Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
KATA-KATA sangat berperan besar menjadi penghias prilaku kehidupan sehari-hari. Melalui kata-kata bijak menyejukkan, meneduhkan, sangat berperan menetralisasi suasana konflik, permasalahan bisa menjadi reda, tenang dan mencapai damai.
Dalam kontek inilah jiwa-jiwa bijaksana merefleksikan kata-kata berisi nilai kebenaran, kejujuran, kecerdasan, etika komunikasi serta komitmen yang baik. Konfigurasi nilai-nilai ini lebur menjadi nilai-nilai kebajikan dan kebijaksanaan yang bervibrasi menyentuh lubuk hati lalu dipanuti oleh orang banyak.
Jiwa-jiwa seperti inilah jiwa-jiwa seorang pemimpin yang semestinya. Mampu mengayomi rakyat, bukan memeras dan memecah belah rakyat, demi menduduki singasana emas yang bertujuan kekuasaan, lalu memabukkan. Akibatnya "merasa" menguasai kebenaran, lalu mengumpulkan gerombolan asura untuk menggerakkan atau melawan kelompok lain yang dianggap berseberangan.
Permainan ini sedang diatur dalam lapangan pertandingan komersial berbayar yang sangat meriah menggiurkan. Bila bayaran habis permainan pasti berhenti, barangkali disitulah ending kepuasan dan ketidakpuasan terjadi.
Walaupun demikian permainan ini tetap memiliki daya tarik yang tinggi. Bahkan demi uang cagar budaya nan sakralpun harus berganti wajah demi gelontoran dana dan raupan suara.
Tidak mudah memang membendung keinginan Kangsa, untuk menjadi Raja. Hingga memaksa ayahnya Raja Matura harus menanggalkan dan menyerahkan mahkota kerajaannya. Lalu memenjarakan ayahnya di penjara paling gelap di bawah tanah. Kemudian demi kekuasaannya Raja Kangsa menikahkan adiknya Dewaki dengan sahabatnya Basudewa.
Saat upacara pernikahan itu dia memanggil Rsi Jnanim untuk meramal masa depan adik kesayangannya dengan Basudewa.
Sesuai titah Dewata, Sang Rsi menyampaikan ramalannya bahwa: putra Dewaki yang ke delapan (ke 8) akan membunuh Raja Kangsa dari Kelalimannya. Mendengar ramalan itu, membuat Raja Kangsa sangat murka, lalu memenjarakan Rsi peramal itu ke penjara bawah tanah.
Untuk menyelamatkan diri Raja Kangsa, memandang putra-putra Dewaki itu sebagai panah-panah sakti Dewa Brahma, yang harus dilawannya. Hingga menjadikan rahim Dewaki sebagai medan perang, dan keponakan-keponakannya sebagai musuh yang menakutkan.
Akibatnya Raja Kangsa hanya sibuk berperang, mengukuhkan keangkuhannya menyelamatkan diri diatas Singasananya. Bukan melindungi rakyat dan mensejahterakannya.
Walaupun betapa besar penderitaan yang di alami adiknya, Kangsa tetap saja tidak peduli, harus membunuh semua keponakannya. Bertahun-tahun isak tangis Dewaki meratapi putra-putranya dibunuh, darahnya menetes di dinding tembok penjara, atas kebengisan kakaknya.
Saat itulah Basudewa mengayomi Dewaki dengan kata-kata bijak menguatkan prinsip-prinsip hati nurani. Keyakinan, Pelayanan dan Penyerahan diri. Akibat diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk mengandung dan melahirkan putra penegak Dharma, harapan masa depan dunia.
Mendengar kata-kata bijak suaminya itu Dewaki bangkit kesadarannya melayani titah dewata yang sedang terjadi dalam dirinya
Ketika keserakahan itu sudah mencapai puncaknya, lahirlah Sri Krishna sebagai putra yang ke delapan (ke 8), melalui perjuangan yang sangat berat Wasudewa membawanya ke pinggir sungai Yamuna di rumah sahabatnya. Perjalanan menembus air bah, hingga bisa tiba dengan selamat. Diserahkan kepada Dewi Yasodha sahabatnya, lalu memberikan putrinya sebagai ganti untuk menurunkan niat Kangsa untuk membunuhnya.
