“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian telah mengungkapkan keprihatinannya terhadap masalah tenaga honorer di lingkungan pemerintah daerah (Pemda) yang cenderung diisi oleh tim sukses (timses) atau keluarga kepala daerah.
Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Penguatan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang dihadiri oleh puluhan kepala daerah di kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pusat.
Apa yang disampaikan oleh Tito Karnavian benar adanya. Pejabat daerah merupakan hasil dari proses politik. Sukses tidaknya seorang calon kepala daerah bergantung pada tim sukses. Setelah yang bersangkutan menjadi pejabat, dia mulai memikirkan diapakan tim suksesnya. Ini merupakan politik transaksional. “Aku dapat apa setelah kau jadi pejabat.”
Untuk membalas budi baik dari tim suksesnya, kepala daerah menempatkan tim suksesnya (termasuk keluarganya yang membutuhkan pekerjaan) di jabatan yang cukup strategis. Kalau tim suksesnya mempunyai kecakapan sesuai dengan kecakapannya tentu dapat diterima. Bagaimana jadinya apabila tim suksesnya tidak memiliki kecakapan dalam melaksanakan programnya. Ini yang bermasalah.
Celakanya lagi, kerabat kepala daerah diangkat menjadi tenaga honorer, tetapi instansi tersebut tidak membutuhkan tenaga honorer. Justru yang dibutuhkan adalah tenaga honorer yang mempunyai kualifikasi yang lain. Ini memang ironis.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di instansi pemerintahan tetapi juga terjadi di Lembaga Pendidikan Tinggi (PT). Pimpinan PT akan merekrut tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang merupakan kerabat atau para kroninya. Istilahnya adalah membangun sebuah dinasti dalam dunia pendidikan.
Masyarakat berpandangan sangat sulit menembuh dinasti itu. Perlu dicatat, tidak semua perekrutan melalui sistem dinasti tetapi ada juga yang lolos karena kemampuannya. Tetapi persentasenya kecil. Perekrutan melalui dinasti masih cukup besar.
Pendidik (dosen) yang bertugas di suatu perguruan tinggi, anaknya juga bekerja sebagai pendidik di PT tersebut. Kalau kerabat atau anaknya memang mempunyai kemampuan akademis dan kecakapan yang baik---bahkan sangat baik---hal ini tidak menimbulkan pertanyaan. Hal itu akan menjadi masalah apabila anak dan kerabat dosen tersebut tidak memiliki kompetensi yang baik.
Fakultas kedokteran merupakan fakultas yang favorit. Masyarakat menganggap fakultas kedokteran sulit tertembus. Anak yang mempunyai kemampuan akademis sangat bagus, kadang sulit juga menembusnya. Memang tidak semua anak yang pintar tidak diterima di Fakultas Kedokteran, cuma persentasenya kecil dibandingkan yang lulus melalui sistem dinasti.
Sistem dinasti memang tidak memberikan akses yang mulus bagi anak yang mempunyai kemampuan baik bahkan yang sangat baik. Lalu, kapan sistem dinasti ini akan hilang?
Sistem ini tentu sangat menghambat bagi anak yang memang mempunyai prestasi akademik sangat bagus. Ini bisa menimbulkan rasa skeptis dan keputusasaan bagi anak tertentu. Anak itu, tidak dapat meraih angannya. Padahal, anak tersebut telah belajar dengan baik, apalagi berprestasi dalam berbagai ajang perlombaan yang bergengsi.
Kapan dinasti ini bisa dieliminasi? Masyarakat mengharapkan, anak-anaknya mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk mengikuti pendidikan di fakultas favorit. Mutiara-mutiara itu hendaknya jangan dibuang dan disia-siakan.[T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...