KATA-KATA sangat berperan besar menjadi penghias prilaku kehidupan sehari-hari. Melalui kata-kata bijak menyejukkan, meneduhkan, sangat berperan menetralisasi suasana konflik, permasalahan bisa menjadi reda, tenang dan mencapai damai.
Dalam kontek inilah jiwa-jiwa bijaksana merefleksikan kata-kata berisi nilai kebenaran, kejujuran, kecerdasan, etika komunikasi serta komitmen yang baik. Konfigurasi nilai-nilai ini lebur menjadi nilai-nilai kebajikan dan kebijaksanaan yang bervibrasi menyentuh lubuk hati lalu dipanuti oleh orang banyak.
Jiwa-jiwa seperti inilah jiwa-jiwa seorang pemimpin yang semestinya. Mampu mengayomi rakyat, bukan memeras dan memecah belah rakyat, demi menduduki singasana emas yang bertujuan kekuasaan, lalu memabukkan. Akibatnya "merasa" menguasai kebenaran, lalu mengumpulkan gerombolan asura untuk menggerakkan atau melawan kelompok lain yang dianggap berseberangan.
Permainan ini sedang diatur dalam lapangan pertandingan komersial berbayar yang sangat meriah menggiurkan. Bila bayaran habis permainan pasti berhenti, barangkali disitulah ending kepuasan dan ketidakpuasan terjadi.
Walaupun demikian permainan ini tetap memiliki daya tarik yang tinggi. Bahkan demi uang cagar budaya nan sakralpun harus berganti wajah demi gelontoran dana dan raupan suara.
Tidak mudah memang membendung keinginan Kangsa, untuk menjadi Raja. Hingga memaksa ayahnya Raja Matura harus menanggalkan dan menyerahkan mahkota kerajaannya. Lalu memenjarakan ayahnya di penjara paling gelap di bawah tanah. Kemudian demi kekuasaannya Raja Kangsa menikahkan adiknya Dewaki dengan sahabatnya Basudewa.
Saat upacara pernikahan itu dia memanggil Rsi Jnanim untuk meramal masa depan adik kesayangannya dengan Basudewa.
Sesuai titah Dewata, Sang Rsi menyampaikan ramalannya bahwa: putra Dewaki yang ke delapan (ke 8) akan membunuh Raja Kangsa dari Kelalimannya. Mendengar ramalan itu, membuat Raja Kangsa sangat murka, lalu memenjarakan Rsi peramal itu ke penjara bawah tanah.
Untuk menyelamatkan diri Raja Kangsa, memandang putra-putra Dewaki itu sebagai panah-panah sakti Dewa Brahma, yang harus dilawannya. Hingga menjadikan rahim Dewaki sebagai medan perang, dan keponakan-keponakannya sebagai musuh yang menakutkan.
Akibatnya Raja Kangsa hanya sibuk berperang, mengukuhkan keangkuhannya menyelamatkan diri diatas Singasananya. Bukan melindungi rakyat dan mensejahterakannya.
Walaupun betapa besar penderitaan yang di alami adiknya, Kangsa tetap saja tidak peduli, harus membunuh semua keponakannya. Bertahun-tahun isak tangis Dewaki meratapi putra-putranya dibunuh, darahnya menetes di dinding tembok penjara, atas kebengisan kakaknya.
Saat itulah Basudewa mengayomi Dewaki dengan kata-kata bijak menguatkan prinsip-prinsip hati nurani. Keyakinan, Pelayanan dan Penyerahan diri. Akibat diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk mengandung dan melahirkan putra penegak Dharma, harapan masa depan dunia.
Mendengar kata-kata bijak suaminya itu Dewaki bangkit kesadarannya melayani titah dewata yang sedang terjadi dalam dirinya
Ketika keserakahan itu sudah mencapai puncaknya, lahirlah Sri Krishna sebagai putra yang ke delapan (ke 8), melalui perjuangan yang sangat berat Wasudewa membawanya ke pinggir sungai Yamuna di rumah sahabatnya. Perjalanan menembus air bah, hingga bisa tiba dengan selamat. Diserahkan kepada Dewi Yasodha sahabatnya, lalu memberikan putrinya sebagai ganti untuk menurunkan niat Kangsa untuk membunuhnya.
