“Full Day School”, Bentuk Generasi Emas atau Generasi Cemas?
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
MALAM ITU di Mailaku---salah satu tempat nongkrong elit di Singaraja---sedang ramai-ramainya. Meja dan kursi yang tersedia nyaris penuh. Yang tua dan yang muda berbaur bersama canda, obrolan, dan bau masakan. Desain interiornya yang antik dengan lampu yang agak remang memberi kesan romantik dan nostalgi tersendiri. Semacam memasuki lorong waktu dan terlempar ke masa yang lampau.
Rombongan pegawai sebuah toko kosmetik mendaulat meja dan kursi di dekat pintu masuk. “Sedang merayakan ulang tahun salah seorang dari mereka,” kata pelayan kepada rekan kerjanya. Sementara itu, di sebelahnya, sepasang kekasih asyik menikmati hidangan yang dipesan. Mereka bergeming di tengah keramaian.
Seorang pelayan laki-laki dengan makanan dan minuman di kedua tangannya, wira-wiri seperti mandor kebun karet. Rambutnya tipis dan agak surut ke belakang. Sementara itu, rekan kerjanya, seorang perempuan mungil, sibuk menyambut dan mendatangi pengunjung yang seperti tak ada habisnya. "Selamat datang, Kak. Mau pesan apa, Kak?" katanya sambil menyodorkan buku menu yang membuat pengunjung saling bertanya juga, "Kamu mau pesen apa?"
Di tengah keriuhan pelayan dan pengunjung itulah, seorang senpai Shorinji Kempo Buleleng, bersama keluarga kecilnya, sedang bercerita tentang perjalanannya menjadi atlet Kempo tahun 1980-an kepada tatkala.co, Jumat (8/9/2023) malam. "Silakan pesan minum dulu," ujarnya, sebelum diwawancarai.
Dan sesaat sebelum makanan dan minuman yang telah dipesan dihidangkan, perempuan kelahiran Juli 1970 itu membuka ceritanya dengan kisah tahun 1982---untuk pertama kalinya ia mulai latihan Kempo. Saat itu, perempuan dengan nama lengkap Lilik Suryani itu baru kelas 6 SD.
"Saya mengenal Kempo dari kakak saya. Dia atlet juga," terangnya.
Sebagai seorang perempuan, katanya, ia sangat beruntung lahir di keluarga yang memiliki keterbukaan berpikir dan menjunjung nilai-nilai kesetaraan. Orang tuanya tak keberatan anak perempuannya menjadi atlet seni beladiri---yang notabene identik dengan maskulinitas. Alih-alih melarang, mereka justru mendukung penuh apa yang sudah Lilik pilih.

Piagam Penghargaan Lilik Suryani sebagai juara 1 Embu Beregu Putra-Putri dalam Kejuaraan Kempo antar dojo se Kabupaten Buleleng tahun 1985 / Foto: Dok. Lilik
Padahal, zaman itu, saat Indonesia masih dikuasai rezim Orde Baru, patriarki masih menjadi momok menyeramkan bagi para perempuan---meski sebenarnya sampai sekarang di beberapa daerah masih seperti itu.
Pada masa ketika Soeharto sedang senang-senangnya menjalani profesi sebagai diktator, Lilik kecil mulai berlatih Kempo di Dojo Bhaktiyasa Singaraja. Ia dilatih oleh Sensei Nyoman Muliartha dan Sensei Pande Sumerhta Yoga. "Beliau berdua sangat menyuport saya. Kakak saya, Yap Lie Ciang, dan orang tua saya juga sangat mendukung saya untuk latihan dan menjadi atlet Kempo," jelas Lilik dengan suara yang pelan dan lembut.
Hingga pada 1984, satu tahun sebelum Soeharto menerapkan asas tunggal Pancasila, Lilik mulai mengikuti kejuaraan antar dojo se-Kabupaten Buleleng dan berlanjut ke Kejurda, Kejurnas, Pra-PON, sampai PON XI 1985 di Jakarta.
Di ajang kejuaraan PON XI, Lilik berhasil menyumbangkan medali perunggu cabang olahraga (cabor) Kempo untuk Provinsi Bali bersama pasangannya, Heni Anggraini. Sedangkan, pada Pekan Olahraga Nasional saat itu, Bali berhasil menempati peringkat ke-16 dengan total perolehan 26 medali: 7 emas, 6 perak, dan 13 perunggu. “Itu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan,” kata Lilik.

