Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
— Catatan Harian, Sugi Lanus, 22-23 Agustus 2023
ORANG JAWA DAN BALI di masa lalu mengetahui bahwa tubuh adalah barisan aksara. Secara umum dikenal dan dijabarkan dalam ajaran HANACARAKA RING SARIRA — barisan suara aksara di tubuh. Lebih tepatnya AKSARA RING SARIRA.
Dalam kebatinan Jawa Kuno diajarkan bahwa 'AKSARA' artinya suara. Bukan sekedar tulisan, bukan sekedar huruf, tapi suara abadi semesta atau suara kosmik yang menjadi esensi awal penciptaan semesta.
AKSARA adalah gelombang-gelombang yang melahirkan frekwensi, lalu dari sini muncul bentang ragam suara. Jadi aksara adalah vitalitas sumber frekwensi suara. Gelombang-gelombang frekwensi yang bergema dan yang memenuhi alam raya porosnya Sangkan Paraning Dumadi (Sang Asal Muasal Kehidupan). Bentangnya sangat luas. Ada yang kita dengar, ada yang tidak terdengar.
Gelombang aksara ini menari di alam semesta sehingga kadang disebut TARIAN ŚIWA NATARAJA. Dalam hal ini Śiwa bukan sosok, tapi sumber muasal semua gelombang, inti dari yang paling halus, tarian gelombang yang menghasilkan ragam frekwensi yang menjadi sumber dentum penciptaan alam semesta dan poros aktivitas alam raya.
Ada banyak varian ajaran AKSARA RING SARIRA. HANACARAKA RING SARIRA adalah versi dasar yang paling umum. Ajaran DASA AKSARA merupakan tahapan tingkat lebih lanjut dari HANACARAKA RING SARIRA.
Dalam kependetaan brahmana Buddha dan brahmana Śiwa secara tertutup hanya diturunkan lewat garis gotra guru-sisya ada FORMULA AKSARA yang diberikan dalam proses NYEDA RAGA (prosesi memulangkan tubuh — mati raga) yang menjadi pucak inisiasi upakara kematian dan kebangkitan kembali sebagai DWIJATI, dalam prosesi NGASKARA dan METANGI.
Tubuh di-restart dan di sana diinstal gelombang-frekwensi tertentu, selanjutnya tubuh SANG DWIJATI menjadi 'tubuh lingga' yang menyimpan gelombang aksara yang diintal. Dari sana perjalanan SANG DWIJATI mulai dari nol, tidak lagi menoleh kebelakang, hidup berhenti sebagai tubuh atau sosok, tetapi mulai sebagai LINGA PELAYANAN umat yang didampingi.
Di kalangan pertapa atau karesian di hutan atau 'wanasrama' hidup sang penempuh ajaran aksara merayakan tubuhnya adalah poros mini dari gelombang aksara. Aksara atau frekwensi tubuh diekselerasi dengan bentang hutan dan pepohonan sampai titik harmoni dan mencapai manunggal dengan gelombang dan frekwensi hutan.
Tarikan napas dan kesadaran tubuh disatupadukan dengan 'napas hutan' dan bumi serta langit yang melingkupinya. Memanunggalkan AKSARA—PERTIWI lewat pemahaman dan laku mengakselerasi gelombang pikir, rasa, cipta, dan ketubuhan untuk dilepas-serahkan secara tuntas hanyut di hutan raya dan hening semesta, itulah 'bhakta-bhakti sang awanasra' — ia yang memilih mengungsi dan melepas personalitas hidup di hutan dan menjadi hutan itu sendiri.
Salah satu ajaran AKSARA RING SARIRA menyebutkan bahwa cikal bakal penciptaan alam semesta adalah gelombang suara. Pada awalnya sebelum ada apa-apa di alam semesta, bahkan sebelum tercipta bentang alam semesta, yang ada adalah AKSARA poros gelombang suara. Dari 'poros sonic' dan gelombang suara inilah terjadi penciptaan semesta.
Karena alam raya pertama-tama adalah gelombang dan ragam frekwensi suara maka tubuh manusia pada dasarnya atau pada intinya adalah jalinan gelombang suara. Pada semua titik-titik simpul tubuh ada frekwensi masing-masing yang bersuara tetapi di luar jangkuan telinga biasa. Frekwensi ini tertidur dan lemah. Untuk membangkitkan dan memperteguh simpul-simpul gelombang di tubuh ini menjadi dasar pedoman kebatinan menghidupkan aksara atau gelombang-frekwensi suara di tubuh manusia Jawa dan Bali.
Di Jawa dan Bali, agar tidak dilupakan anak cucunya, para leluhur menitipkan ajaran ragam gelombang suara ini dalam CERITA HANACARAKA. Minimal ingat ceritanya, sekalipun sebagian besar tidak menguasai teknik instalasi ulang dan membangkitkan simpul-simpul AKSARA (gelombang-frekwensi suara) yang ada dalam ajaran ini.
Ajaran ini pada pokoknya memberikan petunjuk bagaimana mengaktivasi simpul tubuh dan akar energi kita agar bisa maksimal-antusias menjalani kehidupan, harmoni dengan sekitar dan muasal gelombang kehidupan. Menari bersama gelombang halus alam semesta, sekarang atau kelak bisa manunggal dengan SANG HYANG ŠIWA NATARAJA — SANG PENARI ALAM SEMESTA.
KALANGAN Ayodya di Taman Budaya Bali, malam itu begitu riuh. Gelak tawa dan tepuk tangan terus berganti. Penonton berjejalan. Duduk berdesak-desakan. Banyak yang akhirnya duduk les...
JIKA di atas meja belajar anda terdapat dua buah benda yaitu gadget dan buku, manakah yang akan anda pilih? Saya percaya, demi sinetron kesukaan ibu-ibu di tivi, kebanyakan dari a...
LAGU anak-anak itu kadang unik, terutama liriknya. Saat Taman Kanak-Kanak dulu kita tidak begitu hirau dan memang tak banyak mengerti arti dan maksud lagunya itu apa. Cuma nyanyi d...
BALI merupakan kepulauan seribu pura yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Masyarakat Bali tak lepas dari Tri Hita Karana yang merupakan landasan kehidupan beragama dan beradat....
JIKA benar harga rokok setinggi langit biru, dan jika benar harga tinggi itu bisa menghentikan orang merokok, dan (siapa tahu) nanti benar-benar tak ada yang merokok, bagaimana nas...
PERNAH nyuluh jangkrik? Zaman saya kecil, di desa saya di Jembrana, nyuluh jangkrik (memburu jangrik malam hari) adalah kegemaran saya dan teman sebaya. Jauh-jauh sebelumnya, bapak...
Cerpen: Putri Handayani HAMPIR setiap hari Griya Siwa tidak pernah sepi dari orang-orang yang ngayah1. Mulai dari membuat sarana upakara sampai meracik tirta, semua dilakukan oleh ...
KELAHIRAN istilah 'simakrama' menarik untuk ditelusuri. Awalnya istilah ini yang lebih mengarah pada padanan kata 'silahturahmi', yang mencerminkan keinginan untuk berbicara dan sa...
ADA serombongan remaja sedang berebut peran. Mereka akan menjadi pelakon sandiwara dalam perayaan Agustusan tingkat RT. Peran konglomerat, menteri, dokter, mahasiswa, semua mereka...
GARIS berliku itu menyerupai sungai. Lebar di hulu kemudian menyempit di hilir. Warnanya hijau, biru, dan jingga. Garis berliku serupa sungai itu membelah lukisan menjadi dua bagia...