Kursi kursi itu ditata sejak pagi. Kemarin. Sebagaimana seonggok gong akan dipukul berbunyi bangga: Di tengah kota. Telah panggung berdiri dan megah, agung.
Hari ini dan sampai satu bulan kedepan. Mereka akan berbicara tentang laut. Tanpa bosan. Tentang tuhan. Dan tentang dewa yang perhatian. Pada laut.
Lambaian tangan yang lihai. Simbol simbol harap. Metafora metafora yang menantang deras mengalir- Seperti sungai yang pergi ke hilir. Mengingatkan kita semua pada pengatur laut tetapi jahat Berapa jumlah tongkang tongkang batu berlayar Menggantikan kekasih laut, nelayan, berlayar?
Menatap tajam ia di atas panggung. Mencoba menjawab beberapa hal yang hilang itu dikepala. Memikirkan. Tetapi tidak satupun menemukannya. Dan menjelaskan yang lain diatas panggung: Panggung hanyalah pelabuhan terakhir bagi nasib yang buruk, katanya.
Oooo… O. Tarian yang hilang. Oooo… O. Kalimat tanya yang hilang. Oooo… O. Laut yang menangis. Oooo…
Penampil terakhir itu kemudian berdiri mengambil kain pembungkus mayat. Lalu membalutkannya pada mikrofon yang mati. Pada tanda tanya yang hilang.
“Tuan-tuan dan Puan-puan yang terhormat. Penampilan telah selesai…” ucapnya dengan suara agak keras dan serak sebelum akhirnya akan menuntaskan kalimat selanjutnya. Tetapi lampu mati terburu buru dan panggung menjadi tempat gelap. Sangat gelap. Penonton terkejut. Terhibur. Pengatur Laut terhibur. Dan tepuk tangan menyambut meriah ditengah kegelapan.
Bali, 2023
JALAN KUSAM YANG MESTI DICAT WARNA
Ini tahun politik. Ya, sebentar lagi maksudku. Suasana. Ya, Aku masih ingat betul suasana tahun politik menjelang. Satu waktu. Jalan di depan rumahku, beton dan berwarna kusam. Berganti warna menjadi hijau setelah Pak RT dan Ketua Pemuda menugaskan aku dan beberapa temanku Yang sedang berkumpul. Ia berpesan untuk memberinya cat Berwarna dengan variasi ikan, bintang, dan Gambar gambar yang bagus sepanjang jalan. Jangan lupa, kata dia, beri warna hijau yang banyak di setiap ruasnya.
“Sebentar lagi ada Bupati dan Kepala Desa akan berkujung. Lusa. Beliau beliau akan datang, segera cat warna hijau!”
Pak RT itu kemudian memberi kami uang untuk membeli cat Dan meminjamkan motornya agar segera berangkat ke toko. Tanpa tahu ini penting atau tidak. Pemuda semacam kami, penganggur. Sangat senang. Tentu bukan karena tamu kehormatan akan datang!
Tetapi atas pekerjaan yang diberikan dan beberapa rokok kretek dan kopi, gorengan dan sebungkus nasi uduk. Setidaknya nafas kami lebih lama dalam satu hari. Pula dipandang penganggur yang baik beberapa hari jika masih hidup. Namun. Sekali kali hati penasaran saat memberi warna pada jalan, “Apa fungsinya Bupati dan Kepala Desa sehingga jalan mesti di cat?”
Bali, 2023
JAMUAN MERAH DI LAMPU MERAH
Merah menjamu tanda baik Berhenti kami menunggu Tanda giliran pulang. Dari Pantai Panimbangan Berjalan keluar kami kuning kuning
Tidak dengan hewan banteng yang terpenjara di dalam makna. Terpakung di tiang listrik kepalanya. Abadi dalam gambar tanpa tubuh yang jelas. Merah merah kabur warnanya. Pula nilainya barangkali.
Mural kebebasan dan lampu lampu jalan Sedikitnya menambahkan warna baik kepada tembok Hari baik kepada banteng sebagai teman.
Ini tanda baik! Lampu telah hijau memberi jalan. Kami hormat! Pulang penuh semoga. Semoga selamat.
Singaraja, 2023
TAK APA. UNTUK HARI RAYA
Lele mematil jariku berdarah. Aku tahan sakitnya. Aku lap dengan bajuku yang bau anyir ikan itu Tidak lama. Lelepun berdarah. Robek perutnya dan mati. Lele di masak kemudian. Menyusul lobster dan kepiting yang sudah bersih menunggu. Mereka dimasak juga kemudian.
Kenikmatan orang orang yang hendak pergi kearah Denpasar dan Pelabuhan Gilimanuk. Seakan tiada habisnya berhenti dan memesan lele goreng dan dua porsi seafood tawar sebelum melanjutkan perjalanan dengan mobil masing masing. Tak apa berbanting tulang dengan waktu kerja sore-dini hari dan luka jariku. Sebab. Bagaimanapun seorang laki-laki mesti berfikir tentang hari raya yang sama: bertemu teman. Berbagi dan sama sama gembira.
