“Jesus Bless You” – Tentang Saya dan Agama
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
MELUKIS itu tampak gampang di mata tapi sulit di tangan. Dan kalau melukis di kanvas saja sulit, apalagi, misalnya, melukis di atas lontar. Tapi, yang sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Nyatanya, sosok pelukis muda yang satu ini cincai-cincai saja saat melakukannya.
Melukis (menggambar) di atas lontar (seni lukis prasi) tentu bukan sesuatu yang baru. Seni yang dikerjakan dengan pengrupak---pisau khusus khas Bali---itu memang sudah dilakukan leluhur Nusantara dulu---di Bali bahkan masih dilestarikan sampai hari ini. Tetapi, di zaman sekarang, tampaknya seni lukis di atas lontar ini belum cukup mendapat perhatian.
Adalah Putu Dudik Ariawan, pelukis kelahiran Kaliasem, 24 Juni 1996, itu termasuk sedikit seniman yang banyak mengeksplorasi daun lontar. Menurutnya, nilai-nilai lontar memiliki aura mistis-magis, kuno, dan sakral.
Dudik---panggilan akrabnya---tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat---sampai memasuki ruang-ruang terkecil kehidupan manusia---dan hal ini memiliki pengaruh besar terhadap caranya memandang lontar.
Ia merasa bahwa banyak orang memandang lontar sebagai benda mistis dan tidak tersentuh, padahal lontar adalah sebuah jembatan untuk mengakses pengetahuan, catatan sejarah, sampai karya seni. “Melalui seni lukis, saya ingin memaknai ulang daun-daun yang dianggap sakral tersebut,” ujarnya kepada Tatkala.co, Kamis (6/7/2023) siang.
Tetapi,seperti umumnya seniman lukis, Dudik, pelukis muda dari Banjar Dinas Lebah, Desa Kaliasem, Kecamatan Banjar, Sigaraja, Bali, itu sebelum tertarik dengan seni lukis prasi, ia mengaku menekuni seni lukis aliran realis dan melukis di kanvas terlebih dahulu---ia melukis wajah seseorang dan peristiwa sama bagusnya dengan hasil foto kamera keluaran terbaru.

Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik
Dilansir dari Invaluable, seni lukis realis adalah gerakan seni modern pertama yang dimulai di Perancis sekitar tahun 1840. Realisme adalah aliran seni lukis yang melukiskan hal-hal dalam kehidupan sehari-hari seperti aslinya dan tampak nyata. Tokoh seni lukis beraliran realisme adalah Andrew Wyeth, Edward Hopper, Thomas Eakins, Gustave Courbet, Adolphe Bougeureau, Ivan Kramskot, Gustove Corbet, Adolph Menzel, dan Jean-Francois Millet.
“Awalnya tetap melukis di kanvas. Saya melukis di kanvas sejak SMA. Dan gaya saya dari dulu---dari SMK---memang realis, walau sekarang agak bercampur dengan surealis,” kata Dudik sambil tertawa.


Lukisan karya Dudik Ariawan / Foto: Dok. Dudik
Seniman yang baru saja menjadi seorang ayah itu, mengaku menyukai seni gambar sejak SD. Ia menggambar nyaris di semua buku pelajaran. “Hobi saya memang menggambar, sejak SD, dan sering ikut lomba menggambar waktu itu. Dan SMP saya ikut ekstra lukis, SMK mulai mendalaminya,” ujar perupa alumni jurusan Seni Lukis SMKN 1 Sukasada itu.
Sebagai seorang pelukis, Dudik bisa dikatakan seniman yang berprestasi. Hal ini dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang diperolehnya, seperti penghargaan Karya Cat Air Terbaik I pada Workshop “Water Colour” 2015, juara II Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2015, juara I Lomba Melukis Buleleng Bali Dive Festival “BBDF” 2016, juara 1 Drawing Contest UN International Day of Peace 2019, dan sebagai Finalist Titian Prize 2020.
Pada tahun 2019, dalam Pameran “Kata Rupa” di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Center Denpasar, Dudik pernah mencoba mengakutualisasi puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak---puisi yang terhimpun dalam buku Lagu Pemacu Ombak (1978)---ke dalam sebuah lukisan.

Lukisan karya Dudik Ariawan merespon puisi Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul Pemacu Ombak / Foto: Dok. Dudik
“Merespon karya penyair sebenarnya di luar kebiasaan saya dalam berkarya, tapi itulah tantangannya. Waktu itu saya mesti mencari geografi Sutan Takdir untuk menebak pesan apa yang ingin disampaikan dalam puisinya itu,” ujar Dudik.
Ketertarikan terhadap lontar
Dudik mulai jatuh cinta terhadap seni prasi sejak menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Pada masa kuliah, ia tidak hanya mendapat berbagai teknik melukis di kelas, tetapi juga soal benturan wacana di lingkungan pergaulannya di kampus dan luar kampus.
Salah satu hal yang membuatnya tertarik dengan lukisan daun lontar adalah cara kerja melukis di daun lontar berbeda dengan melukis pada umumnya. Ia menyebut, melukis di atas daun lontar sebagai “seni melukai”.
Dalam dunia lukis pada umumnya, perupa bisa langsung melihat torehan garis yang ia buat. Tetapi pada daun lontar, garis tidak langsung terlihat. Sebab, melukis di daun lontar menggunakan alat-alat berupa pisau kecil yang disebut pengerupak dan kemiri yang sudah diolah.


