Papuk, Cucu dan Puisi
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
JELANG perebutan kekuasaan, para calon kepala daerah atau kota biasanya lebih anteng turun menyapa masyarakat. Apabila ketika menjabat para penguasa itu begitu banyak dipenuhi jadwal ke luar kota sehingga jarang bisa ditemui rakyatnya, prapemilihan mereka tak segan meminta sendiri ke desa-desa untuk blusukan. Jika sebelumnya masyarakat begitu rikuh menembus berbagai syarat administratif untuk meminta bantuan, saat momentum pemilihan sudah dekat, berbagai kebutuhan sandang, pangan, dan papan datang sendiri tanpa diundang!
Fenomena politik transaksional ini biasa terjadi saban hajatan pemilihan kepala daerah digelar. Hanya pada saat-saat seperti inilah rakyat mendapatkan tempat. Suara mereka dihargai, pendapatnya didengar. Sementara bagi para calo penjual suara rakyat, momen-momen seperti ini adalah peluang untuk menambah penghasilan. Mereka yang jeli berdiri di “banyak pijakan” akan meraup aneka keuntungan. Semua seperti sah-sah saja untuk memanfaatkan berbagai kemungkinan.
Kita tidak tahu pasti apa dampak di balik politik transaksional ini. Akan tetapi, benih kolusi yang ditabur saat ajang pemilihan akan tumbuh menjadi pohon korupsi di kemudian hari. Jika pada bidak perebutan kekuasaan, seseorang lebih banyak membeli suara rakyat dengan uang maka pada saat menjabatlah ganti ruginya akan diusahakan. Dengan pola seperti ini, mustahil kemajuan suatu wilayah bisa dicapai. Meski, para penguasa itu telah belasan tahun berada di altar kekuasaan. Ia akan terus memperkaya diri, walaupun kesengsaraan menggerogoti anak negeri.
Lantas, bagaimanakah cara memutus mata rantai politik transaksional ini? Tak mudah memang. Akan tetapi, khazanah literasi politik Bali seperti Niti Raja Sasana memberikan tawaran untuk melihat kualitas pemimpin dengan mendalami perilakunya yang disebut dengan Ulah Telu. Jika ada seseorang yang terbukti menjalankan Ulah Telu dalam rekam jejak kepemimpinannya maka ia layak dijadikan tedung jagat “payung dunia dari sengatan derita dan badai kehidupan”.
Ulah Telu sesuai dengan istilahnya dapat dibagi menjadi tiga yaitu wijayastra, sepadina, dan negarajnyana. Pertama, wijayastraadalah karakter seorang pemimpin yang teguh mengusahakan kebaikan dengan adil memberikan berbagai bantuan material. Karena disegani, Ia berusaha untuk selalu mengendalikan kemarahan. Tutur katanya manis, lembut, dan menenangkan. Figur pemimpin ini juga mudah memberikan maaf, asih kepada para pendeta, dan orang yang sengsara. Kedua, sopadina yaitu karakter pemimpin yang memiliki kemantapan dan kesucian budi. Ia tidak terpesona oleh emas dan harta karena tahu bahwa kekayaan itu tidak bisa dibawa mati. Figur pemimpin yang menjalankan ajaran ini biasanya memberi tanpa diminta karena ia telah tahu keadaan masyarakatnya di seluruh negeri. Ketiga, nagarajnyanayaitu karakter pemimpin yang memperhatikan infrastruktur seperti memperbaiki balai-balai rusak, pura, jembatan, memberi pakaian, dan makanan kepada seseorang yang tengah kelaparan.