Saran bijak Basudewa kepada Dewaki, hingga kuat memikul beban penderitaan cinta kasih yang amat mendalam. Menguatkan terus "keyakinan" kepada-Nya, hingga mampu melayani Kuasa-Nya, lalu berpasrah diri atas Kehendak-Nya. Ketiga pronsip ini menguatkan Dewaki hingga mampu melahirkan putra yang mengayomi dunia.
Betapa pentingnya memahami prinsip-prinsip keyakinan ini, menjaga, memperjuangkan menjadi lebih baik lagi hingga menjiwai kewajiban, agar bervibrasi lebih dalam dan bisa bervibrasi luas. Betapa mulianya angan-angan suci para leluhur mengajarkan kebenaran ini.
Refleksi dari keyakinan itu, hadir melalui tantangan demi tantangan yang mesti dilewati, bukan cengeng dengan pembenaran praduga, hingga selalu takut dengan bayangan sendiri. Itu artinya kata-kata sudah bersinergi membangun kegelapan. Rekayasa dan konstruksi ketidak jujuran merambah meresapi langkah prilaku.
Kabut bayang-bayang ini menutupi kesadaran diri yang membuat gelisah, bingung bahkan setiap malam tidur bisa terganggu, bahkan mimpi aneh-aneh membingungkan konsentrasi. Semua aktivitas terganggu, akibatnya sibuk membangun proteksi-proteksi pembenaran, bukan keluar mencari kebenaran, seperti gambaran keyakinan Basudewa menerobos air sungai Yamuna di malam hari dalam waktu yang terbatas agar Sri Krishna kecil selamat dari pembunuhan.
Kewajiban atas dasar Keyakinan, Keberanian, Kepasrahan menghadirkan perlindungan Ilahi, yang bukan lagi bayang-bayang tetapi sinar cemerlang yang menerangi kegelapan, mencapai kemenangan
Apabila semangat dan energi semakin melemah membangun kesementaraan, dengan alasan yang beralasan takut penyerahan diri pada kebenaran tertuntun menjadi tenggelam dalam kegelapan (tamasika).
Tidak ada satu sungaipun yang tidak merindukan samudra, karena diarahkan untuk mengairi persawahan, hingga alurnya menjadi berguna. Tidak ada satupun ciptaan-Nya yang luput dari sinar matahari, tetapi karena takut dengan sinarnya, membuat goa untuk bersembunyi.
Walaupun bersembunyi dimanapun bila harus membayar karma buruk di masa lalu, maupun masa kini, akan tetap terjadi. Demikian sebaliknya karma baik akan selalu mengiringi menjadi kebahagiaan.
Oleh karena itu keyakinan, swadharma dan penyerahan diri adalah prinsip dasar penyempurnaan hidup mencapai pembebasan.
Semoga menjadi renungan dan refleksi. [T]
LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak tahu apa yang terjadi ke d...
ADA bunyi-bunyi yang hidup begitu lama di sekitar kita hingga akhirnya menghilang dari ingatan. Ia pernah hadir setiap hari, melintas di jalan-jalan kampung, menyelinap di antara...
DENPASAR – TATKALA.CO | Seniman-seniman dari Kabupaten Buleleng tampil dengan ciri khas Bali Utara pada Peed Aya (Pawai) Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 202...
Antara Takdir dan Kebebasan: Pertanyaan Tua yang Tak Pernah Usai Sejak manusia mulai bertanya tentang dirinya sendiri, satu pertanyaan selalu muncul: apakah hidup ini ditentuka...
Tari Siwanataraja selalu menjadi bagian penting dalam Peed Aya (Pawai Budaya) pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Tari yang disajikan secara megah dengan iringan...
“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….” Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hu...
JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya seperti temayang berpindah...
BULELENG – TATKALA.CO | “Festival ini merupakan ruang bersama untuk menunjukkan potensi dan kreativitas masyarakat. Melalui kegiatan seperti ini, kita dapat memperkuat jati diri d...
Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar. Selain lukisan, Gus Saka juga memajang hasil ngebo...
SEJAK kapan sebuah kata harus tunduk pada makna yang kaku? Padahal, di tengah masyarakat, makna kata itu justru tumbuh dan meluas. Bagi seorang epigraf dan arkeolog, kata ...