Terbang di Atas Sepi
“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusi...
DEWA RSI berpostur dan berwajah tua itu selalu memancarkan kebahagiaan bahkan dalam situasi paling genting sekalipun. Saat Mahadewa memimpin sidang para dewa karena menganggap bumi mayapada sedang menuju kehancuran.
"Harus ada yang turun ke dunia menjadi manusia!" Suara Mahadewa bergetar halus nenyusup ke telinga-telinga peserta sidang.
Para Dewa memejamkan matanya, memusatkan konsentrasinya masuk ke hulu hati, semuanya berusaha masuk dan masuk lebih ke dalam lagi sehingga masuk dalam alam meditasi. Dengan berada di alam meditasi para Dewa itu merasa terbebas dari lirikan mata Mahadewa yang tajam tak bisa ditolak.
Seperti yang berlaku di alam manusia, di alam para dewa pun Mahadewa sebagai dewa tertinggi pantang mengganggu para dewa yang sedang bermeditasi, walaupun dewa tertinggi itu tahu bermeditasi seringkali menjadi cara yang jitu bagi para dewa untuk menghindari tugas,
Bukankah khusyuk bermeditasi juga sebuah tugas, jadi boleh abai terhadap masalah yang terjadi karena ujung-ujungnya pasti akan mengarah pada pertanyaan. Siapa yang ditugaskan untuk menitis ke dunia?
Sebagian besar dewa tak ingin mendengar pertanyaan lagi, yang mereka mau dengar hanya jawaban.
Dewa A, B, C atau siapalah yang ditugaskan. Para dewa itu tahu kalau Mahadewa sudah menunjuk yang akan menitis, mereka akan terima, walau sebagian besar sebenarnya merasa lebih nyaman tinggal di sorgaloka ketimbang harus menjadi manusia di Mayapada, seberapapun kaya, hebat, kuat dan cerdasnya.
Sebelum rapatpun Mahadewa sudah tahu gosip di kalangan para dewa yang tak akan mau turun ke dunia karena sifat manusia jaman ini yang mendewakan uang.
“Kalaupun Dewa Keberlimpahan, Sri Sedana yang turun, orang-orang itu tak akan puas hanya meminta rejeki dari hasil kerjanya. Mereka akan meminta uang dan uang lagi, berseri-seri tak puas-puasnya. Tidak saja untuk makan hari ini, tapi untuk bisa makan bertahun-tahin ke depan, untuk anak cucu dan keturunannya, di tempat yang mewah dan mahal, tempat yang membuat mereka bisa merasa seperti dewa" kata seorang dewa sinis.
"Ya benar, manusia saat ini tidak menghormati dewa sebagai manisfestasi Tuhan. Manusia memuja dewa bukan untuk meminta bantuan, anugrah atau berkah, mereka memaksa para dewa untuk memenuhi keinginan-keinginan mereka dengan berbagai cara. Manusia memanfaatkan kebaikan hati para dewa," kata dewa yang lain serius.
"Kalau menunjukkan keajaiban-keajabian, manusia akan meminta dengan gratis rumus-runus membuat keajaiban, ada yang akan mengakui rumus itu sebagai miliknya, ada yang menjualnya, yang lain akan mempromosikan secara besar-besaran agar mendapat keuntungan uang berlipat ganda." Kata dewa yang lain lagi.
"Bahkan kini banyak yang mengaku kerasukan dewa ini dewa itu, dan tanpa sungkan dan malu-malu meminta upacara begini dan begitu atas nama dewa-dewa, bahkan menjanjikan kesembuhan, kesejahteraan, kesaktian dan sorga," tambah yang lain.
Dari desas-desus isi hati para dewa, Mahadewa telah mendapat kesimpulan bahwa tak ada dewa yang bersedia menitis ke dunia yang gawat bergawat ini, walau dijanjikan karma baik yang berlipat ganda. Bagi para dewa, alih-alih bisa memperbaiki karma, bisa-bisa dewa yang turun akan terpelosok ke jurang kenikmatan duniawi yang tak berbatas. Mereka bisa saja masuk dan terjebak ke dalam dunia maya yang memberi banyak kemudahan, keindahan, kenyamanan, keterkenalan, kekuasaan yang memabukkan.
