MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian telah mengungkapkan keprihatinannya terhadap masalah tenaga honorer di lingkungan pemerintah daerah (Pemda) yang cenderung diisi oleh tim sukses (timses) atau keluarga kepala daerah.
Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Penguatan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang dihadiri oleh puluhan kepala daerah di kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pusat.
Apa yang disampaikan oleh Tito Karnavian benar adanya. Pejabat daerah merupakan hasil dari proses politik. Sukses tidaknya seorang calon kepala daerah bergantung pada tim sukses. Setelah yang bersangkutan menjadi pejabat, dia mulai memikirkan diapakan tim suksesnya. Ini merupakan politik transaksional. “Aku dapat apa setelah kau jadi pejabat.”
Untuk membalas budi baik dari tim suksesnya, kepala daerah menempatkan tim suksesnya (termasuk keluarganya yang membutuhkan pekerjaan) di jabatan yang cukup strategis. Kalau tim suksesnya mempunyai kecakapan sesuai dengan kecakapannya tentu dapat diterima. Bagaimana jadinya apabila tim suksesnya tidak memiliki kecakapan dalam melaksanakan programnya. Ini yang bermasalah.
Celakanya lagi, kerabat kepala daerah diangkat menjadi tenaga honorer, tetapi instansi tersebut tidak membutuhkan tenaga honorer. Justru yang dibutuhkan adalah tenaga honorer yang mempunyai kualifikasi yang lain. Ini memang ironis.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di instansi pemerintahan tetapi juga terjadi di Lembaga Pendidikan Tinggi (PT). Pimpinan PT akan merekrut tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang merupakan kerabat atau para kroninya. Istilahnya adalah membangun sebuah dinasti dalam dunia pendidikan.
Masyarakat berpandangan sangat sulit menembuh dinasti itu. Perlu dicatat, tidak semua perekrutan melalui sistem dinasti tetapi ada juga yang lolos karena kemampuannya. Tetapi persentasenya kecil. Perekrutan melalui dinasti masih cukup besar.
Pendidik (dosen) yang bertugas di suatu perguruan tinggi, anaknya juga bekerja sebagai pendidik di PT tersebut. Kalau kerabat atau anaknya memang mempunyai kemampuan akademis dan kecakapan yang baik---bahkan sangat baik---hal ini tidak menimbulkan pertanyaan. Hal itu akan menjadi masalah apabila anak dan kerabat dosen tersebut tidak memiliki kompetensi yang baik.
Fakultas kedokteran merupakan fakultas yang favorit. Masyarakat menganggap fakultas kedokteran sulit tertembus. Anak yang mempunyai kemampuan akademis sangat bagus, kadang sulit juga menembusnya. Memang tidak semua anak yang pintar tidak diterima di Fakultas Kedokteran, cuma persentasenya kecil dibandingkan yang lulus melalui sistem dinasti.
Sistem dinasti memang tidak memberikan akses yang mulus bagi anak yang mempunyai kemampuan baik bahkan yang sangat baik. Lalu, kapan sistem dinasti ini akan hilang?
Sistem ini tentu sangat menghambat bagi anak yang memang mempunyai prestasi akademik sangat bagus. Ini bisa menimbulkan rasa skeptis dan keputusasaan bagi anak tertentu. Anak itu, tidak dapat meraih angannya. Padahal, anak tersebut telah belajar dengan baik, apalagi berprestasi dalam berbagai ajang perlombaan yang bergengsi.
Kapan dinasti ini bisa dieliminasi? Masyarakat mengharapkan, anak-anaknya mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk mengikuti pendidikan di fakultas favorit. Mutiara-mutiara itu hendaknya jangan dibuang dan disia-siakan.[T]
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...