Rumor Demo 4 November - Provokasi Media dan Jurnalisme Damai
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
DRESTARASTA sebagai raja kerajaan Hastina sadar betul bahwa dirinya tidak pernah dinobatkan secara langsung menjadi raja. Ia adalah pengganti adiknya yang bernama Pandu. Raja Pandu memutuskan untuk mengasingkan diri ke tengah hutan karena terkena kutukan dari Resi Kindama yang tanpa sengaja dipanahnya ketika sedang bersenggama dalam wujud kijang. Pandu dikutuk akan langsung mati apabila ia bersenggama dengan istrinya. Karena situasi inilah ia mengasingkan diri dan meninggalkan tahta kerajaan.
Meski dalam kondisi fisik yang buta, Drestarasta tetap berusaha memutar roda pemerintahan sebaik-baiknya, seperti pula adiknya dulu. Ia bersikap adil kepada rakyatnya dengan cara memberikan imbalan dan hukuman yang setimpal atas perilaku mereka. Drestarasta memimpin Kerajaan Hastina dengan landasan sastra.
Situasi kerajaan mulai berubah ketika istri Pandu yang bernama Kunti diketahui melahirkan lima orang putra. Putra Kunti tersebut memang tidak langsung berasal dari hasil hubungan suami-istrinya dengan Pandu, tetapi kekuatan memanggil para dewata untuk memberikannya keturunan. Kekuatan ini adalah anugerah dari Resi Durwasa, pendeta pemarah yang berhasil dilayaninya dengan sangat sempurna. Mantra pemanggil para dewata itu bernama Aditya Hredaya. Dengan kekuatan mantra tersebut, Kunti memanggil Bhatara Dharma, Bayu, Indra, dan Aswina. Dari para dewa ini lahirlah Panca Pandawa yaitu Yudhistira, Bhima, Arjuna, Nakula, dan Sahadewa.
Kelahiran Putra Pandu membuat hati Drestarasta gusar. Ia ketakutan jika tampuk kekuasaan Negeri Hastina akan segera baralih ke tangan Panca Pandawa, meski itu memang hak anak-anak Pandu seutuhnya. Kegusaran inilah yang mendorong Drestarasta kemudian menyuruh paksa agar istrinya dengan cepat melahirkan. Bantuan dari Bhagawan Byasa menyebabkan kelahiran para putra Drestarasta berhasil.
Haus kekuasaan yang dirasakan oleh Drestarasta ternyata terwaris kepada anaknya, terutama tampak jelas dalam perangai Duryodhana dan Dursasana. Demi meraih kedudukan sebagai pangeran, sejak kecil dua putra laki-laki Drestarasta itu sesungguhnya sudah melakukan berbagai tindakan kriminal.
Dengan hasutan dari Sangkuni, Duryodhana berani mencampurkan racun di makanan Bhima hingga putra kedua Pandu itu terkulai lemas. Dalam situasi seperti itu, Duryodhana menghanyutkan Bhima ke dalam sungai yang dalam dan deras. Meski terbukti bersalah atas kejadian ini, Drestarasta tidak berani memberikan hukuman kepada anaknya. Ia sangat sayang kepada putranya dan ingin agar Duryodanalah yang menjadi raja Hastina.
Tindakan pembiaran yang dilakukan Drestarasta justru semakin membuat Duryodana merasa kebal hukum. Ketika dewasa, ia dengan Sangkuni merencanakan jebakan untuk membakar Panca Pandawa.
Pembakaran ini dilakukannya dengan melibatkan tuan rumah tempat anak-anak Pandu menginap. Walaupun rencananya berjalan lancar, Panca Pandawa berhasil menyelamatkan diri dari amukan api. Sekali lagi, Drestarasta tidak bergeming. Ia dengan kekuasaannya sama sekali tidak menghentikan tindakan brutal anaknya.
Tindakan bengis Duryodhana semakin memuncak ketika dua kerajaan yaitu Hastina dengan Indraprasta telah dibagi. Dalam suatu undangan persahabatan di Negeri Hastina, putra tertua Drestarasta itu mencurangi Pandawa ketika bermain dadu. Karena terlalu konservatif terhadap aturan, Yudhistira akhirnya mempertaruhkan kerajaan, saudara, dan istrinya sendiri.
