Alkisah Bima traveling ke alam kematian. Di alam kematian ia berjumpa berbagai pesakitan 'pirata' (roh orang mati). Satria Pandawa yang tiada mengenal rasa takut ini tiba-tiba dikejutkan oleh pemandangan pirata yang kepalanya dikeliling oleh kelamin laki-laki (dalam bahasa Bali disebut pirata tendas keleng dan juga pirata yang kepalanya dikeliling kelamin perempuan (dalam bahasa Bali disebut pirata tendas teli.
Bima bertanya: "Kenapa sampai ada pirata tendas keleng dan pirata tendas teli”?
Sang penjaga neraka menjelaskan: "Manusia yang hidupnya hanya memikirkan kelamin atau doyan seksual semata, terutama doyan berselingkuh, atau menjadi 'penjahat kelamin' — suka berzinah, memaksa lawan jenis, serta melakukan tindakan tidak senonoh di luar kesadaran manusia berbudi — kalau mati maka rohnya akan terus dikejar-kejar kelamin, dan akhirnya kepalanya dihinggapi dan ditumbuhi oleh kelamin-kelamin yang terus dipikirkan selama masa hidupnya. Mereka dikenal sebagai pirata tenda keleng (roh berkepala penis) atau pirata tenda teli (roh kepala vagina).
WAYANG—UKIRAN PURA—MAKIAN
Kisah Bima traveling ke alam kematian ini dalam masyarakat Bali dikenal sebagai satua (cerita) BIMA SWARGA. Sering kali dipentaskan dulunya dalam pewayangan di Buleleng. Pesan moral yang sangat gamblang ini dipentaskan di depan publik bagaimana manusia mesti menjaga kelaminnya agar berfungsi secara proporsional dan tidak terjatuh menjadi “penjahat kelamin”.
Bukan hanya lewat media pewayangan, kisah Bima Swarga ini banyak bisa ditemui di pura dalem di Buleleng, yang masih ukiran lamanya terselamatkan. Salah satunya di pintu berukir megah Pura Dalem Sangsit, Buleleng. Di sana ada ukiran sangat luarbiasa memukau: pirata tenda keleng. Kalau dari arah luar berada di sebelah kanan pintu atau bentarnya.
Saya belum kesampaian menyajikan foto pitara tendas teli. Ketika berkunjung ke sana biasanya senja hari. Kebanyakan ngobrol atau biasanya duduk di depan pura dan merenung. Lalu lupa sampai lupa senja menjelma malam. Terlupa mengambil foto karena terpukau relief ukiran pagar dan pelinggih pura ini.
.
Foto-foto: Sugi Lanus
Jika Anda bergaul di Buleleng, pitara tendas keleng/teli adalah makian tertinggi dalam bahasa Bali ala orang Buleleng. Di bawahnya ada makian pirata kesasar — roh orang mati yang kesasar tanpa arah tujuan rohaniah.
Jika orang yang jahatnya tiada terkira merusak orang lain dan dirinya, tidak peduli nama keluarganya, berselingkuh atau bermain perempuan/lelaki, tiada kapok berkubang dan berulang dalam perbuatan tidak baik dalam kehidupannya, terutama menjadi "penjahat kelamin", dan berprilaku menjengkelkan tiada kepalang, maka orang Buleleng mengumpatnya sebagai penumadian pirata tendas teli/keleng.
Penumadian artinya jelmaan atau reinkarnasi.
PESAN MORAL
Dalam khazanah umpatan tertinggi bahasa Bali masyarakat Buleleng ini ada literatur atau referensi kisah alam kematian yang dilihat oleh Bima yang melatarinya. Ada pesan moral dan etika dalam makian tertinggi ini.
Makian ini mendorong orang yang dimaki atau orang yang mendengar untuk menjadi eling atau sadar bahwa manusia mesti penuh kesadaran dalam mengurus kelamin, nafsu dan emosinya.
Demikian juga makian penumadian pirata kesasar mengandung pesan agar kita bertumbuh menjadi manusia yang waras, enteg (stabil secara emosi), hidup punya tujuan terus mengusahakan kesadaran dan kebaikan, bukan membiarkan diri kesasar tiada jelas juntrungan dalam menjalani kehidupan. [T]
BACA artikel dan esai lain dari penulis SUGI LANUS
BERDASARKAN data, selain kasus kekerasan seksual dan kasus HIV/Aids, kasus pernikahan anak juga termasuk paling tinggi di Buleleng. Sebagai ketua PKBI (Perkumpulan Keluarga Berenc...
DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus, adik ketiga kelas X, dan adik keempat kel...
sore di gerbang tim.
jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di bawah baliho usang iklan pertunjukan,membiarkan...
SETIAP kali menghadiri acara hajatan, seminar, reuni, atau pertemuan keluarga besar, ada satu momen yang hampir selalu ditunggu banyak orang: saat prasmanan dibuka. Entah mengapa,...
Lomba monolog dalam rangka Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2026 yang diadakan di Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Sabtu, 6 Juni, diikuti oleh 11 peserta.
Secara...
Catatan ini diniatkan sebagai evaluasi bagi para peserta dan pembina lomba baca puisi serangkaian HUT ke-37 SMA Negeri 1 Petang. Mengingat lomba dilakukan secara daring, para juri...
Yajña: Dari Ritual Persembahan Menuju Laku Kehidupan
Banyak orang memandang yajña sebagai ritual keagamaan yang diwujudkan melalui sesajen, canang, bunga, dupa, atau berbagai b...
KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia membawa rasa kehilangan yang mengambang. Galih melangkah...
DOA UNTUK TETANGGA
Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang banyak. Agar tidak ada lagi yangsuka ber...
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan bersama WWF-Indonesia, Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari, dan Coca-Cola Europacific P...