di tengah kolam. debu malam jatuh dari sehelai daun menggetarkan purnama yang terapung. penyelam gaib bangkit dari lumpur, memanjat akar dan bersembunyi di kuncup teratai
ia genggam setetes mata air dari air mata leluhur sengaja disembunyikan raja. teratai mekar mengisyaratkan kabar seperti puisi yang mudah mati. kelopak bunga luruh satu per satu. menyaru pada sisik ikan abu-abu
MATA, AIR
hujan yang membiaskan jatuh garis daun pelan-pelan luruh
pohon-pohon bertumbuh merahasiakan akar menjelajahi hidup yang sungguh
angin bertiup cepat, ada yang patah namun tak tertangkap telinga
air mengalir di sela, mengecil lalu hilang baginya, tangis adalah cara mata menyucikan dirinya
MATA MALAM
di manapun, langit di manapun, angin di mana-mana, kau
langit, di manapun angin, di manapun kau, di mana-mana
teduh malam dari bintang hujan menjelma diam selepas gumaman waktu tersembunyi lepas dari binar mata berguguran ingin mengembus terbang
kembali hujan memukul hening hilang-hilang
kau, angin yang suka menabrak tiba-tiba menghilang tanpa aba-aba berbekas senjakala
BAGAIMANA MENGENAL MU
KAU adalah seluruh perpaduan kitab suci dan aku hanya boleh membaca satu
RUMAH
rumah tinggal kini tinggal rumah
bagi beberapa kepergian
AKU INGIN MENJADI ASAP
jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi asap berwujud isyarat sebelum api membakar hutan berwujud pesan setelah hutan api menghilang
jika aku terlahir kembali, aku ingin menjadi asap menjelma napas mesin di darat, laut, udara berkeliaran di dapur para ibu, terbang dari tubuh mati korek api dan lilin
aku ingin menjadi asap, dihirup pikiran runyam perokok hingga aku-aku yang lain berkumpul di langit, mengendap cerita di arus angin, lalu lebur menjadi hujan bagi api
CERMIN-CERMIN WAKTU
cermin, bawa aku kembali ke masa kecilku ketika matamu lebih banyak menatap mataku dan hari-hari siap bermain tanpa khawatir atau kumis mulai menebal
cermin, bawa aku kembali ke masa kecilku menemui sisa kumis ayah pada patahan spion bertemu ibu dengan dandanan terburu-buru dan pecah tangis adik di luka tubuhmu
SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada teknik memasak rumit, tak ada permainan api sp...
DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo itu mendomi...
BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan berantai menyebar di grup WhatsApp,...
PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang bukan hanya untuk berkuliner ria, tapi juga mendeng...
LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui jaringan. Literasi digita...
Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid?
Begitu erat, cara kita mengaitkan ke...
Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para sporter sepak bola ya...
LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam kerangka teori komunikasi dan budaya, Af...
Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah setelah hujan itu menjadi saksi tumbuhnya semangat...
SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang di depan loket, tidak ada aroma popcorn yang ter...