Mahadewa belum menunjuk, beliau mencoba bersikap demokratis dengan meminta kerelaan para peserta rapat. Tapi dewa-dewa itu tak bergeming, menjadikan meditasi sebagai kedok untuk menghindar. Mahadewa berusaha menahan kenarahannya. Dewa Rsi Naradha tahu itu, dengan sigap bersikap.
Dewa Rsi periang itu tak kehabisan ide untuk menyebar kelucuan-kelucuan dalam meditasi para Dewa. Diputarnya film-film perkembangan otak manusia tubuh dan sikapnya, usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya.
Dari berjalan merangkak, memakai kaki dan tangan sebagai tumpuan, manusia berusaha berdiri tegak dan memusatkan tuampuan pada kedua kaki, bergiliran kiri dan kanan saat berjalan atau berlari.
Tiba-tiba semua dewa tertawa terpingkal-pingkal, Naradha Dewa Rsi itu menunjukkan evolusi prilaku manusia yang dipercepat.
"Wah setelah mampu berdiri tegak dan berlari, manusia berusaha menjadi burung, agar bisa terbang, tapi lihatlah wajah mereka jadi aneh, dengan otak yang diperbesar kepalanya juga jadi besar, mata besar, telinga, hidung, mulut yang besar panjang dan lebar, sungguh aneh dan lucu sekali hahahaha." Tawa para dewa menjadi riuh, sangat riuh.
"Tapi lihatlah dengan tangan dan kaki manusia mengecil, hanya perut yang membuncit, bagaimana bisa berjalan dan berlari, berdiripun sulit, akhirnya hanya meringkuk seperti ular berpindah tempat dengan merayap."
"Wah sama sekali berbeda dengan rancangan manusia karya Dewa Wisma Karma yang memenangkan lomba desain manusia di sorga, " celetuk seorang dewa. Dewa lain tertawa.
Mahadewa ikut memejamkan matanya. Dengan mata ketiganya beliau menembus ketulusan hati para dewa dan dewi yang di sorga. Ada seorang dewa yang dipandang cocok menjalankan tugas ini, tapi yang bersangkutan tak ikut rapat karena sedang ijin menjalani tapa penebusan dosa bagi orang-orang menjahatinya saat kehidupannya di dunia. Ya, Mahadewa yakin keponakannya tersayang putra adikkanya Dewa Iswara dengan Dewi Uma bisa menjalankan tugas maha berat ini.
"Tapi bagaimana cara menugaskannya aku tak mau melanggar etika karena mengganggu tapanya." Hanya selintas tanya berkelebat, dengan cepat Mahadewa menemukan cara, Naradha tersenyum penuh arti sambil mendendangkan lagu-lagunya yang jenaka.
"Kalau seorang dewa atau dewi harus menitis, apakah akan seperti bintang film dan ratu kecantikan itu, bagaimanakah titisan itu dibedakan dengan gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda tampan itu, kira-kira wajahnya seperti apa ya, apakah akan berpakaian keemasan seperti di sorga, pasti akan jadi sasaran para penjahat hihihi." Seorang dewa berbisik sambil tertawa geli mulai membuka matanya. Dewa-dewa yang lain mulai berani membuka matanya merasa sudah aman, karena pasti Mahadewa sudah mempunyai pilihan.
Sebelum rapat menjadi ramai dengan suara-suara usulan para dewa terkait wajah dan penampilan sang titisan, Naradha sudah menyampaikannya lewat lagu.
Yang akan turun adalah Dewi Uma menjadi perempuan biasa yang buta. Para dewa tercengang. Mereka sama sekali tak bisa membayangkan bagaimana jadinya seorang dewi yang berhati lembut, keibuan dan penuh cinta kasih itu hidup di dunia penuh tipu daya.
Para dewa benar-benar berasa tak tega. Tapi sebagian besar dewa .menarik nafas lega, merasa terhindar dari tugas berat. Saat yang ditunjuk menyatakan kesediaannya, sidang berubah menjadi isak tangis,, suasana menjadi sangat melankolis. Banyakndewa dan dewi yang merasa tak tega.
"Karena istri hamba menitis menjadi perempuan biasa yang buta, hamba juga ikut menitis menjadi lelaki biasa yang bisu tuli, " kata Dewa Iswara. Kata-katanya memancarkan cahaya putih, cahaya cinta kasih yang suci, dan tulus, menyebar memenuhi ruangan mengisi bilik-bilik hati menjadi nafas, nembasuh kekotoran pikiran, jiwa dan raga.
