di tengah kolam. debu malam jatuh dari sehelai daun menggetarkan purnama yang terapung. penyelam gaib bangkit dari lumpur, memanjat akar dan bersembunyi di kuncup teratai
ia genggam setetes mata air dari air mata leluhur sengaja disembunyikan raja. teratai mekar mengisyaratkan kabar seperti puisi yang mudah mati. kelopak bunga luruh satu per satu. menyaru pada sisik ikan abu-abu
MATA, AIR
hujan yang membiaskan jatuh garis daun pelan-pelan luruh
pohon-pohon bertumbuh merahasiakan akar menjelajahi hidup yang sungguh
angin bertiup cepat, ada yang patah namun tak tertangkap telinga
air mengalir di sela, mengecil lalu hilang baginya, tangis adalah cara mata menyucikan dirinya
MATA MALAM
di manapun, langit di manapun, angin di mana-mana, kau
langit, di manapun angin, di manapun kau, di mana-mana
teduh malam dari bintang hujan menjelma diam selepas gumaman waktu tersembunyi lepas dari binar mata berguguran ingin mengembus terbang
kembali hujan memukul hening hilang-hilang
kau, angin yang suka menabrak tiba-tiba menghilang tanpa aba-aba berbekas senjakala
BAGAIMANA MENGENAL MU
KAU adalah seluruh perpaduan kitab suci dan aku hanya boleh membaca satu
RUMAH
rumah tinggal kini tinggal rumah
bagi beberapa kepergian
AKU INGIN MENJADI ASAP
jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi asap berwujud isyarat sebelum api membakar hutan berwujud pesan setelah hutan api menghilang
jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi asap menjelma napas mesin di darat, laut, udara berkeliaran di dapur para ibu, terbang dari tubuh mati korek api dan lilin
aku ingin menjadi asap, dihirup pikiran runyam perokok hingga aku-aku yang lain berkumpul di langit, mengendap cerita di arus angin, lalu lebur menjadi hujan bagi api
CERMIN-CERMIN WAKTU
cermin, bawa aku kembali ke masa kecilku ketika matamu lebih banyak menatap mataku dan hari-hari siap bermain tanpa khawatir atau kumis mulai menebal
cermin, bawa aku kembali ke masa kecilku menemui sisa kumis ayah pada patahan spion bertemu ibu dengan dandanan terburu-buru dan pecah tangis adik di luka tubuhmu
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...