Pesta Kesenian Bali: Keroncong Tidak Mati
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
PERKEMBANGAN seni pertunjukan kian dinamis. Berbagai jenis ide baru muncul seiring dengan perkembangan daya cipta seniman Bali dalam meng-creat seni tradisinya menjadi kemasan baru dengan konsepsi tradisi-modern.
Kesenian tradisi adalah akar dari tumbuhnya berbagai jenis kesenian-kesenian baru. Tradisi merupakan awal dari modernisasi dalam berkesenian. Produk karya seni terlahir dari tradisi budaya yang ada di setiap daerah. Seniman yang kuat dengan tradisi yang dimilikinya, akan menghasilkan karya yang mengandung nilai filosofi dan karakteristik yang kuat pula.
Kesenian kecak adalah salah satu kesenian yang terlahir dari tradisi ritus Sanghyang. Pelaksanaan ritus Sanghyang telah memberikan ide baru seniman Walter Spies asal Jerman untuk menggubahnya menjadi kesenian Cak dibantu dengan seniman I Wayan Limbak asal Bedulu di era tahun 1930an.
Sedangkan Tari Sanghyang adalah ritus pemujaan dengan doa dalam bentuk nyanyian atau tembang sebagai perantaranya. Kekuatan penyajian vocal dalam ritus Sanghyang memberikan ilham terciptanya kesenian Cak dengan vocal sebagai basic dasar penyajiannya.
Sejak keberadaan kesenian Cak ini, kesenian Cak telah mampu menarik minat masyarakat dan juga wisatawan asing. Telah banyak muncul sekaa-sekaa cak di masyarakat. Era tahun 1970, Sardono W.Kusumo juga telah mengembangkan kesenian Cak dari bentuk aslinya menjadi bentuk baru dengan mengadopsi sumber-sumber suara dari peniruan suara alam dalam pertunjukannya.

Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” / Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023
Dalam penciptaannya kala itu, dia bekerja sama dengan Sekaa Cak Banjar Teges Kanginan, Ubud, Gianyar, dan melahirkan tokoh Cak yang kini dikenal dengan Cak Rina.
Perkembangan Cak pun terus melaju dengan pesatnya. Berawal dari perkembangan Cak yang ada, timbul ide untuk lebih mengembangkannya menjadi bentuk-bentuk baru.
Berawal dari pengalaman dalam kesenian Cak, di tahun 2018 diciptakan bentuk kecak dengan menambahkan unsur instrument perkusi dalam penyajiannya yang kemudian dikenal dengan nama Kecak Perkusi.
Kecak Perkusi terlahir sebagai sebuah pertunjukan dengan mentransformasi konsep komodifikasi pada sajiannya. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan sentuhan baru pada penyajian kesenian Kecak yang dikenal sebelumnya.
Komodifikasi dilakukan pada unsur kostum dan musikalitas kecak itu sendiri. Kostum yang digunakan pada kecak perkusi tidak memakai kostum kecak sebagaimana yang kita lihat pada umumnya, kostum kecak didesain baru dengan kostum seperti Hanoman.
Musikalitasnya digarap dengan kolaborasi seni antara vocal cak dengan penggabungan alat perkusi seperti; djimbe, kulkul, kendang Bali, okokan , dan beberapa instrumen ceng ceng.
Kecak Perkusi dari awal terciptanya hingga kini memiliki ciri khas tersendiri pada sajiannya. Hadirnya kecak ini nampaknya juga diminati oleh para wisatawan. Beberapa event organizer (EO) telah menggunakan jasa Kecak Perkusi sebagai sajian utama pada acara yang mereka gelar di Bali, baik acara nasional maupun international.
Cak “GanggaRam”
Kreativitas terus berlanjut, guna lebih mengembangkan kesenian tradisi menjadi produk yang dapat disajikan sebagai seni wisata dengan tidak menodai keasliannya. Keindahan alam dengan panorama air terjun Goa Gong di Desa Auman, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, memiliki daya tarik untuk menciptakan suatu pertunjukan baru. Keindahannya mengilhami diri untuk menciptakan sebuah pertunjukan Cak di air terjun, yang nantinya akan dikonsumsi oleh wisatawan sebagai produk seni wisata.
Entah kenapa, secara tidak sengaja, hati ini tertarik untuk mendekat ke objek air terjun ini sebelum terciptanya karya di air terjun tersebut.
Air terjun Goa Gong terletak di antara Desa Batulantang dan Desa Auman. Menurut Jero Mangku I Ketut Suanda----jro Mangku Prajapati, Pura Melanating, dan Puncak Tedung---air terjun Goa Gong memiliki jejak historis yang patut diketahui bersama.

Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” / Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023
“Sebutan Goa Gong dikarenakan konon masyarakat di sana mendengar dentuman suara gong yang keluar dari air terjun tersebut setiap sasih karo (bulan kedua pada kalender Bali),” ujar Jro Mangku kelahiran 7 Oktober 1958 itu.
Gelombang bunyi atau getaran suara yang keluar dari gong menjadikan identitas pada air terjun sehingga disebut air terjun Goa Gong. Gong adalah lambang windhu dan perwujudan aksara Ongkara (Ang, Ung, Mang). Ongkara merupakan simbol aksara suci Tuhan.
Air terjun Goa Gong mengaliri aliran Tukad Yek Kilap. Dilihat dari arti katanya, tukad adalah sungai; sedangkan yeh adalah personalitas Tuhan dalam konteks kosmik material simbol Dewa Wisnu; dan kilap adalah petir, Ageni atau api, simbol perwujudan Dewa Brahma---unsur udara terlihat secara nyata dari kekuatan angin yang keluar dari air terjun itu sendiri, sebagai simbol Iswara.
Goa memiliki dua makna; goa secara spiritual berarti ruang yang kosong namun berisi, dalam kosmik terdapat udara atau angin. Dalam mikro kosmik ruang ini berada di kerongkongan atau pembuluh darah. Keberadaan air terjun Goa Gong ini diyakini juga memiliki hubungan terkait antara Dewa yang berstana di Pura Kancing Gumi dengan kekuatan alam semesta yang ada di Air Terjun Goa Gong.
Berdasarkan filosofi tersebut, tercipta karya Cak “GanggaRam” sebuah persembahan karya seni sebagai pemujaan Dewi Gangga sebagai Dewi Kesuburan yang memberikan kehidupan dan kebahagiaan pada semua mahluk. Keindahan riak air terjun telah memberikan intuisi dalam penciptaan.

Foto Bersama dalam Pertunjukan Cak Air “GanggaRam” / Foto: Dok. I Nyoman Mariyana, 2023
Sebelum melahirkan Cak GanggaRam, terlebih dulu saya telah melahirkan sebuah karya yang diberi judul “Kecak Atlas”; sebuah pertunjukan kecak di Atlas Beach Fest 2023 yang berlokasi di Jalan Pantai Berawa, Canggu, Bali. Atlas Beach Fest adalah beach club terbesar di dunia yang menjadi salah satu destinasi wisata baru di era sekarang.
Dalam perjalanannya, Kecak Atlas atau “Kecak Elektrik” ini mampu membius penikmatnya. Para wisatawan yang menyaksikan pertunjukan kami menikmati sembari mengikuti ritme dan gerak Kecak kami. Kepuasan mereka juga dibuktikan dengan pemberian tiping kepada masing-masing pemain (selengkapnya silakan baca di sini: Tradisi Akar Dari Modernisasi Berkesenian | Catatan dari Atlas Beach Fest).
Kembali ke Cak GanggaRam, secara musikalitas, pertunjukan Cak GanggaRam ini adalah transformasi vocal cak yang dikembangkan dengan teknik akapela serta pemanfaatan air, batu, dan kentongan sebagai instrument perkusi menjadi satu kesatuan karya yang utuh. Vokal cak dibalut dengan mengambil aksara-aksara suci Ang, Ung, Mang dan aksara Pangider Bhuana (Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya) sebagai unsur kekuatan alam semesta.
Lahirnya karya ini nampaknya mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke air terjun. Begitu juga halnya dengan pengelola air terjun, salah satunya Plaga Eko Park.
Oner Plaga Eko Park telah menawarkan kerja sama dengan tim peneliti untuk menampilkan karya ini sebagai suguhan wisata air terjun. Telah disepakati pula kontrak perjanjian dalam penyajiannya berikutnya.
Tak menutup kemungkinan, pengembangan karya ini akan dilakukan pada masyarakat di sekitarnya, sehingga mampu memberikan pengalaman baru dalam berkreasi seni serta menambah pendapatan dari segi finansial.[T]
KETIKA tubuh meragang nyawa, dalam perukan persada. Tinggal nafas yang masih tersisa. Kau pekikkan merdeka. Bait lagu Puji Bagi Pahlawan ciptaan Basuki itu mengalun dalam sunyi. La...
Apakah yang paling membanggakan dari makhluk yang bernama manusia? “Kreativitas.” Itulah jawabnya. Manusia menjadi “lebih” ketimbang binatang karena memiliki ruang yang sangat luas...
Sebagai orang yang tidak berkompeten dalam bidang bahasa Bali, mungkin saya akan tulah idup karena apa yang akan saya paparkan barangkali banyak bohongnya. Saya bukan orang yang la...
Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan setelah Taipe. Di kota itulah saya berada, awal Juni 2016. Seperti sebuah mimpi, dari Singaraja – kota tempat tinggal saya - segalany...
FENOMENA The Great Pacific Garbage Patch menjadi bukti betapa kita sebagai manusia telah membunuh bumi dengan plastik. Miliaran ton sampah plastik terapung di laut, membuat jutaan...
KEMISKINAN, di Bali, bisa berarti sebuah upacara. Warga Desa Trunyan di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, sebelum berperilaku menjadi manusia miskin melakukan ritus kecil: membakar...
JIKA hobi facebook-an, singgahlah sesekali ke halaman Punk Kwala Ngibur. Bisa kita nikmati komik berbahasa Bali dari tingkat paling kepara sampai sor se-singgih-singgihnya. Tulisan...
MUNGKIN saya sudah terlambat menguraikan hal ini. Karena saat ini sudah makin banyak masyarakat yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Namun dalam konteks ini, saya meyakini bahwa leb...
Bahasa menunjukkan bangsa. Itu peribahasa yang akrab saya dengar di Sekolah Dasar dulu yang bertahun-tahun kemudian saya amini kebenarannya. Kultur sebuah bangsa, seturut makna per...
Judul Buku : Badriyah Pengarang : Ayu Weda Penerbit : Gambang Buku Budaya Tahun Terbit : Maret 2016 Jumlah Halaman : xiv + 207 halaman ISBN : 978-602-6776-15-0 SELURUH cerita dala...