ORANG JAWA DAN BALI di masa lalu mengetahui bahwa tubuh adalah barisan aksara. Secara umum dikenal dan dijabarkan dalam ajaran HANACARAKA RING SARIRA — barisan suara aksara di tubuh. Lebih tepatnya AKSARA RING SARIRA.
Dalam kebatinan Jawa Kuno diajarkan bahwa 'AKSARA' artinya suara. Bukan sekedar tulisan, bukan sekedar huruf, tapi suara abadi semesta atau suara kosmik yang menjadi esensi awal penciptaan semesta.
AKSARA adalah gelombang-gelombang yang melahirkan frekwensi, lalu dari sini muncul bentang ragam suara. Jadi aksara adalah vitalitas sumber frekwensi suara. Gelombang-gelombang frekwensi yang bergema dan yang memenuhi alam raya porosnya Sangkan Paraning Dumadi (Sang Asal Muasal Kehidupan). Bentangnya sangat luas. Ada yang kita dengar, ada yang tidak terdengar.
Gelombang aksara ini menari di alam semesta sehingga kadang disebut TARIAN ŚIWA NATARAJA. Dalam hal ini Śiwa bukan sosok, tapi sumber muasal semua gelombang, inti dari yang paling halus, tarian gelombang yang menghasilkan ragam frekwensi yang menjadi sumber dentum penciptaan alam semesta dan poros aktivitas alam raya.
Ada banyak varian ajaran AKSARA RING SARIRA. HANACARAKA RING SARIRA adalah versi dasar yang paling umum. Ajaran DASA AKSARA merupakan tahapan tingkat lebih lanjut dari HANACARAKA RING SARIRA.
Dalam kependetaan brahmana Buddha dan brahmana Śiwa secara tertutup hanya diturunkan lewat garis gotra guru-sisya ada FORMULA AKSARA yang diberikan dalam proses NYEDA RAGA (prosesi memulangkan tubuh — mati raga) yang menjadi pucak inisiasi upakara kematian dan kebangkitan kembali sebagai DWIJATI, dalam prosesi NGASKARA dan METANGI.
Tubuh di-restart dan di sana diinstal gelombang-frekwensi tertentu, selanjutnya tubuh SANG DWIJATI menjadi 'tubuh lingga' yang menyimpan gelombang aksara yang diintal. Dari sana perjalanan SANG DWIJATI mulai dari nol, tidak lagi menoleh kebelakang, hidup berhenti sebagai tubuh atau sosok, tetapi mulai sebagai LINGA PELAYANAN umat yang didampingi.
Di kalangan pertapa atau karesian di hutan atau 'wanasrama' hidup sang penempuh ajaran aksara merayakan tubuhnya adalah poros mini dari gelombang aksara. Aksara atau frekwensi tubuh diekselerasi dengan bentang hutan dan pepohonan sampai titik harmoni dan mencapai manunggal dengan gelombang dan frekwensi hutan.
Tarikan napas dan kesadaran tubuh disatupadukan dengan 'napas hutan' dan bumi serta langit yang melingkupinya. Memanunggalkan AKSARA—PERTIWI lewat pemahaman dan laku mengakselerasi gelombang pikir, rasa, cipta, dan ketubuhan untuk dilepas-serahkan secara tuntas hanyut di hutan raya dan hening semesta, itulah 'bhakta-bhakti sang awanasra' — ia yang memilih mengungsi dan melepas personalitas hidup di hutan dan menjadi hutan itu sendiri.
Salah satu ajaran AKSARA RING SARIRA menyebutkan bahwa cikal bakal penciptaan alam semesta adalah gelombang suara. Pada awalnya sebelum ada apa-apa di alam semesta, bahkan sebelum tercipta bentang alam semesta, yang ada adalah AKSARA poros gelombang suara. Dari 'poros sonic' dan gelombang suara inilah terjadi penciptaan semesta.
Karena alam raya pertama-tama adalah gelombang dan ragam frekwensi suara maka tubuh manusia pada dasarnya atau pada intinya adalah jalinan gelombang suara. Pada semua titik-titik simpul tubuh ada frekwensi masing-masing yang bersuara tetapi di luar jangkuan telinga biasa. Frekwensi ini tertidur dan lemah. Untuk membangkitkan dan memperteguh simpul-simpul gelombang di tubuh ini menjadi dasar pedoman kebatinan menghidupkan aksara atau gelombang-frekwensi suara di tubuh manusia Jawa dan Bali.
Di Jawa dan Bali, agar tidak dilupakan anak cucunya, para leluhur menitipkan ajaran ragam gelombang suara ini dalam CERITA HANACARAKA. Minimal ingat ceritanya, sekalipun sebagian besar tidak menguasai teknik instalasi ulang dan membangkitkan simpul-simpul AKSARA (gelombang-frekwensi suara) yang ada dalam ajaran ini.
Ajaran ini pada pokoknya memberikan petunjuk bagaimana mengaktivasi simpul tubuh dan akar energi kita agar bisa maksimal-antusias menjalani kehidupan, harmoni dengan sekitar dan muasal gelombang kehidupan. Menari bersama gelombang halus alam semesta, sekarang atau kelak bisa manunggal dengan SANG HYANG ŠIWA NATARAJA — SANG PENARI ALAM SEMESTA.
BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...