Itulah tiga ajaran yang bisa dijadikan parameter untuk melihat jejak kepemimpinan seseorang.Pada intinya, karakter tersebut mengakar dalam salampah lakunya memutar roda pemerintahan. Dari wijayastra kita dapat memetik hal penting bahwa seorang pemimpin memang mesti terpanggil dari dalam hatinya untuk selalu mengasihi orang sengsara (asih ring wong kalaran). Dari sopadina kita tahu seorang pemimpin ideal mesti memiliki kesadaran antikorupsi, bahwa emas, harta, dan kekayaan tidak bisa dibawa ke alam baka (tan agawok ing mas arta, weruh yan tan binakta mati). Dengan dua landasan itulah infrastruktur dibangun untuk membantu membebaskan masyarakat dari kesengsaraan hidup seperti yang diamanatkan dalam nagarajnyana (manggawe ayuning bumi, mamahayu bale rusak, miwah pura marga titi, mandodoti wong kawudan, wong luwe sinungan nasi).
Itulah tawaran Niti Raja Sasana yang digubah oleh I Gusti Ngurah Made Agung dalam menentukan kualitas seorang pemimpin, tiga tahun sebelum meletusnya perang Puputan Badung. Dari apa yang ditulis oleh Raja Denpasar tersebut, kita merasakan adanya titipan formulasi ajaran kepemimpinan untuk kita yang hidup saat ini. Mencermati karya sastra itu, pada saat yang bersamaan kita juga melihat jurang yang membentang antara ajaran dengan kenyataan. Alih-alih teguh dalam mengusahakan kebahagiaan dunia sesuai sastra, sejumlah pemimpin malah membangun infrastruktur untuk mendapatkan kesempatan meraup kekayaan sebanyak-banyaknya, meski rakyatnya sendiri masih melarat.
Pada pemimpin yang seperti ini, suara-suara rakyat tidak boleh dialirkan. Kecuali jika Ia betah dalam ketertinggalan! [T]
Cerpen: DG Kumarsana Di negeri ini apa saja bisa terjadi/Untuk mendapatkan keadilan kalau perlu membeli/Yang hitam bisa menjadi putih, yang putihpun begitu/Terhadap yang benar saja...
BERCERITA Aku menemukan ibuku di masa lalu Yang memaksaku menjadi ayah masa lalu Aku teringat cerita ibuku masa SMA saat aku masih di dalam rahim Ibu berkata...
PADA akhir hidup seorang manusia, dunia tidak mengenal orang yang setengah-setengah. Hitam ya hitam, putih ya putih. Pahlawan atau Penjahat. Tidak ada yang mengenal si abu-abu. Bai...
PINTU besi itu terlihat mencolok. Pintu besi berkarat itu benar-benar menonjol. Saat memasuki galeri pameran Bentara Budaya Bali, pintu besi itu langsung menarik perhatian. Sepinta...
SALAH satu gitaris terbaik Indonesia bahkan dunia, Wayan Balawan, akan hadir dan konser di Kupang Agustus nanti. Wayan Balawan, master tapping asal Bali, akan didampingi drummer da...
HAJATAN besar sejarah pemilu di Indonesia telah dimulai Rabu, 9 Desember 2015. Ada sembilan provinsi dan 260 kabupaten/kota se-Nusantara waktu itu yang melaksanakan pilkada serenta...
BERANGGAPAN bahwa kampus adalah sebuah lembaga independen yang tidak boleh memihak kekuatan politik memang adalah sebuah kebenaran. Namun, bukan berarti tidak ambil bagian dalam pr...
(Tulisan ini dibuat dalam rangka menyongsong Serasehan Drama Gong yang rencananya digelar di Denpasar, 6 Agustus 2016) DI Bali, sebelum lahirnya institusi pendidikan seni dan Pesta...
ISU kesetaraan gender masih menjadi topik relevan yang dibahas melalui media verbal maupun non verbal. Tak terkecuali melalui medium seni rupa. Topik soal gender yang seolah ingin...
Judul Buku: Istana Para Kuli # Penulis: Yahya Umar # Penerbit: Salsabila – Pustaka Al-Kautsar Grup # Tebal: 229 halaman # ISBN: 978-602-1695-36-4 MADURA memiliki bentangan tanah ta...