Piagam Penghargaan Lilik Suryani saat mengikuti kejuaraan Kempo di PON XI 1985 Jakarta / Foto: Dok. Lilik
Pada saat menjelang PON di Jakarta itu, Lilik---yang masih kelas 3 SMP---harus bolak-balik Singaraja-Denpasar seminggu sekali untuk melakukan latihan. Dan ia sempat mengalami cedera.
Sebagai atlet Kempo perempuan, Lilik termasuk kategori kenshi yang berbakat. Dulu, ceritanya, saat ujian kenaikan tingkat, dirinya selalu menjadi lulusan terbaik. Dan saat ditanya apakah dirinya dulu memiliki latihan khusus? Ia menjawab, “Tidak”. Baginya, yang penting untuk dimiliki seorang atlet selain latihan adalah mental bertanding dan niat yang sungguh-sungguh.
“Kuncinya ada di konsentrasi dan gereget. Kalau sudah nggak punya gereget ya akan bisa,” ujarnya sambil memotong steak.
Karier Lilik sebagai atlet Kempo memang tak berlangsung lama. Sejak tahun 1990, setelah lulus SMA, saat mulai bekerja di PT. Bank Central Asia (BCA), ia sudah mulai jarang mengikuti kejuaraan. Hingga saat umurnya hampir menginjak 40 tahun, ia mulai berlatih kembali. Dan sampai sekarang, meski tidak menjadi pengurus PERKEMI Buleleng, ia masih sering memberi dukungan kepada atlet-atlet muda di dojo tempatnya berlatih dulu.
Pada momen peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) di Taman Kota Singaraja, Jumat (8/9/2023), bersama lima atlet senior lainnya---termasuk juniornya (kohai) di Dojo Bhaktiyasa Arief Gunawan (baca tentang sosok ARIEF GUNAWAN DI SINI)---Lilik Suryani mendapat penghargaan dari KONI Buleleng sebagai bentuk penghormatan karena telah mengharumkan nama Buleleng dan Bali pada masanya.
Sosok yang Humanis
Yang membuat Lilik Suryani terkesan dengan Kempo adalah nilai-nilai yang diajarkan di dalamnya. Ia mengaku banyak mendapat pelajaran hidup dari seni beladiri yang berasal dari Negeri Sakura itu. Benar, selain mengajarkan teknik beladiri, Kempo juga terkenal dengan ajaran welas-asihnya, kasih-sayangnya. Semua kenshi diajarkan tentang nilai-nilai persaudaraan.
Hal itu dikarena seni beladiri ini berlandaskan ajaran Budha, yang melarang saling menyakiti dan membunuh. Oleh karena itu, semua atlet Kempo---yang biasa disebut kenshi---hanya diizinkan untuk mempertahankan diri dan tidak boleh menyerang terlebih dahulu.
Doktrin falsafah "Perangilah dirimu sendiri sebelum memerangi orang lain” mempengaruhi susunan atau struktur gerak beladiri ini. Sehingga, menurut Lilik, gerakan teknik selalu dimulai dengan mengelak/menangkis serangan terlebih dahulu sebelum membalas kemudian.
“Kami diajarkan untuk menjadi manusia yang penuh kasih sayang. Ini sesuai dengan semboyan kami: Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan. Kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman,” terang Lilik mengutip semboyan Shorijin Kempo.
Sebagai seorang pribadi, Lilik memang sosok yang humanis. Ia senang menebar kebahagiaan di mana-mana. Saat ada bencana melanda suatu daerah, bersama keluarganya, sebisa mungkin ia akan memberikan bantuan.

Lilik Suryani (yang memegang piagam) seusai menerima penghargaan dari KONI Buleleng / Foto: Dok. Perkemi Buleleng
Saat Gunung Agung meletus, Gunung Semeru erupsi, atau saat Pulau Lombok digoncang gempa bumi 2018, Lilik selalu membantu.
“Bahkan saya pernah belusukan sampai ke pedalaman Pulau Seram, Maluku, untuk sekadar membantu,” katanya.