Lukisan Dudik Ariawan di atas lontar / Foto: Dok. Dudik
“Pisau ditoreh untuk membuat garis demi garis dan pada proses ini, garis belum terlihat, baru setelah daun lontar dipoles dengan kemiri, hasilnya terlihat,” jelas Dudik.
Dalam proses mendekatkan diri dengan media lontar, Dudik mulai berkunjung ke Gedong Kirtya---museum yang mengoleksi lontar warisan lelulur---yang terletak di Kota Singaraja, Bali. Tak hanya itu, ia juga membaca dan mempelajari sebuah buku berjudul Mengenal Prasi (1979) yang ditulis oleh I Ketut Suwidja.
“Melukis di daun lontar atau seni prasi sesungguhnya sudah ada sejak lama, tapi sebagian besar berkisah tentang cerita pewayangan dan gambarnya per helai daun, mirip komik,” katanya.

Dudik memang belajar dari lontar yang sudah ada, tapi tidak terpaku pada gaya lama. Sebab, ia sadar betul bahwa pelukis dahulu dan dirinya memiliki cara pandang berbeda terhadap dunia.
Karya-karya Dudik di atas lontar banyak berbicara mengenai isu-isu terkini---dan itu adalah salah satu langkahnya untuk meruntuhkan tembok mistis, sakralitas lontar. Hal ini sekaligus jalan untuk mengajak banyak orang masuk pada substansi lontar dan tidak memandang lontar hanya sebagai benda eksotis semata.

Berbagai kegiatan yang berkaitan dengan seni prasi mewarnai proses Dudik dalam berkarya, seperti Pameran Titian Prize 2020 di Titian Art Space, Ubud Bali;Pameran Prasi “Contemporary Palm Leaf Work in Soutsheast Asia” di Center for the book Sanfancisco Amerika Serikat tahun 2019; dan Pameran Prasi “(O)P(E)Rasi” di Santrian Gallery tahun 2018.

Lukisan Dudik Ariawan dalam Pameran "Politik Titik Titik" Tatkala May May May 2023 / Foto: Dok. Dudik
Tak hanya itu, soal pameran, dari mulai tahun 2014 sampai 2023, Dudik memang sudah memiliki banyak pengalaman, di antaranya, yang terbaru, Pameran “Politik Titik Titik” serangkaian Tatkala May May May 2023 di Rumah Belajar Komunitas Mahima, Singaraja, Bali.
Dari hobi menjadi profesi
Tak seperti kebanyakan alumni Pendidikan Seni Rupa Undiksha, yang ketika lulus memilih jadi guru, Dudik memilih menjadi seniman. Ia percaya seni bisa menghidupinya dan keluarga kecilnya. Keyakinannya itu tumbuh sejak ia kuliah, tepatnya sejak ia mulai menghasilkan uang dari lukisannya. “Saya berusaha mengubah hobi menjadi profesi,” katanya.
Tak mudah memang, mengingat, Dudik hidup di tengah masyarakat yang masih memiliki pola pikir bahwa seni tak banyak menghasilkan materi.
Mayoritas masyarakat kita memang masih berpikir bahwa profesi seniman itu tak lebih baik daripada PNS, guru, dokter, pilot, polisi, tentara, dan profesi-profesi lain yang dinilai lebih mudah mendapatkan uang---profesi yang jelas-jelas saja.
Tetapi, Dudik percaya, bahwa hobinya, apa yang ia tekuni, juga bisa menghasilkan. Terbukti, sampai hari ini, ia masih banyak menerima pesanan lukisan. Dudik mengaku memasarkan lukisannya di media online. “Banyak pesanan dari hotel, perusahaan-perusahaan, dll,” pungkasnya.[T]
SAYA suka lagu-lagu yang memberikan getaran yang baik pada suasana hati dan hidup saya. Karena itu saya menggunakan aplikasi karaoke di smartphone untuk memudahkan saya menyanyi di...
ADA semacam protes di media sosial, kenapa wayang wong, sebagai kesenian klasik adiluhung yang baru saja ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda, justru dipe...
SEPAK bola kampung kini hanya fosil ingatan. Mungkin karena kampung selalu dirundung revolusi yang dialirkan zaman. Sawah-sawah, bahkan kebun yang dulu menjadi arena laga sepak bol...
KINI sudah masuk tahun ajaran baru. Sejumlah kampus sudah bersiap-siap menghadapi mahasiswa baru. Tentu, semua tahu, hari-hari pertama mahasiswa baru disibukkan dengan orientasi ka...
BEGITU puluhan penari memasuki panggung di depan Tugu Singa Ambara Raja, sore menjelang senja di Singaraja terasa lebih berwarna dari biasanya. Warna-warna itu bukan hanya memancar...
Judul Buku: Sayap Anjing (Kumpulan Cerpen) # Penulis: Triyanto Triwikromo #Halaman: 144 pages # Penerbit: Buku Kompas # Tahun: 2003 # ISBN: 9797090914 (ISBN13: 9789797090913) /...
BULELENG Festival (Bulfest) dibuka 2 Agustus ini dan akan berlangsung 6 Agustus 2016. Ini Bulfest keempatkali sejak digelar pertamakali, Agustus 2013. Di Bali, Bulfest memiliki gem...
Ini pengalaman ketika saya mengajar di sebuah sekolah dasar di Alor, NTT, sebagai guru dalam program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal). SEPERTI b...
MISI belum tuntas! Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan terus bikin kegiatan. Setelah terlaksananya acara Festival Puisi Bangkalan, 20-21 Mei 2016, kini tengah bersiap-siap mengge...
SIAPA saja yang suka memuji dan mengagung-agungkan Bali, pasti bertemu subak. Mereka yang berniat mengikuti alur jejak watak manusia Bali, seyogyanya juga mengakrabi subak. Bagaima...