Saran bijak Basudewa kepada Dewaki, hingga kuat memikul beban penderitaan cinta kasih yang amat mendalam. Menguatkan terus "keyakinan" kepada-Nya, hingga mampu melayani Kuasa-Nya, lalu berpasrah diri atas Kehendak-Nya. Ketiga pronsip ini menguatkan Dewaki hingga mampu melahirkan putra yang mengayomi dunia.
Betapa pentingnya memahami prinsip-prinsip keyakinan ini, menjaga, memperjuangkan menjadi lebih baik lagi hingga menjiwai kewajiban, agar bervibrasi lebih dalam dan bisa bervibrasi luas. Betapa mulianya angan-angan suci para leluhur mengajarkan kebenaran ini.
Refleksi dari keyakinan itu, hadir melalui tantangan demi tantangan yang mesti dilewati, bukan cengeng dengan pembenaran praduga, hingga selalu takut dengan bayangan sendiri. Itu artinya kata-kata sudah bersinergi membangun kegelapan. Rekayasa dan konstruksi ketidak jujuran merambah meresapi langkah prilaku.
Kabut bayang-bayang ini menutupi kesadaran diri yang membuat gelisah, bingung bahkan setiap malam tidur bisa terganggu, bahkan mimpi aneh-aneh membingungkan konsentrasi. Semua aktivitas terganggu, akibatnya sibuk membangun proteksi-proteksi pembenaran, bukan keluar mencari kebenaran, seperti gambaran keyakinan Basudewa menerobos air sungai Yamuna di malam hari dalam waktu yang terbatas agar Sri Krishna kecil selamat dari pembunuhan.
Kewajiban atas dasar Keyakinan, Keberanian, Kepasrahan menghadirkan perlindungan Ilahi, yang bukan lagi bayang-bayang tetapi sinar cemerlang yang menerangi kegelapan, mencapai kemenangan
Apabila semangat dan energi semakin melemah membangun kesementaraan, dengan alasan yang beralasan takut penyerahan diri pada kebenaran tertuntun menjadi tenggelam dalam kegelapan (tamasika).
Tidak ada satu sungaipun yang tidak merindukan samudra, karena diarahkan untuk mengairi persawahan, hingga alurnya menjadi berguna. Tidak ada satupun ciptaan-Nya yang luput dari sinar matahari, tetapi karena takut dengan sinarnya, membuat goa untuk bersembunyi.
Walaupun bersembunyi dimanapun bila harus membayar karma buruk di masa lalu, maupun masa kini, akan tetap terjadi. Demikian sebaliknya karma baik akan selalu mengiringi menjadi kebahagiaan.
Oleh karena itu keyakinan, swadharma dan penyerahan diri adalah prinsip dasar penyempurnaan hidup mencapai pembebasan.
Ini pergelaran tari Bali biasa, tetapi orang-orang yang hadir justru membludak. Maklum, pentas seni itu dibawakan oleh anak-anak dari Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga setiap sel...
GEMERLAP cahaya panggung di Gedung Ksirarnawa mempertegas para penari tampil dengan karakter dan busana yang berbeda. Beragam busana itu tentu bukan hiasan semata, tetapi mendukun...
Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan
Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan dunia, term...
SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean pelanggan yang datang silih berganti, sejumlah pegiat media dan...
SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong tangkinya. Seperti jutaan orang Indonesia lainnya, sa...
Kabupaten Buleleng, tepatnya di Desa Anturan, terdapat sebuah ritual peruwatan yang masih hidup dan diwariskan secara turun-temurun. Namanya Bebayuhan Sanan Empeg. Ritual inilah y...
DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini menimbulkan pertany...
PESTA Kesenian Bali (PKB) tahun 2026 ini telah memasuki tahun ke-48. Atmosfernya sudah tampak lewat berbagai atribut luar ruang yang dipasang, seperti baliho. Namun, entah mengapa...
DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, Marx dan Marcu...
SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini Palembang dibakar matahari. 14 Juni 2026, tepa...