Hal itulah yang menyebabkan Dewi Drupadi-istri Pandawa hampir saja dipermalukan dan diperkosa di balai persidangan Kerajaan Hastina. Untuk kesekian kalinya, Drestarasta cuci tangan terhadap keadaan. Meskipun seorang perempuan dipermalukan di hadapan balai siding. Ia bungkam.
Keseluruhan tindakan Duryodhana secara tidak langsung mendapatkan dukungan dari Raja Hastina. Drestarasta tidak bisa membedakan kedudukan dirinya, sebagai orang tua bagi Duryodhana atau menjadi orang tua bagi seluruh rakyat di negerinya. Hasrat menjadikan Duryodhana sebagai raja menjadikan Drestarasta mengalami situasi buta total. Ia tak mampu melihat dengan mata fisik sekaligus mata hati. Oleh sebab itulah berbagai tindakan kriminal yang dilakukan putra-putranya seolah mendapat restu darinya.
Tujuan utama nepotisme yang dilakukan Drestarasta terhadap Duryodhana adalah pembentukan dinasti yang ingin dibangun dari trahnya sendiri. Jika kekuasaan berada di bidak keluarga maka segala nikmat berupa materi dan kekuatan mengatur orang lain ada di genggamannya. Meski banyak pustaka Nitiraja sasana telah mengingatkan bahaya melimpahkan kasih (norana sih manglewihana sih ikang atanaya) yang berlebih kepada anak, Drestarasta tetap melakukannya.
Maka pada bagian akhir kisah Bharata Yuddha kita menyaksikan kehancuran kerajaan Hastina, termasuk pula kematian seluruh anak kesayangannya. Nepotisme sebagai laku yang lebih memilih hubungan kekerabatan daripada kemampuan seseorang dalam titik terekstrimnya pasti mengantarkan pada kehancuran.
Hal ini juga akan terjadi dalam tatanan suatu negara apabila sistem nepotisme menyusup seperti hantu di dalamnya. Dalam ruang kebudayaan Bali, nepotisme diungkapkan dengan nada yang satir, buka bantene masorohan ‘seperti banten yang disesuaikan dengan jenis/golongannya’. Di mana benih nepotisme ditiup, di sana badai kehancuran siap dituai. [T]
KEMARIN banyak yang bertanya, “Benar akan ada demonstrasi besar-besaran 4 November nanti?” “Demo penistaan agama di Jakarta?” “Isu yang diseret-seret ke ranah politik.” Bukan orang...
Hai Gess! Kenken Kabare, Gess? Nu inget nyoblos, Gess? Calon Tunggal di Buleleng jani, Gess. Memusuh jak KOTAK KOSONG, Gess. Musuh ngenah aluh ngelawan! Musuh sing ngenah, kaden al...
Sekilas MEA ASEAN sebagai pasar tunggal kemudian disebut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), seperti dimuat pada laman Kementerian Luar Negeri RI (www.kemlu.go.id), Selasa 17 Maret 20...
BELAJAR dari figur dan tokoh perempuan, itulah barangkali pesan utama dari buku kumpulan cerpen berbahasa Bali terbaru I Made Suarsa, “Luh-Luh”. Buku ini memuat 19 cerpen yang kese...
Dear para jomblo di muka Bumi ini, Aku adalah kawanmu yang masih setia. Menjomblo bersama kalian adalah sebuah anugerah tak terbatas. Terima kasih karena kalian juga masih setia...
TIDAK banyak yang mengira bahwa kini masyarakat Eropa ternyata malas dalam mempelajari bahasa asing. Meski perkembangan pendidikan di Eropa sangatlah pesat, siapa sangka bahwa mere...
Prodi Pendidikan Seni Rupa, FBS, Undiksha, Singaraja, menggelar pameran bertajuk “Qilin” (Membaca Sosial Budaya Warga Pecinan Kota Singaraja) di Neka Art Museum, Jalan Sanggingan C...
SARJANA. Bak mobil yang telah turun kastanya dari kebutuhan tersier menjadi kebutuhan primer. Sarjanapun, maknanya semakin memudar. Terlalu banyak sarjana modern yang merasa sal...
ANDA pernah jatuh cinta? Baiklah, yang sudah pernah jatuh cinta sebelumnya pasti akan mengerti tentang pembahasan kali ini. Jika belum pernah, sayang sekali, anda hanya akan bisa...
Cerpen: Komang AstiariAKU rindu kampung halaman. Aku rindu nenek. Kepergiannya masih menyakitkan bagiku, batinku belum mampu menerima dia sudah pergi, selamanya. Apakah Tuhan mengg...