Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
NAMA PENYAIR DUNIA, seperti Rabindranath Tagore, Derek Walcott, Pablo Neruda dan T.S. Eliot sepertinya cukup akrab di telinga para penyair Indonesia di Bali. Apalagi, banyak puisi-puisi mereka sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Namun, di telinga orang awam, puisi-puisi dari penyair dunia itu barangkali belum banyak dikenal. Jangankan puisi dari penyair dunia, bahkan puisi dari penyair Indonesia pun tak banyak dikenal.
Nah, dalam hal itulah musikalisasi puisi punya manfaat. Musikalisasi puisi dalam pengertian paling sederhana adalah alih wahana puisi menjadi karya musik atau lagu. Karena dengan begitu, puisi memiliki peluang lebih luas untuk menjangkau penikmatnya hingga pada penikmat yang selama ini awam terhadap puisi.
Musikalisasi puisi dari penyair-penyair Indonesia sudah biasa dilakukan selama ini, baik dalam lomba maupun dalam festival-festival sastra. Namun alihwahana puisi-puisi dari penyair dunia barangkali tidak begitu banyak terdengar.
Adalah Komunitas Budang Bading Badung menyuguhkan garapan musikalisasi, di mana puisi-puisinya diambil dari karya-karya penyair dunia yang meraih penghargaan Nobel Sastra, seperti Rabindranath Tagore, Derek Walcott, Pablo Neruda dan T.S. Eliot.
Karya musikalisasi puisi dengan tajuk “Oed' Un Leer Das Meer” itu dipentaskan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Bali di Denpasar, Selasa malam, 18 Juli 2023, serangkaian Festival Seni Bali Jani V tahun 2023.
Puisi-puisi yang dijadikan garapan musikalisasi puisi itu antara lain puisi “Dengan Satu Salam” karya Rabindranath Tagore terjemahan Anna Karina, “Peta Dunia Baru” karya Derek Walcott terjemahan Sapardi Djoko Damono, “Menjaga Hening” karya Pablo Neruda terjemahan Alit S. Rini dan “Tanah Pembuangan” karya T.S Eliot terjemahan Ahmad Yulden Erwin.

Pentas Musikalisasi Puisi “Oed' Un Leer Das Meer” Komunitas Budang Bading Badung | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2023
Kata-kata yang begitu puitis dan penuh renungan dari Rabindranath Tagore, atau kata-kata romatis yang begitu menyentuh hati dari Pablo Neruda, diolah dengan proses kreatif yang cukup panjang oleh anak-anak Komunitas Budang bading itu.
Yoga Anugraha sebagai music director dari Komunitas Budang Bading Badung menyebutkan proses alihwahana puisi-puisi itu memang penuh tantangan.
“Tantangan awal yang saya temui adalah proses dalam pembacaan puisi. Ada beberapa idiom menurut saya kurang tepat dalam penerjemahan yang mengakibatkan makna yang saya tangkap menjadi rancu,” kata Yoga.
Untuk menutupi kerancuan itu, Yoga merasa harus mencari puisi-puisi itu dalam bahasa sumber yang belum diterjemahkan. I abaca puisi itu, lalu mencoba membandingkan bahasa asli dengan bahasa yang telah diterjemahkan. Setelah dirasa cukup dalam pemaknaan terhadap puisi-puisi itu, kemudian dilanjutkan dengan proses aransemen.
Puisi “Peta Dunia Baru” secara garis besar ia tangkap punya kandungan emosi sedih, depresi, pasrah karena "si aku" melihat kampung halamannya tidak seperti dulu yang diakibatkan oleh penjajahan.
Puisi itu kemudian digarap dengan chord progression yang kadang tidak sesuai dengan family chord dan nada yang disharmoni. Ketidaksesuaian hubungan nada-nada yang membuat tidak nyaman di telinga bisa sebagai simbol atau semacam cerminan dari perasaan dan emosi yang bergejolak di dalam diri "si aku".

