HINDU NUSANTARA mengenal konsep Panca Yadnya [Rsi-Dewa-Pitra-Manusia-Bhuta Yadnya] tertulis secara jelas dalam kitab-lontar etika-upakara berbahasa Kawi (Jawa Kuno): KORAWASRAMA. Isi teks suci ini telah membumi semenjak era Medang Kamulan, sekitar abad 7-11.
Bagian Rig Weda, yaitu Sataphata Brāhmana, dalam bahasa Sansekerta, ribuan tahun sebelumnya menjelaskan 5 kategori yadnya. Isi kedua kitab satu jiwa.
Satu hal yadnya yang perlu secara tegas ditambahkan dalam pembagian ini adalah YADNYA MELINDUNGI LINGKUNGAN, yadnya ke 6. Bisa kita sebut sebagai BHUMI YADNYA. Ini disurat secara tegas dalam Weda, untuk menyebut beberapa bait di bawah ini:
— Rg Veda X.97.4
Tanam-tanaman memberi makan dan melindungi alam semesta. Oleh karenanya mereka disebut para Ibu.
— Rg Veda VI.48.17
Janganlah menebang pohon-pohon itu, Karena mereka menyingkirkan pencemaran.
— Rg Veda X.97.3
Tanam-tanaman adalah pelindung.
— Rg Veda III.51.5
Yang berikut ini adalah pelindung kekayaan alam: Atmosfir, tanam-tanaman, dan tumbuh-tumbuhan berkhasiat obat, Sungai-sungai, sumber-sumber air dan hutan belantara.
— Yayur Veda V.43
Janganlah mengganggu langit dan janganlah mencemari lingkungan.
— Yajur Veda Samhita XXV.17
Bumi adalah ibu dan langit adalah ayah kita.
— Maitrayani Samhita II.8.14
Selalulah memperkuat dan memberi makan kepada bumi. Janganlah mencemarinya.
Semua wahyu di atas bukan sebatas tuntunan pikir, tapi tuntunan tindak.
Secara pemahaman mungkin umat Hindu semua sepakat, tapi dalam langkah aksi menjaga lingkungan, katakanlah di kawasan suci masih dan terus sampah dan limbah semakin berlimpah mencemari, bertentangan dengan kesucian dan yadnya yang dilakukan di pura itu sendiri.
Panca Yadnya esensinya rubuh dan menjadi sebatas basa-basi jika tidak dilindungi oleh aksi nyata yadnya ke enam — BHUMI YADNYA — berupa tindakan sistematis perlindungan alam: Pertama-tama melindungi kawasan suci dan simpul-simpul mata air dari sampah upakara dan polusi; kemudian pembersihan kawasan pemukiman dan sekitar; wilayah-kawasan subak dan pertanian; hutan belantara yang tak lain adalah pelindung kita.
Tanpa yadnya ke-6, Panca Yadnya akan rubuh sendiri. [T]
BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...