Gabriela
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
MEMASUKI pertengahan bulan Agustus selalu menjadi momen spesial bagi seluruh masyarakat Indonesia, pun dengan saya. Dan tentu kita sepakat bahwa 17 Agustus adalah hari peringatan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)---harga mati!
Pada momen-momen seperti sekarang ini, saya selalu teringat masa-masa saat masih duduk di bangku sekolah---dari SD sampai SMA---dulu. Saat kegiatan gerak jalan serius maupun kocak menjadi parade utama dan begitu semarak. Tak hanya itu, lomba-lomba seperti karnaval, sepade hias, makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, tarik tambang, hingga panjat pinang begitu melekat dalam ingat saya.
Dekorasi-dekorasi khas kemerdekaan: bendera merah putih, umbul-umbul, poster hingga banner-banner besar tampak berdesakan di gang-gang, jalan Besar, depan rumah, di kantor, dan di gedung-gedung. Guru-guru di sekolah sibuk melatih siswa-siswi terbaik mereka baris-berbaris untuk mengikuti lomba gerak jalan yang diadakan pemerintah daerah maupun kecamatan. Semua bergembira menyambut hari kemerdekaan.
Tak hanya perlombaan, diskusi atau pameran bertajuk pembangunan dan kemerdekaan pun banyak digelar.
Saya juga mengingat kembali saat menyelenggarakan acara Tegal Sari Ceria di Desa Les beberapa tahun silam. Saya menyelenggarakan acara tersebut sebanyak dua kali.
Melalui acara tersebut, saya beranggapan akan memberi kebahagian untuk meningkatkan produktivitas anak-anak di Desa Les yang akan menjadi generasi penerus bangsa. Menurut saya, generasi juga perlu regenerasi. Pun begitu juga dengan perayaan, saya kira harus ada inovasi.
Waktu itu Tegal Sari Ceria mengadakan lomba lari, hitung tepat cermat cepat, panjat pisang, hingga lari kampil (atau balap karung), dengan hadiah berupa alat tulis, sembako, pisang dan hal-hal yang unik lainnya. Anak-anak hingga orang dewasa bergembira dalam menyambutnya---dan itu dianggap sebagai sebuah kecintaan terhadap tahah air.
Tapi itu semua hanya masa lalu. Beberapa tahun belakangan saya pikir seremonial semacam itu tak bisa sepenuhnya dianggap sebagai rasa cinta tanah air. Sebab, bagi saya hari ini, mencintai tanah air lebih dari sekadar memasang bendera, mengadakan lomba-lomba, atau diskusi refeleksi kemerdekaan yang hanya dilakukan setahun sekali. Hal tersebut akan segera hilang ditelan waktu saat bulan sudah berganti---semua hilang dan tak ada sari yang tersisa.

Padahal, idealnya, mencintai tanah air itu berkelanjutan, berkesinambungan, terus-menerus, sampai akhir hayat. Merayakan kemerdekaan hanyalah sebagian kecil dari nasionalisme. Lantas, apa yang lebih besar dari seremoni perayaan kemerdekaan?
Sebagai orang yang suka jalan-jalan sekaligus anak petani garam, rasa cinta terhadap tanah air itu saya tunjukkan dalam bentuk yang paling sederhana, yaitu membeli dan menggunakan produk-produk lokal olahan para petani, pedang kecil, dan nelayan. Saya mencoba konsisten dengan hal ini.

Tak hanya membeli, saya juga terus membicarakan perjuangan para petani garam, petani gula juruh, petani arak, pembuat lengis tanusan, pembuat jajan Bali, sampai pelestari tradisi. Dengan begitu, saya berharap apa yang mereka lakukan bisa terlihat dan didengarkan.

Sekali lagi, bagi saya, menggunakan produk lokal adalah salah satu cara mencintai Indonesia. Dan Ini pula yang mendasari saya membuat wadah Roemah Usaha Cerik yang mempromosikan olahan-olahan lokal desa dan menghubungkan aktifitas petani dengan pemandangan alam Desa Les dalam program "Tourdeles".
Akhirnya, perayaan harus terus dirayakan sepanjang waktu dengan banyak hal. Kalau sampai diperingati saja tanpa ada tindakan nyata, itu namanya cinta monyet---cintanya para remaja labil yang menye-menye. Ayo, 17 Agustus tahun ini kita mulai mengurangi seremoni dan memperbanyak aksi. Merdeka Indonesiaku![T]
Cerpen: Putri Handayani “Gabriela, pohon beringin itu menari. Aku mengerjapkan kedua mataku. Pohon itu tetap menari. Kembali kukerjapkan kedua mataku sambil lalu mengusap-usapny...
TIGA RAMU MENGKUDU Daun; Petiklah aku Tiga kepik muda Ramu padu dengan segenggam garam Dan tiga biji beras genggam Hingga padu resep moyang Hingga...
BAGAIMANA harus melukiskannya, sebagian besar anak kos (mahasiswa) memang dikenal selalu mumet dengan hiruk pikuk perekonomian. Dari media sosial, hingga sosial media, tahu perekon...
Bayangkan sebuah hutan hujan tropis dengan vegetasi yang hanya terdiri dari satu jenis pohon, atau sebuah partitur musik yang notasinya hanya tersusun dari nada ‘do’. Menjemukan se...
Saya salah satu penikmat tari. Saya lahir dari darah seorang ibu, yang dikala mudanya pernah menjadi Penari Zapin Melayu, di salah satu sanggar yang boleh dikata cukup tua di Ponti...
BEBERAPA bulan lagi, tahun akan segera berpindah. Bali punya acara spesial di tahun 2017 & 2018. Suksesi pemegang otoritas pemerintahan provinsi dan beberapa kabupaten di Bali...
MENJADI kota niscaya menjadi modern. Premis ini berlaku pada cara pandang yang menempatkan dua kutub berbeda antara kota dan desa. Desa diasumsikan berbau tradisional, kota identik...
PARA penggiat sastra dan teater di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, bersorak ketika dua penulis dari kota itu, Joko Sucipto (puisi) dan Arung Wardana (drama), lolos untuk tampil dala...
Cerpen: Satia Guna Sebutlah aku wanita, mahluk yang menikmati penderitaan dengan berbagai macam rasa sakit. Sebutlah aku tanah, yang selalu diinjak tanpa menerima r...
KABAR DARI ZWOLLE Kenalkan aku pada wangi musim gugur Di tengah pesta roti dan remah-remahnya Yang terbang mengitari sungai Lalu singgah di beranda penuh cerita &n...