UBUD VILLAGE JAZZ FESTIVAL 2023 telah mengukir kenangan gemilang pada hari terakhirnya, Sabtu (29/7/2023). Dalam dua hari penuh inspirasi dan semangat jazz, panggung festival---yang menyajikan musik jazz dari seluruh dunia---berubah menjadi semacam ruang tamu. Ya, para musisi seolah berbicara dengan penonton melalui alunan musik yang memikat---musik jazz menjadi bahasa universal yang menghubungkan hati dan jiwa para penikmatnya.
Semangat jazz yang tak terduga memenuhi panggung pada hari terakhir festival. Sembilan band penuh bakat menghadirkan penampilan yang tak terlupakan, mulai dari Jazz Centrum Quartet yang merayakan 10 tahun UVJF hingga Galaxy Big Band yang mengekspresikan semangat dan kebersamaan.
Penampilan Amanda Lee Swingtet (Singapore), Pere Bujosa Trio (Spain), dan Ji Ho Lee Trio (Korea) memukau dan menyihir penonton dengan permainan yang intens dan penuh kebebasan. Manna Trio dengan Living Legend Bassist Indonesia, Mates, menghadirkan harmoni yang mencengangkan.
Seakan tak mau kalah, Henk Kraaijeveld Quintet (Belanda) menawan penonton dengan musik-musik menggoda dan improvisasi yang mengejutkan. Dan Rio Moreno Latin Trio dengan Mercy Dumais, memberikan energi memukau dalam alunan musik yang tak terlupakan.
Malam puncak Ubud Village Jazz Festival 2023 /Foto: Dok. Twit Dharma
Sementara itu, New Centropezn dengan Dian Pratiwi dari Rusia menghadirkan vokal luar biasa. Tak ketinggalan, Galaxy Big Band dari Jepang mengajak penonton dalam petualangan jazz yang menggairahkan.
Pengunjung lokal dan mancanegara membaur menjadi satu dalam suasana yang magis. Ubud Village Jazz Festival, sekali lagi, membuktikan bahwa jazz adalah bahasa universal yang mampu menjebol batas-batas budaya dan menghubungkan jiwa manusia.
Salah seorang pengunjung, Adama, warga negara Sinegal, menyatakan kekagumannya. "Ubud Village Jazz Festival ini begitu mengagumkan. Saya tidak hanya menikmati musiknya, tetapi juga merasakan keindahan dan kedamaian Bali. Saya sungguh terkesan," ujarnya.
Lebih dari 500 pengunjung menghadiri dan menyaksikan festival yang berlangsung di Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud, Gianyar, Bali itu. Pengunjung seolah terasuki oleh semangat jazz yang menciptakan ikatan tak tergantikan dalam perjalanan musik yang tak terlupakan.
Malam puncak Ubud Village Jazz Festival 2023 /Foto: Dok. Twit Dharma
Anom Darsana, salah satu co-founder Ubud Village Jazz Festival, mengemukakan keterharuannya atas festival yang telah berhasil menembus umur satu dekade ini.
Penutupan Ubud Village Jazz Festival 2023 menjadi momen berkesan di mana para founder, Anom Darsana dan Yuri Mahatma, memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia yang telah memberikan peran penting dalam kesuksesan acara ini. Semangat dan kerja keras para panitia telah membawa festival ini hingga satu dekade penyelenggaraan, meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam dunia jazz.
Anom sangat bangga dengan komitmen UVJF menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi festival Jazz yang sangat berkualitas. Dia mengatakan, dirinya dan Yuri Mahatma dan semua team percaya ini kerja terbaik mereka dalam sepuluh tahun terakhir.
“Festival Jazz yang kami jalankan dengan idealisme kami, dan acungan jempol publik dan pengunjung yang hadir, memberi makna berkesan bagi kami. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua teman-teman panitia yang telah menjadikan Ubud Village Jazz Festival luar biasa,” ujarnya, haru.
Malam puncak Ubud Village Jazz Festival 2023 /Foto: Dok. Twit Dharma
Tanpa team, menurut Anom, acara ini tidak akan mungkin terlaksana. Team adalah denyut jantung yang menghantarkan festival ini hingga satu dekade. “Terimakasih kepada para sponsor. Sampai jumpa di Ubud Village Jazz Festival tahun depan!" ucapnya.
Sekali lagi, Ubud Village Jazz Festival 2023 telah menyatukan hati dan jiwa melalui harmoni jazz yang memukau. Festival ini telah mengukuhkan posisi Bali sebagai destinasi jazz terkemuka di Asia dan memberikan inspirasi bagi penggemar jazz di seluruh dunia.[T][Jas/*]
JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari sastra tampaknya tidak berala...
UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan skateboard mungil itu meluncur, lalu melompat. La...
PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti Panyembrama, Seka...
SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai simbol kedekatan dengan alam. Mel...
KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love poetry", tulisnya dalam buku barunya M...
PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni adalah ‘bahasa universal’ yang mampu menjembatani...
DUA PULUH lima tahun lalu, tepat saat 2 bulan setelah Milenium ketiga dimulai, segerombol anak muda yang menyebut diri mereka Kamasra (Keluarga mahasiswa Seni Rupa) STSI Den...
MANUSIA adalah makhluk yang gemar mengembara.
Tubuhnya berada di sini, tetapi pikirannya berlari ke hari esok. Atau sebaliknya, tubuhnya telah meninggalkan kemarin, tetapi bati...
Sorak-sorai penonton menyemangati temannya ketika tampil sebagai peserta lomba Matajog (egrang bambu) dalam ajang Jantra Tradisi Bali serangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII,...