di tengah kolam. debu malam jatuh dari sehelai daun menggetarkan purnama yang terapung. penyelam gaib bangkit dari lumpur, memanjat akar dan bersembunyi di kuncup teratai
ia genggam setetes mata air dari air mata leluhur sengaja disembunyikan raja. teratai mekar mengisyaratkan kabar seperti puisi yang mudah mati. kelopak bunga luruh satu per satu. menyaru pada sisik ikan abu-abu
MATA, AIR
hujan yang membiaskan jatuh garis daun pelan-pelan luruh
pohon-pohon bertumbuh merahasiakan akar menjelajahi hidup yang sungguh
angin bertiup cepat, ada yang patah namun tak tertangkap telinga
air mengalir di sela, mengecil lalu hilang baginya, tangis adalah cara mata menyucikan dirinya
MATA MALAM
di manapun, langit di manapun, angin di mana-mana, kau
langit, di manapun angin, di manapun kau, di mana-mana
teduh malam dari bintang hujan menjelma diam selepas gumaman waktu tersembunyi lepas dari binar mata berguguran ingin mengembus terbang
kembali hujan memukul hening hilang-hilang
kau, angin yang suka menabrak tiba-tiba menghilang tanpa aba-aba berbekas senjakala
BAGAIMANA MENGENAL MU
KAU adalah seluruh perpaduan kitab suci dan aku hanya boleh membaca satu
RUMAH
rumah tinggal kini tinggal rumah
bagi beberapa kepergian
AKU INGIN MENJADI ASAP
jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi asap berwujud isyarat sebelum api membakar hutan berwujud pesan setelah hutan api menghilang
jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi asap menjelma napas mesin di darat, laut, udara berkeliaran di dapur para ibu, terbang dari tubuh mati korek api dan lilin
aku ingin menjadi asap, dihirup pikiran runyam perokok hingga aku-aku yang lain berkumpul di langit, mengendap cerita di arus angin, lalu lebur menjadi hujan bagi api
CERMIN-CERMIN WAKTU
cermin, bawa aku kembali ke masa kecilku ketika matamu lebih banyak menatap mataku dan hari-hari siap bermain tanpa khawatir atau kumis mulai menebal
cermin, bawa aku kembali ke masa kecilku menemui sisa kumis ayah pada patahan spion bertemu ibu dengan dandanan terburu-buru dan pecah tangis adik di luka tubuhmu
Kemegahan karya seni “The Octopus Queen” di kawasan Broken Beach, Nusa Penida, sukses mencuri perhatian salah satu perhelatan dunia dalam ajang internasional Red Bull Cliff Divin...
KETIKA dunia menyebut Kuta hari ini, ingatan kolektif yang muncul hampir selalu seragam, pesisir yang riuh, lanskap global pariwisata, komodifikasi ruang, dan denyut industri yang...
MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land and Sea”, sebuah ajakan unt...
LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon. Di depan mereka, seorang pemandu wi...
MENGGUNAKAN parfum wanita memang jadi cara paling simpel untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meninggalkan kesan yang elegan. Tapi, tahukah kamu kalau cara pemakaian yang kura...
TERBITNYA ensiklik Magnifica Humanitas: On Safeguarding the Human Person in the Time of Artificial Intelligence karya Paus Leo XIV menandai babak baru dalam percakapan global tent...
SALAH satu paradoks kehidupan politik hari ini adalah semakin melimpahnya kritik di ruang publik tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan perubahan politik yang...
JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum sempat mengering di dedaunan, dan angin pagi masih...
“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Pria yang diper...