Pentas Musikalisasi Puisi “Oed' Un Leer Das Meer” Komunitas Budang Bading Badung | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2023
Puisi berjudul “Menjaga Hening” juga secara garis besar mengandung emosi sedih. Namun, dalam puisi ini Yoga menciptakan aransemen pada puisi ini dengan pendekatan yang unik, yakni pendekatan pada sifat kanak-kanak.
Dengan begitu, musikalisasi puisi dari puisi “Menjaga Hening” ini terasa menghanyutkan perasaan. Walau dipersepsikan puisi ini sebagai puisi sedih yang memprihatinkan, namun puisi itu digarap dengan sentuhan suasana "riang" dan "manis" sebagaimana karakter kanak-kanak yang polos dan jujur saat mengeluarkan isi hati.
Puisi “Dengan Satu Salam” dan “Tanah Pembuangan” dalam pementasan Komunitas Budang bading Badung itu diaransemen oleh Heri Windi Anggara.
Puisi “Dengan Satu Salam” digubah dengan sentuhan sepi dan khusyuk karena dialog yang dalam terhadap Tuhan. Puisi “Tanah Pembuangan” menjadi tantangan terberat karena puisi ini sangat panjang sampai 10 halaman.
Puisi “Tanah Pembuangan”i secara garis besar membicarakan orang yang sedang di ambang antara hidup dan mati. Heri menggubah sesuai dengan suasana puisi tersebut dengan berbeda-beda genre dan pola.

Pentas Musikalisasi Puisi “Oed' Un Leer Das Meer” Komunitas Budang Bading Badung | Foto: Tim Kreatif FSBJ 2023
Tampaknya proses yang dihadapi anak-anak Komunitas Budang Bading Badung ini, meski cukup berat, tapi memberikan pengalaman yang luar biasa. Mereka tampaknya belajar banyak dari kesalahan-kesalahan sebelumnya, sehingga pada pentas di Kalangan Ayodya itu anak-anak yang sebagian besar masih SMA itu tampak tampil dengan begitu matang.
“Pantang menyerah dan terus mau belajar atas kesalahan-kesalahan membuat mudah dalam berbagi apa yang telah saya dan Heri temukan dalam aransemen terhadap kawan-kawan,” kata Yoga.
Karena bagimana pun, kata Yoga, proses aransemen juga harus memikirkan kemampuan para pemain musik dan penyanyi agar sinergi lebih mudah dicapai.
“Sering juga kawan-kawan tidak sanggup mempresentasikan garapan, yang membuat kami harus mengganti sampai kawan-kawan bisa melakukannya, entah itu permainan alat instrumen maupun vokal,” ujar Yoga.
Pementasan di Kalangan Ayodya itu menggukan konsep pendekatan laut sebagai kehidupan, baik dari segi artistik maupun pola pemanggungan. Misalnya, bulan buatan sebagai penerangan dalam malam gelap. Bulan dimaknai sebagai harapan dan malam yang gelap dimaknai sebagai hidup yang kelam.
Pementasan ini juga dilengkapi mapping yang bukan sekadar tempelan, namun bisa menjadi pendukung untuk memperkuat emosi dan perasaan dari isi puisi yang dikemas dalam musikalisasi puisi itu.
Dan tampaknya, puisi-puisi yang dipanggungkan dengan konsep seperti itu bisa lebih mudah dirasakan dan dimaknai oleh penonton. Tampaknya memang begitu. [T]
SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan...
PADA zaman maya saat ini, seorang remaja tanpa menyentuh gadget atau handphone selama satu hari saja sudah termasuk hebat. Tapi di Desa Bungaya, Karangasem, Bali, ratusan remaja pu...
KESULITAN terbesar saya ketika harus membicarakan sajak-sajak Nuryana Asmaudi SA yang terkumpul dalam buku "Doa Bulan untuk Pungguk" (DBUP) adalah upaya menghilangkan bayang-bayang...
JIKA ingin melihat sejati-jatinya festival yang jujur, tanpa pesan ini-itu, tanpa pidato ini-itu, tanpa kampanye ini-itu, tanpa bau politik dan kekuasaan, tanpa EO dan panitia over...
MAHASISWA adalah sebutan untuk “siswa” dengan tambahan kata “maha” di depannya. Maha artinya besar. Mahasiswa tentu bukan lagi siswa biasa. Kehidupan siswa bisa bergantung pada or...
Cerpen: Made Adnyana Ole TUBUH mungil gadis itu ditusuk pedang cahaya ketika sinar purnama menerobos di sela ranting gaharu. Cahaya memantul dari tubuhnya hingga hutan kecil di tep...
IGAU andaikata rumput berwarna merah muda, sapi-sapi mungkin saja berwarna jingga. dan kau berdiri di atas batu kuning mengenakan sepatu hijau, menembaki aku dengan senapan buru l...
MASA KKN (Kuliah Kerja Nyata) kini sudah usai. Acara perpisahan di balai desa atau di lapangan umum sudah digelar dengan meriah, penuh canda sekaligus haru. Namun, setelah KKN buba...
MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali m...
BERBICARA sebagai orang awam, sembari turut menilai fenomena dan paradigma tentang berbagai hal yang terjadi di masyarakat, tentu dengan guyonan ringan ditambah dengan sruputan kop...