Dewa-dewa yang lain terkesima, Mahadewa tersenyum sangat paham kebijaksanaan adiknya itu Karena adik dan adik iparnya turun, sudah pasti anaknya akan terseret turun juga.
Mahadewa tersenyum puas, apa yang drencankannya berjalan mulus, keponakan tersayangnya yang diandalkannya pasti akan menitis juga dengan suka hati dan rasa patriotik yang tinggi sebagai rasa baktinya pada ayah ibunya.
Tapi di hati kecilnya Mahadewa sedikit merasa tak enak hati, merasa bersalah telah memperdaya adik dan iparnya. Mahadewa juga merasa sedih kalau terlalu lama berpisah dengan keponakanan yang sudah seperti anaknya sendiri itu.
"Baiklah aku akan menitis juga. Aku akan menitis sebagai gajah," kata Mahadewa.
Dewa-dewa riuh. Dewa Rsi Naradha tercekat, tapi bisa memotong sabda yang telah diucapkan oleh Mahadewa.
"Bagaimana perempuan yang buta bisa mengenali gajah itu sebagai Mahadewa, bagaimana suami yang bisu tuli akan memberirahu istrinya bahwa gajah itu adalah Mahadewa.
Dewa-dewa saling pandang, tanpa dikomando, mereka membuat kesepakatan, bahwa para dewa-dewa yang lain pun akan turun menitis ke marcapada. Para Dewa dan dewi itu secara bergiliran akan membantu Dewi Uma yang buta agar benar-benar mengenal gajah Mahadewa itu lewat suara, bau, sentuhan dan kilatan cahaya.
Para Dewa bersama suaminya akan menjaga Sang Dewi yang buta agar terindar dari injakan gajah. Para dewa dengan penuh sukacita dan bersemangat melatihnya untuk menaiki dan mengendalikan gajah itu agar bisa pergi kemana saja Dengan menaiki gajah dewi yang buta akan aman dari serangan penjahat.
Mahadewa tersenyum bahagia. Pilihan untuk meminta adik iparnya menjadi perempuan buta, membuat adiknya memilih menjadi lelaki bisu tuli, dan dirinya yang menitis menjadi gajah menjadikan dewa-dewi di sorga dengan rela dan suka cita beramai-ramai-ramai menitis ke mayapada. [T]
[][][]
“Kalau gak sabar, silakan terbang di atas sepi.” Tulisan di bak truk itu mungkin lahir dari kemacetan. Dari jalan yang penuh klakson, pengendara yang saling serobot, dan manusi...
SETELAH mencuri perhatian sebagai unit rock tunanetra asal Bali lewat single “Keidela”, “I’m a Fire”, dan “3”, kini Filla memasuki babak baru dalam perjalanan musiknya. Grup yang...
DATA BPS Februari 2026 membuat kita harus berhenti pura-pura tidak hirau: tingkat pengangguran terbuka lulusan SMK 8.62%..! Tertinggi dari semua jenjang Pendidikan. Kalahkan...
Jejak Kehidupan Tiga Ilmuwan Penjaga Sistem Imun Dunia ilmu pengetahuan sering melahirkan tokoh-tokoh besar yang bekerja dalam kesunyian laboratorium, jauh dari sorotan publik....
DUNIA saat ini sedang dilanda berbagai bencana alam yang mengerikan dan akan menghadapi suatu bencana yang amat sangat mengerikan bila perkembangan teknologi tidak terkendali dan...
HAL yang paling menyiksa bagi para perokok adalah ketika bangun tengah malam dan mendapati bungkus rokok kosong di atas meja. Hampa begitu terasa. Jam menunjukkan lewat satu dini...
MAHASISWA Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali) Kelompok VI Tahun 2026 sukses menyelenggarakan serangkaian program pengabdian masyarakat...
— Mengenang Kembali Pohon Pesisir yang Dimuliakan Danghyang Nirartha Oleh: Sugi Lanus Di sepanjang garis pantai pulau Serangan dan pantai-pantai di Bali dimuliakan dan dilin...
DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas merupakan fondasi utama...
MEMILIKI seorang anak yang sehat, cerdas, dan saleh tentu membahagiakan bagi Krisna Malika dan Riana Dewanti. Anak pertama mereka, Arkanda Rayana berusia lima tahun. Masih duduk d...