta terhadap Duryodhana adalah pembentukan dinasti yang ingin dibangun dari trahnya sendiri. Jika kekuasaan berada di bidak keluarga maka segala nikmat berupa materi dan kekuatan mengatur orang lain ada di genggamannya. Meski banyak pustaka Nitiraja sasana telah mengingatkan bahaya melimpahkan kasih (norana sih manglewihana sih ikang atanaya) yang berlebih kepada anak, Drestarasta tetap melakukannya.
Maka pada bagian akhir kisah Bharata Yuddha kita menyaksikan kehancuran kerajaan Hastina, termasuk pula kematian seluruh anak kesayangannya. Nepotisme sebagai laku yang lebih memilih hubungan kekerabatan daripada kemampuan seseorang dalam titik terekstrimnya pasti mengantarkan pada kehancuran.
Hal ini juga akan terjadi dalam tatanan suatu negara apabila sistem nepotisme menyusup seperti hantu di dalamnya. Dalam ruang kebudayaan Bali, nepotisme diungkapkan dengan nada yang satir, buka bantene masorohan ‘seperti banten yang disesuaikan dengan jenis/golongannya’. Di mana benih nepotisme ditiup, di sana badai kehancuran siap dituai. [T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...