Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SAWIDJI adalah sebuah ruang kolektif bagi orang-orang kreatif, terutama pada ranah seni rupa. Dari Lodtunduh, Ubud, kini Sawidji menebar getaran kreatif dari tengah jantung Kota Denpasar.
Ya. Sejatinya Sawidji lahir dua tahun lalu di Lodtunduh Ubud. Di desa seni budaya dan wisata itu Sawidji menggelar berbagai pameran serta mengabarkan aktivitas melalui web online virtual dan media sosial.
Dan, kini, ruang kolektif seni itu hadir di Denpasar. Sawidji ingin merangkul para pelaku dan komunitas seni untuk berkolaborasi dan menjalani aktivitas berkesenian lintas batas.
Di jantung ibukota Bali itu Sawdji tepatnya berada di Jl Plawa IXA No 17 Denpasar. Keberadaannya didukung sejumlah aktivis serta komunitas di antaranya Batu Belah Art Space, Rumah Paros, ManButur Fotografi, Dibal Ranuh Kitapoleng, Umbra, Tjandra Hutama Fotografi, Jung, Mas Ruscitadewi, Yayasan Corti, Batu 8, serta budayawan Putu Suasta.

.

Karya-karya yang ditampilkan dalam perhelatan “Sawidji Comes Home” | Foto: Dok. Sawidji
Untuk menandai kehadiran Sawidji di Denpasar, digelar sebuah perhelatan bertajuk “Sawidji Comes Home” yang menyajikan pameran dan pertunjukan seni pada Minggu, 17 September 2023 sore.
Dian Dewi, inisiator dan koordinator Sawidji mengatakan selain berupa galeri dan studio, ruang kolektif ini juga dikembangkan berupa butik, kafe, dan mengelola kegiatan para kreator seni.
“Kami terus bergerak mengembangkan gagasan, edukasi, menjalani proses berkesenian, dan menawarkan produk akhir ke masyarakat,” kata Dian Dewi.
Dian Dewi menyebut ruang kolektif seni ini membuka diri ke berbagai pihak yang memiliki kesamaan perspektif untuk penciptaan kreatif, dialog interaktif, dan menautkan sejumlah simpul komunitas untuk memperluas jejaring seni.

.

.

Karya-karya yang ditampilkan dalam perhelatan “Sawidji Comes Home” | Foto: Dok. Sawidji
“Kami memilih pendekatan kolaboratif untuk mempertemukan seniman lintas batas dari berbagai disiplin ilmu agar masing-masing praktisi yang terlibat mendapatkan pengalaman dari kerja sama tersebut,” katanya.
Ruang kolektif ini berupaya pula memediasi kepentingan para pemangku (stakeholder) kegiatan seni dan publik melalui aneka kegiatan apresiasi secara berkala.
Pemilik Rumah Paros Made Kaek berharap kehadiran Sawidji bisa menjadi tempat bertemu para kreator seni baik di Bali maupun para pegiat seni dari luar Bali untuk berkreasi di kantong budaya yang baru ini.
“Seniman, budayawan, masyarakat pecinta seni, maupun paramuda dapat melakukan olahkreasi dan membicarakan berbagai ide di sini,” kata Made Kaek. [T][Rls/*]

Salah satu sudut di Sawidji

Persiapan perhelatan Sawidji Comes Home”
10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi pada tulisan. Satu kolom pada...
SEKAA Dramatari Arja Sudhamala ini baru pertamakali pentas di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB). Bahkan, sekaa kesenian tradisional Bali yang memadukan unsur drama, tari, dan nyanyi...
LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia yang berangkat dengan keberanian, namun akhirn...
PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa kehadiran Presiden Prabowo Subianto sempat menimbu...
“Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama, dalam acara ‘NGERUMPI’: Ngobrol Se...
MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa. Apalagi ketika ia mulai berbicara dengan logat...
DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku diajari bahwa Barong adalah pelindung, bukan pemangsa....
Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang tua yang tak mau purnaMereka tak punya bat...
“Mari kawan bersama kita bekerja, bersihkan lingkungan….” ITU adalah penggalan tembang yang menjadi salah satu hal menarik dari pementasan kesenian janger tradisi d...