Sehingga aku memutuskan untuk bekerja. Menggantikan beberapa karyawannya yang pergi mudik tiga minggu, ke Jawa. Ya, ditempat warung milik orang china blasteran. Orang memanggilnya dengan sebutan Cak Koko. Terkenal betul masakan seafoodnya di Bali Utara. Satu minggu sudah bekerja. Sudah kebal jariku dari patilan lele dan capitan kepiting. Ini hari yang baik untuk mengambil uang.
Diberilah aku upah dua ratus ribu rupiah dan waktu libur lima hari. Karena lusa sudah hari raya idul fitri, hari raya agamaku.
Aku terima uang itu penuh suka cita. Aku masukan kedalam kantung bajuku sebelah kanan. Tak apa. Untuk hari raya. “Naskleeenggg!!!!!” batinku.
Singaraja, April 2023.
KUCING SEMALAM
Pagi ini. Tidak ada bau daging tergoreng, Terkukus atau disate. Tidak sama sekali Tercium lezatnya. Tidak sama sekali. Selain. Hanya debu debu yang terbang sesak nafas. Selain. Setumpuk sampah tercecer ulah kucing lapar berbulu kuning belang belang. Menguar aroma tak sedap. Membangkitkan jiwa pemarah salah satu temanku. Satu hari penuh.
Saat terbangun dari mimpi basahnya. Ia, Seakan mendapatkan perintah tuhan yang maha sulit dilakukan saat membuka mata: Membersihkan segala yang kotor di Bumi! Termasuk di atas lantai tentu saja. Cahaya gelap dari mulutnya seakan menjelaskan kepada yang lain tentang dirinya adalah manusia sangat biasa dan tidak ada Nabi yang dipilih setelah terbangun dari mimpi basah. Maka. Wajarlah jika ia mengomel, kalap dan puas meracau-mengumpat kesetanan.
“Dasar! Kucing tak punya akal! Tak bermoral!” Umpatnya sangat kesal dengan mata mendelik seolah mencari cari kemana kucing itu pergi. Seolah akan diburu walau hanya seekor yang terlihat. Sementara tanpa celah.
Sapu ditangannya semakin tercekik tiada ampun. Bahkan debu debu kemarau sampai terbang liar tak menentu:
Hinggap. Ke Piring. Ke Perut. Hinggap. Ke Tembok. Ke Hidung. Ke Piring. Ke Perut.
Kemana mana.
“Lain kali. Kau bedol saja kepala kucing itu dan mengisinya regulasi regulasi tentang sampah!” kataku. “Bila perlu, bunuh! Jika tetap tak mengerti tinggal di kost kecil bagaimana.” Waktu terdiam. Hening beberapa saat.
Debu debu kemarau yang hinggap-mengejutkan bangkit dari segala sisi kemudian: Sepertinya tuhan tak ingin melihat darah kucing tercecer di lantai dan lebih memilih membagi sedikit cahaya pada jiwa orang yang sedang kalap.
“Percuma” katanya kepadaku. “Sebab binatang tidak akan pernah bisa mengerti! Sekalipun itu adalah kucing yang sering pergi ke Kampus. Atau… ke Masjid sekalipun.”
MUSIK tradisional Opera Beijing "Gong dan Drum Tradisional Hakka" membuat penonton terkesima dengan perpaduan luar biasa antara kekuatan ritme yang menggelegar, sinkronisasi koreo...
SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku di Kelurahan Beng, Gianyar, Bali. Di tengah orkestrasi aroma...
TIGAminggu lalu saya mendengarkan tunangan saya diwawancarai. Kalimat itu terdengar aneh. Biasanya sayalah yang mewawancarai orang. Sejak menjadi wartawan, entah sudah berapa ratu...
KESERIUSAN Wikan Satya terhadap musik rupanya tidak berhenti pada “Anacaraka”. Setelah karya itu mendapat banyak sorotan sebagai lagu anak-anak yang mengangkat Bahasa dan Aksara B...
JUNI adalah Bulan Bung Karno. Pada 1 Juni 1945, hari ketiga sidang BPUPKI, Bung Karno mendapat kesempatan ketiga setelah Muhamad Yamin dan Soepomo menyampaikan pidatonya. Hari lah...
“BECEK lagi, becek lagi,” keluh istri saya setiap kali menghadiri hajatan di kampung—entah pernikahan, tujuh bulanan, kematian, sedekah bumi, khitanan, maupun perayaan hari raya....
Penjor yang Menjulang dan Pertanyaan yang Menggantung
Setiap Hari Galungan, Bali berubah menjadi lautan penjor. Di depan rumah-rumah, di sepanjang jalan desa, hingga di pusat-p...
MENJELANG pembukaan Pesta Kesenian Bali 2026, perhatian publik justru tidak tertuju pada tarian, tabuh-tabuh baru, atau tema yang diusung tahun ini. Yang ramai diperbincangkan han...
INI adalah pertunjukan seni panggung. Namun, stage proscenium itu dimeriahkan dengan foto-foto indah dan bersejarah. Bidikan aktivitas budaya, bangunan bersejarah dan hasil keraji...
BEBERAPA waktu lalu saya sengaja mampir ke sebuah toko buku di Malang yang pernah menjadi tempat favorit saya semasa mahasiswa. Dulu, toko buku itu selalu hidup. Lorong-lorongnya...