Dalam kebatinan Bali yang dimaksud MANUSA MATAH (manusia mentah) adalah tubuh/sarira yang belum pernah dikonversi/diupgrade lewat instalasi AKSARA SUCI.
Prosesi menginstal aksara suci ini dikenal dengan berbagai tahapan: MAWINTEN, MAPULANG LINGGA, NGALINGGIHAN WEDA.
Di luar jalur formal di atas adalah transmisi teks suci oleh Guru ke Sisya yang tertutup. Murid diinisiasi tertutup dan diinstal DASA AKSARA secara khusus pula. Semua tertutup.
Tanpa instalasi sarira dengan aksara suci ini seseorang dianggap matah (mentah).
Proses instalasi aksara suci harus dilakukan oleh Guru yang mumpuni dan dilakukan ke sarira atau sosok yang tepat.
Jika dilakukan oleh Guru yang tidak mumpuni dan orang yang ambisi MAWINTEN, MAPULANG LINGGA, NGALINGGIHAN WEDA adalah sosok yang tidak pantas, maka ancaman kegagalannya sangatlah besar. Sarira yang diinstal tidak bisa menyerap.
Karena itu, jika ada sosok telah ganti nama, menyandang gelar suci, serta ganti penampilan, tetapi di tengah jalan goyang, tidak mantap atau tidak bisa menjalankan tugas "ngemargiang kawikon", ini indikasi proses instalasi aksara sucinya gagal.
AKSARA SUCI memang menjadi salah satu kunci mengkonversi "bahan mentah" sarira.
Pada foto-foto di atas tampak aksara suci yang dipakai mengkonversi atau mengupdate bahan mentah kayu, batu, semen, atap, dll., untuk menjadi "altar suci".
Tanpa instalasi aksara suci sebuah altar tidak bisa dianggap wahana suci (palinggih). Oleh karena itu ada pantangan dan tuntunan dalam sastra untuk tidak sembarangan memuja cakup tangan. Tidak dibenarkan atau pantangan memuja di tempat yang upakara dan prosesi ngelinggihang aksaranya (mendem pedagingan dll) tidak memadai.
Jika tubuh disucikan dengan instalasi aksara suci menjadi untuk bisa memenuhi kriteria tubuh suci, demikian pula bahan mentah (kayu, batu, ijuk, dll) bisa dianggap kuil suci jika sudah diupgrade lewat instalasi aksara suci.
Sebelum mencapai syarat instalasi aksara suci itu, maka bahan baku (tubuh atau pelinggih) tetap bahan mentah.
Disebut "MANUSA MATANG" ketika sang sarira telah disinari oleh nyala cahaya AKSARA SUCI. Dipenuhi oleh getar mantra suci dan padu dalam keheningan semesta. [T]
BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang calon wirausaha ditanya mengenai apa y...
SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali seperti sediakala?"
Pertanyaan...
PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya di Jembrana-Bali, yang telah berpulang pada 21 Januari 20...
KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi ini: hutan-hutan terbaik yang be...
"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota Singaraja," ujar Bupati Buleleng, dr. I...
JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan akan datang orang-orang yang dan...
HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai marmer rumah mewah di kawasan elit. Suara temba...
MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA
mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata
jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta kebijakan berbe...
TEPAT hari Sabtu, 13 Juni 2026, saat Renon sedang menyengat, ribuan orang memadati kawasan Monumen Perjuangan Rakyat Bali di Denpasar. Di tengah gemuruh tabuh dan warna-warni busa...
RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat dikenali secara utuh dalam epik Ramaya...