I Putu Agus Phebi Rosadi# Tiga Rahasia Keluarga
TIGA RAHASIA KELUARGA -Cerita dari MHP Liur Ular Papa Di keluarga kita Anak bujang tak pantas bersedih Bila hanya cinta bertolak Ke rumah tua ke pusar rahasia keluarga Di...
MATAHARI MASIH belum bangun saat saya berada di desa Munduk, percabangan jalan menuju Danau Tamblingan. Udara dingin seketika menyelimuti tubuh saat kaca mobil diturunkan. Masih gelap. Dingin dan gelap mengaburkan fenomena waktu yang faktanya sudah pukul 05.10 pagi saat saya sudah benar-benar memarkirkan mobil di pinggir danau itu.
Banyak hal yang sama tetapi ada juga yang berbeda di Tamblingan jika dibandingkan enam tahun yang lalu di saat saya terakhir kali mengambil gambar di tempat itu: tenda-tenda perkemahan yang sangat ramai.
Saya berjalan ke titik yang sama. Titik di mana ritual bulanan rutin pernah saya lakukan selama tiga tahun, untuk mengambil gambar yang sama dari titik yang sama. Tidak seperti sekarang, titik itu dulu agak tersembunyi.
Saya mempersiapkan semuanya dari memasang tripod, menyeting kamera, dan menggelar matras untuk ikut menikmati matahari pagi yang beberapa menit lagi akan muncul. Sambil membayangkan lanskap masa lalu yang indah, harapannya, semburat matahari pagi yang menyinari danau kali ini akan menghadiahkan lanskap yang juga indah.
Lanskap yang muncul akibat komposisi sudut cahaya, awan, gerakan air danau dipengaruhi oleh angin. Harapannya, kalau bisa, jauh lebih indah dari yang pernah dirasakan. Tetapi, itu hanyalah sebatas imajinasi.


Lanskap Danau Tamblingan / Foto: Dok. Krisna Aji
Imajinasi manusia memang liar. Imajinasi sering kali terlampau angkuh dengan mencoba mengontrol keindahan alam yang sejatinya tidak bisa dikontrol. Bahkan, jika pada akhirnya realita tidak sesuai dengan imajinasi, masih ada alat bantu untuk membuat realita baru di atas bidang dua dimensi bernama photoshop.
Alat bantu untuk mereproduksi realita tersebut sudah dikembangkan dengan kecerdasan buatan yang mampu mengubah bentuk visual dengan algoritma yang disesuaikan dengan data-data mengenai standar keindahan.
Walaupun belum canggih betul, suatu saat nanti, teknologi seperti ini akan berkembang dengan kemajuan eksponensial sehingga produk dari kecerdasan buatan tidak bisa dibedakan dengan ciptaan manusia.
Hal tersebut tentu menarik karena kecerdasan buatan dapat menggantikan peran subjek utama dalam penciptaan produk yang awalnya dipegang oleh manusia. Lalu, bagaimana dengan seni yang memerlukan manusia sebagai subjek utama dalam menghasilkan karya?
Bagaimana kita bisa tahu bahwa produk di depan kita adalah sebuah karya seni atau tidak jika produk kecerdasan buatan dan karya manusia pada akhirnya tidak bisa dibedakan?
***
Di sela kesibukan pikiran yang berkecamuk, cahaya pagi tiba-tiba muncul bersamaan dengan matahari yang sudah berada di sudut lebih tinggi dari yang dibayangkan. Harapan tidak sesuai dengan realita.
Warna-warna ekstrem tidak timbul di waktu kritis, karena kemolekan warna hanya bisa hadir saat cahaya datang dari sudut yang rendah. Tiba-tiba saja, cahaya putih kuning biasa-biasa saja yang muncul. Tidak ada realita yang istimewa.

Lanskap Danau Tamblingan / Foto: Dok. Krisna Aji
Keistimewaan ternyata hanya ada di dalam diri yang memandangi realita yang muncul sesukanya. Atas dasar tersebut, setingan dasar kamera---agar menghasilkan foto mentah yang bisa dengan bebas diedit di layar laptop---tidak lagi digunakan.
Kamera hanya menggunakan mode hitam putih sehingga proses foto akan terhenti seketika tombol shutter ditekan. Tidak ada lagi koreksi di layar laptop. Fenomena terhenti saat pengamat memutuskannya di lokasi.
Danau Tamblingan, 11 Juni 2023.[T]
TIGA RAHASIA KELUARGA -Cerita dari MHP Liur Ular Papa Di keluarga kita Anak bujang tak pantas bersedih Bila hanya cinta bertolak Ke rumah tua ke pusar rahasia keluarga Di...
DALAM konser promo album grup musik Ake Buleleng di Gedung Kesenian Singaraja, Kamis 2 Maret 2017 malam, semua timpal ake datang. Mereka bersorak, mereka ikut bernyanyi. Timpal ak...
KEMANA angin berhembus? Pertanyaan ini diam-diam meliputi pikiran kita yang belakangan dibooming framing seru di media massa: lawatan raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz Al Saud...
DIDAULAT menjadi penerima hadiah Sastera Rancage tahun 2017, saya merasakan dua hal sekaligus yang bertolak belakang. Saya merasa senang, di sisi lain saya juga merasa malu. Secar...
Judul : Perempuan Yang Dihapus Namanya Penulis : Avianti Armand Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama Terbit : cetakan pertama Januari 2017 ISBN : 978-602-0337-135 “..Peremp...
BANYAK yang tahu, dalam rangka menyambut hari jadi ke-229 Kota Denpasar, digelar berbagai kegiatan tanggal 27 Februari – 3 Maret 2017. Banyak juga yang tahu, tapi belum pernah data...
PENDIDIKAN harus diperjuangkan, seterjal apa pun jalan menuju tempat belajar. Karena pendidikan tak cukup selesai diperbincangkan di meja birokrasi dan di meja sidang wakil rakyat....
TATO masih dianggap hal tabu, buduh, dan menjijikkan, bagi sebagian orang. Bahkan dianggap pelanggaran dalam kehidupan satu lembaga. Buktinya, banyak pekerjaan menutup diri dari ta...
MANUSIA adalah makhluk sosial. Manusia yang satu tidak bisa hidup tanpa adanya manusia lain. Oleh karena itu, di usiamu yang masih muda ini, banyak-banyaklah mencari teman agar hi...
ALBERT Einstein pernah berkata bahwa setiap anak itu genius. Jika semua anak diibaratkan ikan air laut yang harus hidup di air tawar, semestinya sekolah harus dikritisi bahkan haru...