Michel Platini Menuai Karma di Stade de France
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MENCAPAI jiwa-jiwa Sattwika yang sesungguhnya, dalam kehidupan dunia, memerlukan perjuangan panjang, pengetahuan dan keyakinan yang benar serta kuat tentang sifat-sifat suci (Atman) yang berstana meresap dalam diri sendiri, bagi setiap insan.
Sifat suci yang menjiwai, menuntun seluruh organ dan agen penggerak indriya, pikiran, rasa napsu dan ego terkendali, menyadari hukum sebab dan akibat dalam pergulatan dualitas, lalu menempatkan "kewajiban sebagai kewajiban".
Artinya pada tingkatan itu, tidak ada lagi ikatan terhadap hasil, tetapi memusatkan perhatian pada kualitas kerja sebagai persembahan (dhaksina=persembahan yang dijiwai kasih sayang).
Edukasi spiritual nan suci ini, memang sulit bagi kebanyakan orang di jaman Kaliyuga ini, yang digelapkan oleh kabut materialistik, membangun kebanggan semu. Sulit bukan berarti tidak bisa.
Dibalik itu semua Sinar suci Ilahi, mengetuk jiwa-jiwa yang terdidur lalap dalam kesunyian spirit yang tak disadari. Lalu keluar sebagai ragam masalah dunia, terutama persoalan materialistik yang mengoncangkan keseimbangan psikologis menjadi hidup tak berdaya.
Realitas inilah racun, bagaikan narasi cerita, Pengadukan lautan susu untuk mengembalikan keseimbangan dunia. Para Dewa dan Raksasa bekerja sama memutar gunung yang diikat oleh Naga Besuki, lalu yang keluar pertama adalah racun.
Dewa Shiva meminum racun itu demi keselamatan dunia. Itu artinya setiap pekerjaan apapun itu diawal memerlukan konsentrasi merasakan sulitnya masalah (racun), mesti ditempatkan tersendiri dengan kendali suci dan keyakinan yang kuat menembus rintangan yang ada.
Lalu bukan berebut hasil hanya untuk kesejahteraan dan nikmat sendiri saja, tetapi kesejahteraan bersama. Kelemahan sepanjang sejarah pun terjadi, semangat dan bersatu saat berjuang, tetapi berperang mati-matian saat berebut hasil yang ingin saling menguasai
Ketenggelam jiwa yang amat jauh dari kesadaran hidup bersama dan bersama-sama membangun negeri seperti realitas mendung langit Nusantara kini. Memerlukan kerja ekstra, pencerahan jiwa pengabdian (dharma) kepada Para Dharma demi tegaknya dharma di bumi.
Priotitas pendidikan karakter yang terabaikan, lalu pemutar balikan pemahaman dan pemaknaan ajaran suci, melahirkan jiwa-jiwa asura merongrong kebajikan dan pembangunan bangsa dan stabilitas sosial.
Memaknai carut marutnya situasi berkedok cerdas dan bijaksana namun, tetap busuk dalam wujud lain (jiwa-jiwa) Rajasika dan Tamasika merajalela didongkrak oleh kekuatan politik asura. Itu artinya bahwa gelombang jaman Kaliyuga sedang berada dipuncak.
Sesuai narasi putaran alam semesta, segelap apapun di malam hari pasti ada secercah sinar bintang yang menerangi. Itu artinya sinar suci Ilahi tidak pernah padam.
Memuja dan memuliakan-Nya dibalik kegelapan seperti ini memang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Cercaan, hinaan, bahkan memarginalkan adalah realitas yang terjadi (racun), sesungguhnya adalah penguatan keyakinan yang benar-benar tulus dalam penyerahan diri (pembebasan).
Membangkitkan, memelihara dan menguatkan keyakinan inilah tugas dan kewajiban tersembunyi, hanya dirasakan bergelora di dalam diri. Dari gelora ini orang-orang disadarkan dan tervibrasi Kasih Suci-Nya perlahan menjadi jiwa-jiwa Sattwika, siap mengabdi dharma sejati.
Menumbuh jiwa-jiwa Sattwika adalah kesadaran. Kesadaran adalah sifat suci Atman, yang telah diberkati energi suci penyadaran oleh Paramaattman, menjadi Dura Dharsana, Dura Srawana dan Duratmaka.
Semoga Menjadi Renungan dan Refleksi [T]
Menjelang kick-off, sambil sesekali menatap langit-langit Stade de France, Antoine Griezmann khidmat menyanyikan La Marseillaise, ekspresi Christiano Ronaldo datar-datar saja melaf...
MASIH ingat dulu orang tua kita sering menasehati dan melarang agar tidak duduk di bantal yang ada di tempat tidur. Jika hal itu dilakukan konon bisa membuat bisulan atau dalam ba...
Judul Film: Petani Terakhir # Sutradara: Dwitra J. Ariana # Produser: Maria Ekaristi & Agung Bawantara # Produksi: Sanggar Siap Selem, 2016. PERMASALAHAN kehidupan petani di In...
DI Bali, selama berabad-abad, seni-seni yang berakar pada tradisi, terus lahir. Dan tentu saja sangat beragam. Jaman dulu seni tak hanya lahir dari tangan seniman karawitan seperti...
Pelawak drama gong, I Wayan Tarma (62) yang terkenal dengan nama Dolar, meninggal Sabtu (9/7) sekitar pukul 05.30 Wita. Ia meninggal ketika seni drama gong yang melambungkan namany...
DNA literasi berbangsa terbentuk sungguh unik sejak dulu kala. Nenek moyang bangsa Indonesia merupakan penutur andal di dunia. Ini dibuktikan dengan adanya beragam cerita rakyat da...
TRADISI adalah perayaan kebersamaan. Juga di Bali. Untuk menjaga kebersamaan nyama Bali mempertahankan sekaligus tetap merayakan tradisi di era digital ini. Sebut saja tradisi magi...
GELIAT seni di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, kembali semarak. Di bulan ramadhan ini gaung kegiatannya sampai merambah ke Desa Arosbaya. Seperti yang terjadi Minggu (3/7). Se...
PERADABAN dunia mengenal sedikit orang hebat. Einstein, Newton, Galileo, adalah manusia-manusia hebat, seperti juga Napoleon, Socrates, Machiavelli, Karl Marx, Adam Smith, Shakespe...
UNGKAPAN “apalah artinya sebuah nama”, bagi saya memiliki makna kebalikannya. Dalam realitas budaya dan adat, nama memiliki banyak arti dan makna, mulai dari yang sederhana hingg...