Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian telah mengungkapkan keprihatinannya terhadap masalah tenaga honorer di lingkungan pemerintah daerah (Pemda) yang cenderung diisi oleh tim sukses (timses) atau keluarga kepala daerah.
Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Penguatan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang dihadiri oleh puluhan kepala daerah di kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) pusat.
Apa yang disampaikan oleh Tito Karnavian benar adanya. Pejabat daerah merupakan hasil dari proses politik. Sukses tidaknya seorang calon kepala daerah bergantung pada tim sukses. Setelah yang bersangkutan menjadi pejabat, dia mulai memikirkan diapakan tim suksesnya. Ini merupakan politik transaksional. “Aku dapat apa setelah kau jadi pejabat.”
Untuk membalas budi baik dari tim suksesnya, kepala daerah menempatkan tim suksesnya (termasuk keluarganya yang membutuhkan pekerjaan) di jabatan yang cukup strategis. Kalau tim suksesnya mempunyai kecakapan sesuai dengan kecakapannya tentu dapat diterima. Bagaimana jadinya apabila tim suksesnya tidak memiliki kecakapan dalam melaksanakan programnya. Ini yang bermasalah.
Celakanya lagi, kerabat kepala daerah diangkat menjadi tenaga honorer, tetapi instansi tersebut tidak membutuhkan tenaga honorer. Justru yang dibutuhkan adalah tenaga honorer yang mempunyai kualifikasi yang lain. Ini memang ironis.
Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di instansi pemerintahan tetapi juga terjadi di Lembaga Pendidikan Tinggi (PT). Pimpinan PT akan merekrut tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang merupakan kerabat atau para kroninya. Istilahnya adalah membangun sebuah dinasti dalam dunia pendidikan.
Masyarakat berpandangan sangat sulit menembuh dinasti itu. Perlu dicatat, tidak semua perekrutan melalui sistem dinasti tetapi ada juga yang lolos karena kemampuannya. Tetapi persentasenya kecil. Perekrutan melalui dinasti masih cukup besar.
Pendidik (dosen) yang bertugas di suatu perguruan tinggi, anaknya juga bekerja sebagai pendidik di PT tersebut. Kalau kerabat atau anaknya memang mempunyai kemampuan akademis dan kecakapan yang baik---bahkan sangat baik---hal ini tidak menimbulkan pertanyaan. Hal itu akan menjadi masalah apabila anak dan kerabat dosen tersebut tidak memiliki kompetensi yang baik.
Fakultas kedokteran merupakan fakultas yang favorit. Masyarakat menganggap fakultas kedokteran sulit tertembus. Anak yang mempunyai kemampuan akademis sangat bagus, kadang sulit juga menembusnya. Memang tidak semua anak yang pintar tidak diterima di Fakultas Kedokteran, cuma persentasenya kecil dibandingkan yang lulus melalui sistem dinasti.
Sistem dinasti memang tidak memberikan akses yang mulus bagi anak yang mempunyai kemampuan baik bahkan yang sangat baik. Lalu, kapan sistem dinasti ini akan hilang?
Sistem ini tentu sangat menghambat bagi anak yang memang mempunyai prestasi akademik sangat bagus. Ini bisa menimbulkan rasa skeptis dan keputusasaan bagi anak tertentu. Anak itu, tidak dapat meraih angannya. Padahal, anak tersebut telah belajar dengan baik, apalagi berprestasi dalam berbagai ajang perlombaan yang bergengsi.
Kapan dinasti ini bisa dieliminasi? Masyarakat mengharapkan, anak-anaknya mendapat kesempatan dan akses yang sama untuk mengikuti pendidikan di fakultas favorit. Mutiara-mutiara itu hendaknya jangan dibuang dan disia-siakan.[T]
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...