Selain memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi, Lilik juga memiliki jiwa petualangan yang tidak main-main. Senpai Shorinji Kempo Buleleng itu mengaku suka mendaki gunung. Ia pernah mendaki Semeru dan Rinjani---bahkan sudah dua kali.
Barangkali, selain faktor ajaran keluarga, dari Kempo dan kesukaannya mendaki gunung itulah jiwa kemanusiaannya semakin membuncah. Lilik sadar betul bahwa kasih sayang dapat melintasi perbedaan apapun. Entah suka, ras, golongan, maupun agama.
Ia tidak pernah membeda-bedakan manusia. Sebab, menurutnya, semua berhak mendapat kasih sayang dan semua juga wajib memberikan kasih sayang---walaupun dengan kadar dan cara yang berbeda-beda.
Lilik adalah seorang humanis yang universal. Ia mengagumi Gus Dur, sosok yang dinilainya sebagai humanis sejati. Dan ia juga percaya bahwa setiap agama mengajarkan cinta kepada pemeluknya.
Benar. Setiap agama memang mengajarkan cinta kepada pemeluknya, tetapi cinta itu sendiri tak punya agama—karena cinta adalah tujuan dari setiap agama.
Kedudukan cinta itu di atas agama. Agama adalah jalan, cinta adalah tujuan yang hendak dicapai oleh jalan itu. Bagaimana bisa tujuan lebih rendah tingkatannya daripada jalan yang menuju kepada-Nya?
Maka, Lilik percaya, jika ada yang mengaku sebagai orang yang beragama namun belum mampu merasakan cinta dan melihat cinta di mana-mana, orang tersebut patut memperbaiki caranya beragama.
Dan jika ada yang mengaku sebagai orang beragama namun senantiasa masih menyebarkan kebencian dan permusuhan, memandang orang lain yang tidak seagama dengannya lebih rendah derajadnya, maka beragamanya sia-sia belaka. Karena Tuhan adalah Cinta!
Falsafah Shorijin Kempo berbunyi: “Perangilah dirimu sendiri sebelum memerangi orang lain.” Itu.[T]
Baca juga artikel terkait TOKOH atau tulisan menarik lainnya JASWANTO
Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana
GELI juga membaca berita tentang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yang menggagas sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun...
HAY, ges, Salam Sejahtera untuk ges ges semua di seantero jagad Indonesia tercinta. Semoga semua masih dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan selalu memegang teguh ideologi Panca...
RATUSAN anak mendadak berlarian dari sisi barat dan timur Taman Lumintang, Denpasar. Mereka menghambur begitu saja di tengah-tengah lapangan. Mereka menari, berlari, kejar-kejaran,...
Cerpen: Surya Gemilang PARA pengunjung Taman Palakosa dibuat menganga pada sore itu oleh kehadiran seorang pria bertubuh kekar yang wajahnya abnormal; ia bermata tiga—m...
RASANYA baru kemarin saya menjadi mahasiswa semester 6 dan kini sudah beranjak ke semester 7. Segala pahit getir hari-hari di semester 6 yang agak jahanam akhirnya bisa saya lalui...
“Dadi minum, sakewale abedik!” begitu pesan luhur dari Sembroli. Dan kalimat itu dikatakan berkali-kali. Setiap kali menyebut “pesan luhur”, ia selalu angkat gelas dan menenggak ar...
PAGI tadi aku duduk di sebuah kursi taman di belakang gedung kampusku yang baru. Sudah tiga hari aktivitas ini aku lakukan. Aku pun sebenarnya tidak betul-betul tahu untuk apa dan...
MEDIA Sosial tentunya memberikan banyak manfaat. Mulai dari sarana untuk mengekspresikan diri, bertukar informasi, mencari lebih banyak teman, bahkan untuk menjalankan sebuah bisni...
BELAJARLAH pencitraan dari kuliner khas Buleleng, terutama dari lawar getih. Karena pencitraan itu adalah pertunjukan tentang “rasa dan kesan” yang serupa antara apa yang dilihat m...
SINTHA Pramadewi terlihat serius melihat aksara demi aksara yang tertulis di atas selembar daun lontar. Dengan terbata-bata ia berusaha membaca aksara demi aksara, yang ukurannya t...